4 : Jus Alpukat

2.1K 312 24
                                        

Vote dan komen :)

•••

"Ternyata lo bisa gue andelin banget, Won. Tanpa harus gue jelasin panjang-lebar, lo udah ngerti gimana harus bersikap di depan si penyakitan itu!"

Heeseung berseru riang sambil memakan satu porsi makanan di hadapannya. Mereka sedang ada di kantin, lebih tepatnya Heeseung yang menyusul Jungwon ke kantin fakultas kekasihnya itu. Jungwon menceritakan semuanya tentang kejadian kemarin, tanpa dikurangi atau dilebihkan sama sekali.

Jungwon hanya membalas reaksi Heeseung dengan senyuman tipis. Sejujurnya dia masih ragu untuk memanfaatkan Jay untuk kebutuhan finansialnya, Jungwon merasa kalau perbuatannya tidak lain dari mereka yang menjual diri. Sama-sama kotor.

Heeseung mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan mungil kekasihnya. Jungwon mendekatkan diri dan menyandarkan kepalanya di bahu Heeseung yang sangat nyaman. Dia meniup-niup telinga Heeseung yang sibuk makan, seolah sama sekali tidak terganggu oleh tingkahnya.

"Lo nggak mau pesen makan? Gue yang bayarin, sans." Heeseung berkata setelah mengelap bibirnya dengan tissu.

"Nggak mau, aku kenyang. Tapi, aku lagi kepengen jus alpukat ... Boleh?"

Heeseung mengangguk. Anggap saja ini akan dibalas berkali-kali lipat oleh Jungwon nantinya jika berhasil mendekati Jay--ralat, pasti berhasil!

Dia membeli jus alpukat di stan tempat minuman dengan menyerobot antrian. Anak-anak lain yang merasa tidak terima hanya bisa menahan umpatan ketika tau siapa pelakunya, karena tidak mungkin mereka memarahi seorang Heeseung. Mereka tidak ingin mati muda.

"Kembaliannya buat bayar utang!" ujar Heeseung pada sang penjual, lalu menjauh dari stan minuman menuju mejanya dengan Jungwon.

"Nih, abisin." Heeseung memberikan gelas plastik jus itu pada Jungwon, yang disambut dengan senyuman lebar.

"Makasih, Sa. Aku mau pulang dulu, ya? Shift kerja aku mulai setengah jam lagi." Jungwon beranjak dari duduknya sambil membawa jus pemberian Heeseung.

"Bentar, sini deketan coba." Heeseung menarik tangan Jungwon yang baru satu kali melangkah ke depan.

Cup..

Benda kenyal itu menyentuh bibir Jungwon sekilas. Meski hanya sekedar kecupan, tapi itu sudah membuat Jungwon merona sampai ke telinga. Perlakuan Heeseung semakin manis dari biasanya, Jungwon semakin mencintai lelaki itu diseluruh tempat pada hatinya.

"Hati-hati."

Jungwon mengangguk dan berjalan perlahan menjauhi Heeseung di kantin. Dalam otaknya, Jungwon sedang berpikir tentang penolakan terhadap rencana Heeseung yang menyuruhnya menikahi lelaki yang ditemuinya kemarin ... Tapi, apa dia bisa? Heeseung sudah menaruh harapan besar padanya.

Jungwon benci mengakuinya, dia benar-benar mencintai Heeseung tulus. Dia tidak bisa untuk menolak perkataan yang keluar dari bibir Heeseung, meski itu berarti harus rela menjadikannya sebagai sosok lain.

Bruk!

Jungwon terjatuh ke belakang karena terkejut. Di pertigaan koridor dia menabrak orang lain, dia tidak mempermasalahkan jika bokongnya harus menyentuh lantai dengan keras. Tetapi, jusnya tumpah di jas formal yang orang itu kenakan. Dari bawah sini Jungwon bisa melihat sepatu pentofel hitam mengkilat, serta kaki jenjang atletis yang membuatnya penasaran untuk mendongak.

"Kak Jay?" Jungwon segera berdiri dan meminta maaf karena ulahnya membuat jas kerja Jay menjadi kotor.

"Hei, nggak apa-apa. Jangan berlebihan."

Jungwon melepas tasnya dan membuka ritsleting untuk mengambil tissu yang biasa dia simpan di dalam sana. Dia menarik beberapa lembar dan mendekat ke arah Jay, berniat membersihkan noda jus yang sangat kentara.

"Aku bisa sendiri kok." Jay mengambil tissu dari tangan Jungwon, tapi pemuda itu kukuh ingin membersihkan jasnya yang kotor.

"Kamu emangnya lagi mikirin apa, sih? Sampai melamun begitu," tanya Jay saat Jungwon menggerakkan tangan lentiknya untuk mengelap jasnya menggunakan tissu.

Anggaplah Jay sedang sok akrab dengan Jungwon. Padahal ini baru pertemuan kedua mereka setelah kemarin. Sepertinya Tuhan sengaja selalu mempertemukan mereka dengan saling menabrak. Sangat mainstream seperti adegan drama.

"Nggak.. tadi emang lagi ngelamun aja," jawab Jungwon dan membuang tissu itu ke tempat sampah yang ada di dekatnya.

Jay tersenyum kecil. Berani sekali pemuda di hadapannya ini membuat dadanya berdebar lebih cepat? Tidak sadarkah Jungwon kalau Jay bahkan sudah masuk perangkapnya sejak awal?

"Nodanya nggak bisa hilang semua. Mau aku bawa dulu ke rumah? Nanti malam aku cuci, besok aku kembaliin ke Kakak." Jungwon terus merasa tidak enak, pasti harga jas itu lebih dari satu tahun gajinya.

It's like a polaroid love~

Jungwon meraba sakunya dan mengangkat panggilan yang masuk pada ponselnya. Tertera nama, Sunoo. Jungwon melirik Jay sekilas, lalu menjawab sapaan dari sebrang telfon.

"Ya, halo?"

"Jangan ngulur waktu! Jadwal shift kerja lo tinggal lima belas menit lagi!"

Jungwon melotot dan melihat jam di ponselnya. Benar saja, sekarang sudah hampir pukul tiga. Jungwon segera membereskan tasnya dan menatap Jay yang masih diam di tempat sembari memperhatikan dirinya.

"Maaf, aku harus pergi kerja sekarang. Kakak beneran ngak apa-apa, 'kan?"

Jay menarik tangan Jungwon ke belakang, membuat pemuda itu mengernyit heran karena kepergiannya harus ditunda lagi.

"Kenapa, Kak?" tanya Jungwon.

"Kamu kelihatannya lagi buru-buru, mau Kakak antar ke tempat kerja?" Jay menawarkan tumpangan pada seseorang yang bahkan belum mengenalnya dengan dekat.

Jungwon tampak berfikir sebentar. Sejujurnya dia tidak nyaman berada terlalu dekat dengan Jay. Tapi, perkataan Heeseung tiba-tiba terlintas dalam kepalanya, dan membuat segalanya menjadi lebih rumit.

"... tapi, apa lo yakin bisa? Lo mau cari duit ratusan juta kemana, Won? Emangnya kerja part time cukup buat lunasin utang keluarga lo?"

Jungwon menarik sebuah senyuman yang memiliki banyak arti, dia tidak menyangka kalau akhirnya akan menuruti perkataan Heeseung untuk memanfaatkan kondisi Jay. Terdengar jahat, tapi memang begitu kenyataannya.

"Ah, nggak perlu. Nanti Kakak repot." Bohong. Ini hanya sekedar pancingan.

"Sama sekali nggak, kok. Ayo ke tempat parkir, Kakak anter kamu dengan selamat sampai tujuan."

Mereka berjalan berdampingan di sepanjang koridor menuju tempat parkir. Sementara itu, ada seseorang lain yang memperhatikan interaksi keduanya. Dia menarik satu sudut bibirnya, sepertinya akan mudah untuk mendekatkan Jay dan Jungwon. Bukankah menurut kalian juga demikian?

•••

Masa perkenalan mereka kayaknya mau aku cepetin deh, gregetan :)

Lengkara ; Jaywon (✓) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang