Jangan lupa vote dan komen, ya <3
•••
Suara rintihan dan erangan yang tertahan menjadi backsound menenangkan bagi seorang lelaki dengan setelan denim yang sedang bersandar di dinding sembari kakinya menginjak kuat kepala seseorang di bawah sol sepatunya.
Ada seorang lelaki lain yang perannya menjadi korban, dengan luka lebam hampir di seluruh permukaan kulit wajahnya dan beberapa bercak darah di lantai.
"Gue nggak ngerti kenapa lo jadi belain dia begini," ujar orang itu ketika injakan pada kepalanya mengendur.
"Karena lo keterlaluan, Sunghoon!" Si pelaku berteriak lantang, wajahnya sangat menunjukkan kalau dia sedang emosi.
Sunghoon yang namanya disebutkan secara lantang, hanya terkekeh sinis sembari mengelap darah yang hampir mengering di sudut bibirnya.
"Sadar diri, Sa. Jungwon terlalu baik buat lo yang titisan Azazel."
"Wah, kurang ajar ini orang lama-lama. Sini lo ngomong sekali lagi coba."
"Lepasin Jungwon, gue tau lo nggak cinta sama dia. Mending buat gue aja, dia juga butuh masa depan yang terjamin, Sa." Tidak sadar posisinya yang semakin tersudut, Sunghoon tetap berani.
Buagg!
"Bangsat lo, anjing!"
Heeseung Sanu Atalarik, atau biasa dipanggil Hesa. Lelaki tinggi dengan paras rupawan yang memikat kaum hawa dan submissive. Tidak ada celah dari penampilannya, tapi karena sikapnya yang terlalu tempramen, banyak yang mengubur rasa tertariknya dalam-dalam karena takut menjadi sasaran emosi lelaki berusia 22 tahun tersebut.
Heeseung menarik kerah kemeja Sunghoon, matanya menyorot tajam seolah siap menguliti tiap inci tubuh seseorang di depannya. Urat-urat tangan serta lehernya terlihat, siapapun akan menenggak ludah gugup ketika dihadapkan pada situasi ini.
"Apa? Lo mau bunuh gue? Sini ayo bunuh aja, Sa. Tapi jangan kaget kalo besok lo udah nggak bisa liat Jungwon lagi," ucap Sunghoon mengancam.
"Lo jebak Jungwon, jing! Lo manfaatin kondisi dia yang lagi drunk parah, untungnya Jungwon nggak inget apapun soal lo yang udah lecehin dia!" Penekanan di tiap kata yang keluar dari bilah bibirnya. Heeseung kembali melayangkan tinjuan ke arah perut Sunghoon dengan membabi buta. Seolah tak cukup waktu satu jam sebelumnya yang diisi oleh kekerasan.
"Gue bersikap biasa aja kalo itu masih normal, tapi lo udah lewatin batas, Hoon!"
"Lo yang ninggalin dia di bar, tolol! Salah siapa? Lo, lah! Kok malah nyalahin gue?"
"Beneran cari ma--"
Brakk!
Seorang pemuda lain menggebrak pintu kamar mandi tempat Heeseung dan Sunghoon beradu kekuatan. Dia melirik kondisi Sunghoon yang memprihatinkan dengan luka sobek, dan lebam.
"Kamu keterlaluan, Sa!" Pemuda itu mendekati Sunghoon dan mengeluarkan sapu tangan dari dalam kantungnya. Dia memberikan sapu tangan itu pada Sunghoon untuk mengelap wajahnya.
Heeseung tersenyum miris. "Oh ... Lo belain dia, Jungwon?" Pertanyaan itu meluncur keluar.
Jungwon Safi Haningrat, lebih akrab dipanggil Jungwon. Dia menggeleng sadis dan berusaha menenangkan Heeseung dengan mengelus lengannya.
"Bukan begitu.. Hesa jangan salah paham, ya?" bujuknya lembut.
