30 : Rasa Takut

1.5K 218 67
                                        

Kak Jay
| Pulang, sekarang.
Read 07.29

Heeseung yang tengah memegang ponsel Jungwon sontak mengedarkan pandangan ke sekeliling. Jungwon belum kembali ke ruangannya, pemuda itu sedang mengisi perut di kantin setelah dipaksa Heeseung untuk makan.

Kak Jay
| Atau aku bakal susulin kamu ke sana.

Matanya melotot. Apa Jay mengetahui posisi Jungwon sekarang ini? Darimana lelaki itu tahu— ah ... Pasti itu adalah hal yang mudah, mengingat jika Jungwon bukan menikahi orang kalangan bawah.

Karena tidak ada Jungwon, akhirnya dia yang membalas pesan dari Jay.

You
| Aku pulang sekarang.

Cklek..

Tepat sekali, Jungwon membuka pintu dan berjalan menuju ranjang Heeseung. Pemuda itu melihat Heeseung yang tengah memegang ponselnya, jika kalian berharap Jungwon akan bereaksi dengan merebut ponselnya, maka kalian salah. Jungwon bersikap biasa saja dan tersenyum ke arah lelaki itu yang kembali menyodorkan ponselnya, lengkap dengan layarnya yang masih menyala menunjukkan room chat dengan Jay.

"Kenapa, dia nelfon aku?" tanya Jungwon saat menerima kembali ponselnya.

"Lo disuruh pulang sekarang, atau dia bakal nyusulin lo kesini," jawab Heeseung sambil menggerakkan tangannya solah mengusir Jungwon.

"Ck, ribet. Aku pulang dulu, nanti kalo sempat aku balik lagi ke sini." Jungwon mengecup pipi Heeseung dan melambaikan tangannya sebelum menghilang dibalik pintu.

Heeseung memegangi pipinya yang sehabis dikecup oleh Jungwon. Meski singkat, tapi itu seolah menghipnotis dirinya dalam sebuah kubangan pertanyaan. Apa dia sudah jatuh oleh segala perhatian Jungwon?

•••

"Jungwon pulang ...."

"Abis dari mana, Den?"

Kedatangannya langsung disambut oleh salah satu asisten rumah tangga yang sedang menyapu lantai. Jungwon tersenyum tipis dan berjalan ke arah tangga untuk pergi ke kamarnya— tanpa menjawab pertanyaan barusan.

Tapi di tengah perjalanan dia kembali turun untuk menhampiri si asisten tadi. "Psst, Bi. Kak Jay udah berangkat ke kantor belum?"

Bibi menggeleng. "Belum, Den. Dari tadi belum keluar kamar malah, sarapan juga nggak disentuh sama sekali."

Jungwon mengumpat dalam hati, kenapa lelaki itu menyiksa dirinya sendiri? Dia berjalan ke arah meja makan dan mengambil nampan yang sudah diisi oleh makanan.

"Eh ... Den, mau ngapain? Biar Bibi aja yang bawa nampannya."

"Biar Jungwon yang kasih sarapannya ke Kak Jay, Bibi lanjut beberes sana."

"Baik, Den."

Jungwon membawa nampan itu menaiki tangga dan mengetuk pintu kamarnya sebelum masuk ke dalam. Dia menaruh nampan itu di atas meja dan beralih pada Jay yang tengah memakai dasi di depan cermin meja rias.

"Kak? Sarapan dulu sebelum berangkat."

"Aku buru-buru." Jay mengambil tas kerjanya dan mengabaikan Jungwon yang baru saja tiba.

"Kak Jay marah ya sama Jungwon?" Pemuda itu menahan pergelangan tangan Jay yang hampir sampai pada pintu yang terbuka.

"Kamu pikir aja sendiri," ujar Jay menyindir. Dia menepis tangan Jungwon dari lengannya, walau tidak kasar.

Jungwon tidak mengendurkan cengkraman pada lengan Jay. "Tangan Kakak kok panas?"

Jungwon menaruh telapak tangannya pada kening, lalu turun ke leher suaminya itu. Benar saja dugaannya, Jay demam tinggi, badannya panas sekali.

Lengkara ; Jaywon (✓) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang