Vote dan komen jangan lupa~
•••
Berbulan-bulan sejak insiden malam Natal waktu itu, semuanya berjalan normal. Jungwon lebih sering menghabiskan waktunya untuk mengurus Jay, mengingatkan lelaki itu makan, menyediakannya obat. Menemani Jay check up rutin ke rumah sakit, cuci darah, dan banyak hal lainnya yang mereka lewati bersama-sama.
Lantas, apakah Jungwon sudah melupakan Heeseung?
Tentu saja belum, sesekali dia masih mengirimi pesan dan berharap jika Heeseung akan membalasnya. Jungwon sering nekat mendatangi tongkrongan Bami untuk menghajar lelaki itu agar mau memberitahu keberadaan kekasihnya, tapi Bami tetap menutup mulut soal Heeseung.
"Hesa udah jauh, lo urusin aja suami lo yang penyakitan itu."
Jungwon juga pernah beberapa kali datang ke rumah Heeseung, tapi rumah itu sekarang sepi tanpa kehidupan. Tanaman dibiarkan tak terawat dan mati di pekarangan, auranya juga semakin suram. Belum lagi spanduk besar di depan pagar bertuliskan; 'DIJUAL'
Sekarang tanda itu sudah tidak terpasang. Rumah Heeseung telah ditempati orang lain yang membelinya. Semua jejak Heeseung menghilang entah kemana, bahkan lelaki itu pun keluar dari kampus tanpa alasan yang jelas.
Jungwon sempat down beberapa minggu karena memikirkan Heeseung. Jarang makan, sering melamun, dan irit bicara dengan Jay. Menghilangnya Heeseung terlalu tiba-tiba. Apa dia melakukan kesalahan yang membuat Heeseung marah dan menjauh? Err ... Rasanya tidak.
Jungwon menghela nafas dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Dia melirik jam yang menunjukkan pukul tujuh malam, berguling-guling tidak jelas karena bingung ingin melakukan apa. Rumah ini membosankan sekali, hanya ada Bi Astri dan Tukang kebun serta satpam.
Sedangkan Jay ... Lelaki itu sedang ada di rumah sakit untuk jadwal pemeriksaan rutin dan cuci darah. Jay melarangnya ikut menemani, jadi lelaki itu hanya sendirian.
"Apa aku susul Kak Jay aja, ya?" Jungwon bergumam sambil menatap langit-langit kamar.
"Kasian juga Kak Jay sendirian ... Aku susul ah."
Tingg!
Disaat yang tepat, Jay memberi pesan padanya. Jungwon langsung membaca pesan itu dengan mata yang sedikit memicing.
Kak Jay
| Kakak sebentar lagi selesai, kamu lagi apa?
You
Kakak nggak boleh pulang dulu! |
Aku susul ke sana, ya?|
Kak Jay
| Jangan, Kakak nggak mau kamu kecapean.
You
Kak ... Aku mau ikut supir jemput kakak di rumah sakit, jangan nolak terus! |
Kak Jay
| Oke, terserah kamu.
You
Tunggu sebentar, jangan kemana-mana. |
Jungwon beranjak dari tidurnya dan berjalan menuruni tangga menuju pos satpam di depan. Pasti supirnya sedang mengobrol bersama dengan satpam, dan penjaga lain.
"Den? Ngapain kesini?" tanya supirnya menaruh gelas berisi kopi di meja.
"Mau ikut Bapak jemput Kak Jay, hehe." Jungwon menunjukkan cengiran lebar pada si supir.
"Oalah, ayo berangkat kalau begitu." Supir itu mengambil kunci yang tergeletak di atas meja, sebelum beranjak ia sempatkan untuk menyeruput kopinya sekali lagi.
"Saya duluan, ya!"
"Hati-hati bawa mobilnya, Man! Pak Bos bisa marah kalau kamu ugal-ugalan bawa istrinya!"
Kirman--nama supirnya-- membuat simpul oke dengan jarinya pada satpam yang barusan berbicara. Lantas Jungwon langsung masuk di kursi penumpang begitu Pak Kirman duduk di kursi kemudi.
Satpam membukakan gerbang untuk jalan keluar mereka, mobilnya mulai membelah jalanan ibukota dengan kecepatan stabil. Jungwon menoleh ke luar jendela, dia termenung lagi.
"Pak Bos itu hebat loh masih bertahan sampai sejauh ini, tapi kadang saya nggak mengerti dengan cara pikirnya yang luar biasa aneh." Pak Kirman sedang membicarakan Jay.
"Aneh gimana, Pak?" Jungwon menanggapi itu dengan ramah.
"Aneh aja, padahal dia sering ngeluh ke saya tentang jadwal kemoterapi yang mepet sama kerjaan. Tapi, akhirnya nggak diambil juga, alasannya cuma karena nggak mau ninggalin Den Jungwon dalam waktu dekat ini," jelas Pak Kirman sambil menggelengkan kepala.
"Apa? Kemoterapi?" Jungwon mengulang perkataan supirnya.
Merasa aneh dengan reaksi dari Jungwon, akhirnya sang supir pun angkat bicara. "Kok kaget gitu, Den? Emangnya Pak Bos belum kasih tau soal ini?"
Jungwon menjawab dengan gelengan cepat. Jay tidak memberitahunya soal apapun tentang kemoterapi. Akting lelaki itu sangat bagus untuk berpura-pura tidak terjadi sesuatu yang buruk.
"Kalo boleh tau, Kak Jay.. Dia masuk stadium berapa?"
"Sepertinya sudah stadium dua--mungkin ... tiga?"
Ini fakta baru yang mengejutkan, Jungwon bersumpah akan melempar Jay menggunakan bantal karena sudah berani menutupi hal yang sangat penting. Sebenarnya apa yang dipikirkan lelaki itu saat memutuskan untuk menanggung semuanya seorang diri?!
"Memangnya udah berapa kali Kak Jay harusnya ada jadwal kemoterapi?" Jungwon bertanya pelan, menutupi rasa marah.
"Maaf, Den. Bukannya saya nggak mau kasih tau, tapi lebih baik Den Jungwon tanya langsung ke suaminya." Pak Kirman merasa, urusan ini bukanlah haknya untuk menjelaskan.
Jungwon menghela nafas, dia memaklumi jawaban supirnya. "Makasih infonya, Pak."
"Sama-sama, Den."
Jungwon kembali larut dalam keheningan. Pikirannya bercabang ke segala arah, yang satunya memikirkan Jay, dan satunya lagi memikirkan perkataan supirnya. Setiap kali dia ingin fokus mengurus Jay, pasti bayangan Heeseung selalu hadir dan memecah perhatiannya. Sesulit itu untuk mengenyahkan Heeseung dari pikiran barang sejenak saja.
"Apa jangan-jangan Hesa udah lupain aku?" Jungwon bertanya pada dirinya sendiri. Entah darimana datangnya pemikiran itu, tapi Jungwon masih takut jika hal itu terjadi.
Padahal sudah jelas ada Jay yang selalu menyiapkan telinga dan memperlakukannya bagai bidadara, tapi perasaannya pada Heeseung seolah tidak bisa diusir pergi. Ya, meski posisinya mulai sedikit tergeser oleh Jay. Pelan-pelan lelaki itu mulai merubah sudut pandangnya tentang cinta, yaitu,
'Cinta itu bukan hanya tentang memperjuangkan, tapi juga tentang diperjuangkan.'
Dia mulai terperangkap dalam permainannya sendiri. Jungwon benci mengakuinya, tapi ... Dia mulai melirik keberadaan Jay.
--Untuk sebuah pelarian.
•••
Chapter depan mature, tapi kayaknya cuma sekilas [hehe]
KAMU SEDANG MEMBACA
Lengkara ; Jaywon (✓)
Fanfiction"Maaf. Aku udah lancang jadiin kamu harapan hidup, Won." *** Jungwon Safi Haningrat, seorang mahasiswa gizi menjalin hubungan dengan Heeseung Sanu Atalarik, lelaki yang terkenal memiliki banyak sisi buruk dan musuh di kampus. Mereka berpacaran seper...
