18 : Insiden dan Ingatan

1.4K 211 10
                                        

Vote dan komen!

<<<

Langkahnya terkesan beraturan dengan tempo pelan menuruni satu persatu anak tangga. Sebelah tangannya memainkan ponsel, sedangkan satunya lagi menggenggam botol air mineral kemasan.

Tingg!

Bami.
| Sa, gawat!

Heeseung tetap sibuk memundurkan motornya dan memakai helm tanpa berniat membalas pesan itu, dia sudah muak dengan kata-kata 'gawat' atau 'penting', paling ujungnya hanyalah jokes cringe yang menguras waktunya.

Bami
| Bangsat, dibaca doang.
| Tadi gue dibilangin Teguh, katanya geng si Haris pengen main sama lo.

Lagi, pesan itu diabaikan begitu saja.

Like a fever, fever, fever~

"Cok, si Bami heboh bener," umpat Heeseung sambil menggeser panggilan ke warna merah. Dia langsung mematikan data ponselnya dan fokus berkendara tanpa gangguan seorang Bami.

"Kak Hesa!"

Heeseung mendadak mengerem motornya dan menoleh ke arah sang pemanggil. Wajahnya tidak asing, Heeseung mengingatnya. Dia adalah Maba yang tadi pagi berkenalan dengannya, kalau tidak  salah ... Namanya-- Jungwon?

Heeseung sedikit terkejut begitu mendapati sebuah luka lebam di daerah pipi pemuda itu, disertai dengan ujung bibirnya yang sedikit membengkak. Bibir itu terlihat semakin errr sexy?

"Kak? Jadinya boleh nggak?"

Jungwon menepuk pelan bahu Heeseung agar lelaki itu tersadar dari lamunannya. "Kakak liatin ini, ya?" Dia menunjuk sudut bibirnya.

"Iya, lo kenapa bisa bengep begini?" tanya Heeseung beralibi. Dia menggunakan bahasa itu untuk mengalihkan kegugupan. Hal sebenarnya yang dia katakan adalah;

"Gue bukan liatin sudutnya, tapi argh!" Heeseung berusaha mengenyahkan bayangan aneh di kepalanya.

"Tadi aku nampar wajah salah satu maba karena dia nggak sopan udah pegang-pegang. Eh, dia malah nggak terima, yaudah jadinya begini. Tapi aku nggak nyesel, kok," ujar Jungwon menjelaskan hal yang terjadi padanya saat Heeseung tidak ada di lapangan.

"Terus?" tanggap Heeseung singkat.

"Ya.. Aku dibawa ke UKS sambil ditemenin Maba lain. Makanya baru keluar sekarang, tadi abis dibersihin lukanya," tambah Jungwon ramah.

"Oh, yaudah. Gue cabut duluan." Heeseung hendak menjalankan motornya kembali, tapi Jungwon menahan pergelangan tangannya dengan wajah manis yang dibuat.

"Tolongin aku, Kak. Aku numpang pulang bareng Kak Hesa, ya? Please, nanti aku bayar kok!" Jungwon memohon.

"Bukan urusan gue, lepasin."

"Kak ... Kalo nanti aku dicegat preman gimana? Aku nggak tau rute mobil dari sini ke rumah. Kakak tega?" Sekarang wajahnya dibuat sesedih mungkin.

"Naik."

"Hah? Aku boleh numpang, Kak?"

"Cepetan."

Tanpa harus di suruh dua kali Jungwon langsung naik ke motor ninja Heeseung dan berpegangan pada besi di belakang jok. Dia tidak menemukan keberadaan helm lain untuk dipakai dirinya.

"Kakak cuma bawa helm satu? Nanti kalo ada polisi, gimana?" tanya Jungwon saat Heeseung mulai menjalankan motornya keluar dari gerbang.

"Lo gue turunin, terus tinggal. Gampang."

Lengkara ; Jaywon (✓) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang