Chapter depan maturenya rinci banget seriusan. Mau double? Komen dulu yang banyak wlee.
•••
Waktu sore sudah lama beranjak pergi, jam tangan Jay menunjukkan pukul sepuluh malam. Tapi di dalam ruangan bercat putih ini, tidak ada orang lain selain dirinya. Jungwon belum pulang di hari selarut ini.
Jay duduk termenung di sebuah kursi kulit berwarna hitam, dengan sandaran tebal berisi busa-busa empuk. Kursi itu berkaki tiga, dengan sebuah tuas untuk mengatur tinggi rendahnya posisi kursi.
Di hadapannya tergeletak meja besar dan sebuah laptop dengan keadaan terbuka. Layarnya memancarkan cahaya warna-warni yang tertangkap sedikit dari posisinya duduk. Setumpuk map tebal menambah pemandangan di samping laptopnya yang terabaikan.
Ia terlihat gusar. Matanya terasa berat dan beberapa kali memegangi kepalanya, sesuatu seperti menggelayut di kepalanya yang pening.
"Kalau tau begini, aku nggak akan izinin Jungwon pulang sendiri." Jay menghela nafas kesal berulang kali.
Pasalnya tiba-tiba saat supir keluarga menjemput Jungwon di kampus, istrinya itu sudah tidak ada. Baru mengabari satu jam kemudian dengan mengatakan kalau dia ada urusan mendadak dengan temannya sehingga harus pulang terlambat.
Mungkin kesalahan Jungwon masih bisa ditoleransi jika pulang sebelum jam makan malam, tapi ... Apa yang terjadi? Bahkan, saat seharusnya mereka sudah tertidur pun Jungwon belum kembali ke rumah.
Jay mematikan laptopnya dan berjalan lunglai keluar dari ruang kerjanya menuju kamar mereka yang ada di sebelah. Petir terdengar samar dari arah luar, Jay mendekat ke arah jendela lalu membuka tirainya sebagian. Langit berwarna merah gelap, gemuruh saling bersahutan. Padahal dari pagi sampai sore hari tadi cuaca cenderung panas.
Dia melirik jam tangannya sekali lagi sebelum melepas benda itu dan menaruhnya di atas meja. Jay merogoh sakunya, berusaha menghubungi Jungwon lagi.
"Angkat, Dek," gumam Jay khawatir. Berkali-kali dia terus menghubungi nomor Jungwon, tak ada satupun yang dijawab oleh istrinya itu.
Dia terlentang menghadap langit-langit ruang sambil memegangi ponselnya. Perlahan matanya mulai tertutup dan bernafas dengan teratur, dia tertidur. Padahal sudah puluhan kali Jay mencoba untuk menahan kantuknya, tapi akhirnya dia tetap saja kalah.
Denting jam hampir mendekati 12 tengah malam, pertanda akan terjadi pergantian hari sebentar lagi. Hanya tinggal hitungan menit, tanggal 19 akan berubah menjadi tanggal 20 April.
Tepat di hari ulangtahun Jay.
•••
"Jangan bohong, Bam!"
Jungwon berteriak saat Bami terus menerus berkata kalau dia tidak mengetahui kemana Heeseung menghilang. Bami mengatakan, kalau keberadaan lelaki itu tiba-tiba lenyap tanpa kabar.
"Lo mending pulang, udah malem!" sentak Bami mendorong bahu Jungwon agar keluar dari kamar kosnya.
"Aku pasti pulang!" Jungwon menahan tangan Bami. "Asalkan kamu kasih tau dimana Hesa sekarang, Bam."
"Gua nggak tau!" Bami tetap teguh pada pendiriannya.
"Aku liat Hesa di Jakarta!" Jungwon mengucapkan itu lumayan kencang, sehingga membuat Bami menghentikan aksi mendorongnya dan menatap Jungwon.
"Itu halusinasi, lo kebanyakan mikirin Hesa makanya begitu."
"Bukan!" Jungwon berontak, dia menunjukkan foto yang sempat dia ambil waktu itu dan menunjukkannya pada Bami yang tidak percaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lengkara ; Jaywon (✓)
Fanfiction"Maaf. Aku udah lancang jadiin kamu harapan hidup, Won." *** Jungwon Safi Haningrat, seorang mahasiswa gizi menjalin hubungan dengan Heeseung Sanu Atalarik, lelaki yang terkenal memiliki banyak sisi buruk dan musuh di kampus. Mereka berpacaran seper...
