Vote dan komen jangan lupa. Mau double engga?
•••
Hari ketiga libur ke kampus terasa amat sangat membosankan bagi Jungwon. Padahal seharusnya hanya dua hari, tetapi dirinya masih malu jika datang dengan banyak bercak merah di leher dan cara berjalannya yang aneh.
Jungwon terbangun, atau lebih tepatnya dibangunkan pagi-pagi buta oleh Jay, tapi setelah selesai sarapan bersama, dirinya malah diabaikan begitu saja karena Jay sedang asyik bercengkerama dengan seseorang dari balik telfon genggamnya.
"Kak Jay.." rengek Jungwon dari atas sofa, dia menatap Jay dengan mata berair.
Jay menoleh, dia bergegas mematikan sambungan telfon dan mendekat ke arah istrinya yang tampak seperti orang kehilangan harapan hidup.
"Ya, kenapa?"
"Mau berangkat ke kampus, mau keluar rumah! Bosannn!"
Jay menggeleng. "Kakak nggak izinin kamu ngampus hari ini, kamu masih sakit."
Jungwon mendelik. "Jungwon bukan anak kecil!"
Sebelum sempat Jungwon beranjak dari tempatnya, Jay lebih dulu menyela pergerakan pemuda itu dengan cekalan tangan.
"Aku punya hak. kamu istri aku, dan kewajiban seorang istri adalah nurutin perkataan suaminya. Sekarang duduk!"
Dengan sangat terpaksa, Jungwon kembali duduk dan menekuk wajahnya ke bawah. Malas sekali meladeni Jay jika sudah dalam mode tegas begini, auranya menyeramkan-- dan menyebalkan.
"Mau ikut ke kantor?"
"Kak Jay nggak boleh berangkat kerja hari ini, temenin Jungwon aja di rumah."
"Nggak bisa, Dek. Hari ini--" Jay tidak bisa menyelesaikan perkataanya sebab Jungwon menatapnya sedih dan berkaca-kaca, kelihatannya jahat sekali kalau dia tidak menyanggupi permintaan Jungwon yang terkesan sederhana.
"Jangan pergi ke kantor.." Jungwon sangat memohon pada Jay.
"Aku mohon ngerti, ya? Aku harus datang meeting satu jam lagi, dan nggak bisa ditunda apalagi dibatalkan."
Jungwon menunduk lesu. "Jadi, meeting itu lebih penting dari Jungwon?"
Jay menyamakan tingginya dengan Jungwon seraya tersenyum lembut. "Bukan begitu.. kamu itu segalanya. Kakak janji meetingnya cuma sebentar, lalu setelah itu langsung pulang ke rumah."
Jungwon balas menatap Jay. "Benar, ya?"
"Iya, tapi dengan satu syarat." Jay menginterupsi kesenangan Jungwon.
"Apa?" tanggap Jungwon.
"Kamu harus minum vitamin dulu, udah dua hari ini kamu nggak minum itu." Jay menyeringai, sedangkan Jungwon langsung menggelengkan kepalanya ribut.
"Jungwon nggak mau minum vitaminnya, mual!"
"Jangan bandel, katanya mau usaha bareng-bareng?"
Jungwon mendengus, sialan. Mungkinkah ini adalah definisi sesungguhnya dari senjata makan tuan? Kenapa Jay begitu percaya kalau Jungwon ingin mempunyai anak darinya?
"Iya-iya, nanti Jungwon minum!"
•••
Jungwon melirik keberadaan Jay yang sedang memakai dasi di depan cermin besar. Dia ikut berdiri dan membuka laci di sampingnya untuk mengeluarkan sebuah amplop coklat yang ia ambil dari ruang kerja Jay di kantor waktu itu.
"Kak, aku mau ngomong sebentar."
Jay melihat jam tangannya, dia masih punya 5-10 menit untuk mendengar apa yang ingin Jungwon katakan. "Cepat, ya."
Merasa diberikan kesempatan untuk bicara, Jungwon menunjukkan amplop coklat yang sebelumnya dia sembunyikan dibalik punggung. Mata Jay membola, jelas dia tau apa isi dari amplop yang dipegang Jungwon. Bagaimana bisa?
"Dilihat dari ekspresi wajah Kak Jay, pasti Kakak udah tau apa isinya. Singkat aja sebenarnya, Jungwon pengen Kak Jay nggak nolak yang ini."
"Aku nggak bisa. Jangan paksa aku terima itu, Won.." ujar Jay lirih.
"Tolong, Kak. Kak Jay nggak boleh menghindar terus dari kenyataan, suatu saat dampaknya malah lebih besar."
"Apa Kak Jay nggak berpikir, kalau nanti kita berhasil; aku hamil. Lalu, kondisi Kakak drop dan ninggalin Jungwon sendirian?" Jungwon berdiri di depan Jay lalu menumpukan tangannya pada dada bidang lelaki itu.
Jay dilanda kebimbangan yang luar biasa. Di satu sisi perkataan Jungwon benar adanya, tapi di sisi lain pula Jay takut kalau justru akan meninggalkan Jungwon dalam waktu dekat ini.
"Jungwon ... Kita bicarain ini nanti, aku sama sekali belum siap." Jay hendak pergi, dia memakai jas formalnya dengan tergesa, dan tanpa sadar menepis tangan Jungwon secara kasar.
Jungwon memegang punggung tangannya yang sehabis ditepis oleh Jay. "Kak Jay harus tau mau dibawa kemana hidup Kakak dan segera buat keputusan!"
Jay berbalik dan memegang pergelangan tangan Jungwon. "Mau tau jawaban aku apa? Aku tolak semua itu karena takut ninggalin kamu, Jungwon!" suaranya naik beberapa oktaf.
Jungwon memejamkan matanya takut, baru kali ini dia melihat Jay begitu marah. Apa setakut itu bagi Jay untuk pergi meninggalkannya?
"Percaya sama Jungwon, Kak. Semuanya pasti berjalan normal, nggak akan ada yang meninggalkan siapapun!"
"DIAM!"
Jungwon terhenyak, dia mundur selangkah ke belakang karena terkejut dengan bentakan yang Jay layangkan padanya beberapa saat lalu. Meski berupa satu kata, tetapi nadanya terdengar benar-benar keras.
"Aku berusaha sabar hadapin kamu tiga hari ini, Jungwon. Aku tau kalau aku salah, tapi kamu sekarang udah keterlaluan!" tambah Jay dingin.
Jungwon memberanikan diri untuk balik menatap Jay. Mata dingin dan lirikan tajam itu bertemu, Jungwon mendorong sedikit tubuh Jay dengan telunjuknya.
"Aku cuma pengen Kak Jay sembuh. Apa itu tindakan salah di mata Kakak? Coba jelasin ke Jungwon, bagian mana dari perkataan Jungwon yang salah!" Jungwon menyilangkan tangan di depan dada dan menantang Jay, berupaya terlihat tangguh walau pipinya telah basah.
"Kamu--" Jay seperti kehilangan kosakata untuk membalas Jungwon. Ya, pemuda itu tidak salah. Sebagai seorang istri, wajar bila Jungwon mengkhawatirkan dirinya sampai sejauh ini.
"Kak.. Tolong pertimbangkan lagi." Jungwon terisak kecil sambil meremas tangan Jay.
Pandangan Jay melunak, dia menangkup wajah manis Jungwon dengan jemarinya, lalu menghapus air mata yang menggenang.
"Maaf, aku nggak bisa. Kamu nggak ngerti ketakutan terbesar aku, Jungwon."
Jungwon menatap Jay kecewa, binar kesedihan itu tidak dapat terelakkan dari matanya yang bersitatap dengan Jay. Dia sudah tidak bisa mengatakan apapun lagi, Jungwon hanya terdiam dan membiarkan Jay menarik tubuhnya pada dekapan erat sambil mencium keningnya.
"Maaf udah bentak kamu."
Jungwon melingkarkan tangannya pada punggung tegap Jay. Dia semakin menyembunyikan wajahnya pada kemeja yang Jay kenakan hari ini, perilakunya yang manja seperti sekarang membuat Jay semakin merasa bersalah karena telah membuat Jungwon menangis.
Jay melepas pelukan keduanya dan tersenyum lebar pada Jungwon. "Kakak berangkat ke kantor dulu, ya?"
Jungwon sebenarnya tidak rela ditinggal sendirian, tapi bersikap egois di saat seperti ini tidak akan menyelesaikan permasalahan yang mendera di tengah-tengah mereka.
"Ayo, Jungwon antar sampai depan."
•••
Btw, jangan lupa kencengin sabuk pengaman 👀
KAMU SEDANG MEMBACA
Lengkara ; Jaywon (✓)
Fanfiction"Maaf. Aku udah lancang jadiin kamu harapan hidup, Won." *** Jungwon Safi Haningrat, seorang mahasiswa gizi menjalin hubungan dengan Heeseung Sanu Atalarik, lelaki yang terkenal memiliki banyak sisi buruk dan musuh di kampus. Mereka berpacaran seper...