Heeseung menepis kasar tangan Jungwon dan keluar dari sana dengan tangan mengepal kuat. Wajar kalau dia marah karena tiba-tiba mendapat laporan jika pacarnya berciuman dengan orang lain. Dan lebih parahnya lagi adalah, Jungwon justru membela orang itu.
"Lepasin Jungwon, gue tau lo nggak cinta sama dia. Mending buat gue aja, dia juga butuh masa depan yang terjamin, Sa."
Ucapan Sunghoon terus terngiang-ngiang dalam kepalanya. Heeseung berjalan cepat dengan tatapan menerawang kosong, sama sekali tidak memperhatikan apa yang dipijaknya.
Bruk!
"Ah ... Jatuh semua."
Kertas-kertas berhamburan di lantai yang dingin. Jumlahnya ada banyak, sehingga orang yang ditabrak Heeseung sedikit kesulitan mengumpulkan semuanya seorang diri.
Heeseung berjongkok dan mengambil selembar kertas yang berada di dekat kakinya. Dia sempat melirik sekilas, dan Karena penasaran, Heeseung membaca isi dari kertas itu yang ternyata adalah laporan hasil.
"Kemoterapi.." gumamnya pelan.
"Leukimia Miel--" Heeseung membaca alasan dari kemoterapi itu dalam hati.
"Maaf?" Orang itu nampak keberatan dengan perilaku Heeseung yang terlalu penasaran.
"Ini punya lo?" tanya Heeseung menggoyangkan kertas itu di tangannya.
"Bisa tolong kembaliin?"
"Nih kertas lo, parah juga ya penyakit lo sampe harus kemo." Heeseung mengembalikan kertas itu pada sang pemilik.
"Terima kasih," sambar orang itu sekenanya dan berlalu pergi dari hadapan Heeseung menuju ruangan salah satu dosen di kampus.
Jayden Ari Dineschara
"Dineschara? Itu bukannya marga Sunghoon, ya?"
Heeseung mengeluarkan ponselnya dan mencari nama orang tadi di situs pencarian. Kalau memang dugaannya benar, maka seharusnya orang tadi juga ada dalam silsilah keluarga Sunghoon yang notabene-nya adalah keluarga kalangan atas, dan memiliki banyak cabang perusahaan di dalam maupun luar negeri.
"Jayden Ari Dineschara, putra sulung keluarga Dineschara yang jarang disorot media karena lebih sering menghabiskan waktu untuk menyembuhkan penyakitnya." Heeseung membaca tulisan di ponselnya dengan bergumam.
Otak liciknya perlahan mulai menyusun rencana yang sangat menguntungkan. Bagaimana jika dia menyuruh Jungwon untuk mendekati orang tadi?
Karena, pada dasarnya perkataan Sunghoon adalah kebenaran. Ia tidak mencintai Jungwon. Jadi kalaupun dia melepas Jungwon nanti, Heeseung akan tetap memanfaatkan pemuda itu sebagai sumber uangnya.
"Sekaligus balas dendam seru kali, ya? Jadi nanti Jungwon nikahnya sama abangnya, bukan Sunghoon. Pasti itu bocah jadi benci Jungwon banget, ahahahaha." Tawanya menggema di koridor.
Heeseung sudah menyiapkan cara agar Jungwon menuruti perkataannya. Memanipulasi pemikiran orang lain adalah bakat terpendam seorang Heeseung Sanu Atalarik.
Heeseung beralih pada aplikasi chatting dan membuka room chatnya dengan Jungwon. Dia mengetikkan beberapa kata yang bersifat mutlak.
You
Temuin gue besok di kantin fakultas sebelum lo berangkat kerja, paham? |
•••
KAMU SEDANG MEMBACA
Lengkara ; Jaywon (✓)
Fanfiction"Maaf. Aku udah lancang jadiin kamu harapan hidup, Won." *** Jungwon Safi Haningrat, seorang mahasiswa gizi menjalin hubungan dengan Heeseung Sanu Atalarik, lelaki yang terkenal memiliki banyak sisi buruk dan musuh di kampus. Mereka berpacaran seper...
