7 : Rantai dan Sungai

1.8K 277 32
                                        

Vote dan komen :)
Mau follow juga boleh..

•••

Waktu hampir menunjukkan pukul enam sore. Langit telah berubah warna menjadi redup dengan garis-garis oranye yang indah. Jay dan Jungwon sedang duduk-duduk di pinggiran jalan sambil melihat keramaian yang ada di hadapan mereka.

Mereka berdua baru saja keluar dari Museum dan memutuskan untuk tidak langsung pulang, melainkan singgah sejenak menikmati tengah malam Ibukota yang benderang.

Jay senang karena Jungwon sudah tidak secanggung awal mereka bertemu, pemuda itu begitu ekspresif tentang segala hal yang menarik minatnya. Berkali-kali juga dia melayangkan candaan pada Jay selama mereka masih ada di dalam Museum. Perlahan Jay mulai membangun satu tujuan baru untuk hidupnya, yaitu untuk selalu berada di samping Jungwon dan melihat senyuman pemuda manis itu setiap hari.

Jay mengingat kembali hal random apa saja yang dilalui mereka saat bergandengan tangan di dalam Museum. Secara tidak sadar, Jay tersenyum kecil.

"Kak, dulu kakak yang bikin ini prasasti ya?" tanya Jungwon sambil menunjuk sebuah batu dengan bagian tengahnya terdapat bekas tapak kaki.

"Bukan tuh, emangnya kenapa?" Jay menurunkan kameranya dan memandangi Jungwon heran.

"Soalnya kaki kalian sama-sama gede, siapa tau Kak Jay yang sebenarnya bikin tapak kaki itu." Jungwon tertawa setelah mengucapkan kalimat yang sifatnya menistakan Jay.

"Enak aja! Kalo gitu umur Kakak udah berabad-abad, dong?"

Semuanya terasa menyenangkan, sangat-sangat. Jay tidak mengerti kenapa hari ini seolah dirinya diberi banyak kesempatan oleh Tuhan untuk merasakan kebahagiaan sederhana lewat perantara Jungwon.

Warna-warna itu perlahan membuat sebuah pola yang membuka jalan menuju hatinya. Jay telah membuka pintu hatinya lebar-lebar untuk Jungwon. Rasanya nyaman ketika mendengar suara tawa dari pemuda yang baru beberapa hari ini dikenalnya. Begitu cepat Jungwon mengubah sudut pandangnya terhadap dunia. Tuhan selalu memberikan kesempatan bagi umat-nya untuk tersenyum bahagia. Begitu pula Jay, saat harapan untuk hidup sudah hampir tenggelam, Jungwon hadir sebagai harapan itu sendiri.

"Nah, terus abis itu aku-- ih, Kak Jay nggak dengerin omongan Jungwon, ya?"

Jay mengedipkan matanya bingung. Dia melamun saat Jungwon sedang bercerita sesuatu dengan mulut yang sibuk mengunyah jagung bakar. Gemas.

"Kamu emang lagi ngomong apa?" Jay bertanya lembut.

"Itu, aku lagi ngomongin dulu waktu kecil sering banget pergi ke sini sama Ayah, tapi Ayah selalu nolak masuk ke dalam Museum. Ujung-ujungnya cuma beli street food dan foto-foto aja."

"Kenapa begitu?" Jay menggigit sepotong jagung bakar di tangannya.

"Karena Ayah nggak suka Museum ... Katanya ngebosenin banget." Jungwon menerawang kosong ke arah depan. Matanya menyiratkan perasaan rindu yang tertahan saat membicarakan perihal masa kecilnya bersama sang Ayah yang sudah tiada. Sebenci apapun seorang anak terhadap orangtuanya, tetap saja masih tersisa rasa sayang meski sebesar butiran pasir.

"Jangan sedih begitu. Kan sekarang ada Kakak, kalo kamu mau pergi ke Museum yang lain bilang aja, nanti pasti Kakak temenin." Jay menolehkan kepala Jungwon ke arahnya dan mengulas senyuman lebar.

"Tangan Kak Jay dingin banget, Kakak lagi sakit?" Jungwon memegang tangan Jay yang ada di pipinya.

Jay tidak menjawab. Dia menarik tangannya dan terdiam mengabaikan pertanyaan Jungwon. Sedangkan sang pemberi pertanyaan tersadar dan berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka sebelumnya.

"Tadi aku liat ada peramal garis tangan gitu, Kakak mau coba ke sana?" Jungwon berujar antusias.

Jay menghabiskan satu buah jagung bakarnya dan berdiri. "Ayo ke sana," katanya. "Siapa tau kali ini hasilnya lain."

Jungwon terheran-heran dengan perkataan Jay yang ambigu--tidak jelas-- dia ikut berdiri dan berjalan beriringan dengan Jay di sebelahnya. Dia pernah meramal masa depannya dengan memilih tiga kartu, maka sekarang dia akan mencoba dengan metode garis tangan.

Jungwon duduk bersila di dalam sebuah stan kecil. Di depannya ada seorang lelaki mungkin sudah ber-usia kepala lima, mereka dibatasi oleh sebuah meja kecil yang di atasnya terdapat beberapa benda aneh.

"Aku dulu, baru setelah itu Kak Jay."

Jungwon berkata pada Jay yang juga duduk di sampingnya. Jungwon mengulurkan kedua tangannya ketika si peramal itu memintanya. Telapak tangannya diraba secara perlahan, dari tangan satu ke tangan lainnya.

"Rantai." Sepatah kata itu keluar, membuat Jungwon serta Jay yang mendengarnya memicingkan mata.

"Beberapa rantai masih membelenggu pergerakan kamu. Seiring berjalannya waktu, kamu akan menemukan sebuah kunci untuk melepaskan semua belenggu itu. Kamu telah menjadi pelangi sekaligus awan badai bagi takdir seseorang."

Jungwon menoleh ke arah Jay. Tatapannya seolah menyiratkan kata; 'apa yang dia bilang?' Penggunaan bahasa yang aneh, menjadi tembok penghalang Jungwon untuk memahami arti dari perkataan sang peramal.

Jungwon menarik tangannya kasar dan bertukar posisi duduk dengan Jay, karena lelaki itu juga ingin mendengarkan beberapa kata tentang masa depannya--meskipun sangat rancu-- Jay sangat penasaran.

Dia mengulurkan tangannya persis seperti yang Jungwon lakukan sebelumnya. Jay menatap raut serius si peramal yang sedang meraba telapak tangannya dengan mata terpejam rapat.

"Sungai." Si peramal selalu membuat mereka penasaran dengan kata-katanya.

"Kamu akan melewati sebuah sungai dengan arus yang sangat deras. Keputusasaan membuatmu tenggelam dalam sungai itu dan terombang-ambing sempai ke hilir."

Jay baru saja ingin menarik tangannya, tetapi lebih dulu ditahan dan dilanjutkan oleh perkataan lain yang membuatnya lebih mengerti tentang apa yang sebenarnya ingin peramal itu katakan.

"Kamu tenggelam begitu dalam, dan sudah menyiapkan diri untuk kematian.. Nafasmu terenggut paksa oleh takdir."

Degg..

Seharusnya Jay menolak ajakan Jungwon sedari awal pemuda itu menyarankan tempat ini. Sudah ia duga, ini adalah keputusan terburuk yang pernah ia ambil. Ini sama saja menghancurkan harapan yang sudah ia bangun dengan susah payah, jikalau memang akhirnya dia akan mati. Jay mengerti jelas arah dari pembicaraan si peramal, ibaratnya sungai itu adalah penyakitnya selama ini.

"Akhirnya ... saya mati tenggelam di sungai itu?" Jay menebak pasrah.

"Ada kemungkinan lain."

Jay mendongakkan kembali kepalanya pada peramal itu dengan tatapan tanya. Bukankah tadi peramal itu mengatakan jika dia akan tenggelam dan nafasnya akan terenggut paksa oleh takdir. Namun, kenapa sekarang katanya dia tidak akan mati karena tenggelam?

Jungwon yang tadinya merasa kasihan dengan Jay, lantas kembali fokus pada peramal yang ingin melanjutkan penjelasannya.

"Kamu memang tenggelam dan hampir mati, tapi satu tanggung jawab besar menarik kamu keluar dari perbatasan nafas."

Jungwon dan Jay berpandangan lagi. Jungwon sampai berniat mencatat semua kata-kata peramal itu agar tidak lupa dan bisa dia pahami sedikit saja. Terlalu rumit, tidak bisakah ia menggunakan bahasa yang mudah dicerna oleh otak manusia?

"Dan, kalian.."

Rupanya ada bonus ramalan. Mereka berdua menyiapkan telinga karena mungkin ini adalah hal yang harus didengarkan dengan seksama.

"Hubungan yang di awali dengan kebohongan, belum tentu berakhir dengan kesedihan. Kebahagiaan masih bisa digenggam jika mau berterus terang."

Si peramal menatap Jungwon saat mengatakan hal ini. Entah apa makna dibalik itu semua, yang jelas Jungwon merasa terintimidasi ketika dirinya ditatap seperti itu oleh seseorang asing. Dalam hati dia terus bertanya.

Apa maksudnya?

•••


[12022022]

Lengkara ; Jaywon (✓) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang