Kalau ada typo tolong dikasih tau, yaaa.
•••
"Kan aku udah bilang, kalau capek kita langsung pulang aja. Liat, sekarang Kak Jay mimisan lagi."
Jungwon mengomel cemas. Posisinya tadi mereka sedang duduk pada sofa di ruang keluarga, tapi tiba-tiba Jay mengeluarkan darah pekat dari hidungnya. Jungwon pun dengan telaten mengurus Jay sampai darahnya benar-benar sudah tidak lagi keluar.
"Ayo minum obatnya, Kak." Jungwon membuka plastik klip dan mengeluarkan tiap-tiap obat yang ada.
Jay membetulkan posisi duduknya dan menerima uluran obat dari Jungwon. Dia menenggak obat itu sekaligus dan mendorongnya menggunakan air yang sudah Jungwon siapkan.
"Makasih, Dek."
"Sama-sama, ini udah tugas aku." Jungwon menampilkan senyuman lebar pada Jay. Dia membereskan obat-obatan serta tissu yang digunakan untuk mengelap darah tadi. Dia membuang tissu itu ke tempat sampah dan kembali mendekati Jay yang terlihat lemas bersandar di sofa.
"Ayo ke kamar. Kakak perlu istirahat, sini Jungwon bantu naik tangga." Jungwon menaruh tangan Jay pada pundaknya dan memapah lelaki itu menaiki tangga dengan perlahan-lahan.
Saat sampai, Jungwon membaringkan Jay di ranjang dan mengelus rambut lelaki itu lembut. "Aku panggil dokter pribadi kita, ya? Kakak keliatan lemas banget."
Jay menggeleng lemah dan menahan tangan Jungwon yang ingin menelpon dokter pribadi keluarga mereka. "Nggak perlu, Kakak mau peluk kamu aja sini."
"Serius, Kak.."
"Aku serius ini, beneran Kakak nggak apa-apa. Kejadian begini itu udah biasa, dipeluk kamu juga ilang kok lemesnya." Jay menyunggingkan senyuman lebar, tapi dengan bibirnya yang pucat.
"Kakak jangan kebanyakan senyum, Jungwon serem liatnya." Jungwon bergidik ngeri.
"Hahaha, sini deketan. Kakak mau peluk kamu sampai besok pagi." Jay menepuk sisi ranjang di sebelahnya, mengkode Jungwon agar merebahkan diri di sana untuk dia peluk.
"Sebentar, Jungwon mau ganti baju tidur. Kakak tidur duluan aja."
Setelah beberapa saat, akhirnya Jungwon kembali pada Jay dengan outfit yang berbeda. Dia memakai piyama berwarna cream dengan motif beruang, sangat menggemaskan!
Jay tersenyum tipis dan membiarkan Jungwon mengambil tempat di sebelahnya. Dia segera menarik Jungwon pada pelukan dan membenamkan kepalanya di leher pemuda itu. Tangannya menyelinap masuk untuk mengelus punggung serta perut Jungwon dengan lembut.
Tangan Jay terasa hangat saat menyentuh perutnya secara langsung. Jungwon memejamkan mata karena elusan Jay sangat menenangkan sampai kantuk menghampirinya. Tapi, baru saja dia ingin terlelap, Jay menciumi seluruh inci wajahnya tanpa terlewat.
"Kak, geli nhh." Jungwon menghalangi wajahnya dengan telapak tangan.
"Kamu milik aku, Dek. Cuma aku yang boleh lakuin hal ini ke kamu."
Tepat setelahnya, Jay melumat bibir Jungwon dengan lembut. Satu tangannya mencengkram rambut yang lebih muda agar mendekat dan tidak menolak. Mulanya memang lembut, tapi lama kelamaan menjadi menuntut saat Jay menggigit bibir Jungwon serta menelusupkan lidahnya ke dalam rongga mulut pemuda itu.
Saliva turun dari dagu sampai ke leher Jungwon, dia kesulitan mengimbangi permainan Jay yang sangat lihai. Rasa pahit itu menyatu di mulutnya, pasti ini berasal dari Jay yang sehabis meminum obat.
"Ennhh—" Jungwon mencengkram pundak Jay, mengatakan kalau dia butuh jeda untuk bernafas.
"Hahh.." Jungwon mengelap area bibir dan dagunya menggunakan tangan, dia mengelus rahang Jay dan tersenyum singkat sebelum berbalik membelakangi lelaki itu.
Jay yang mengerti pun langsung mendekap Jungwon erat dari belakang dan memejamkan matanya untuk tidur. Dibumbuhi dengan satu kecupan ringan di tengkuk Jungwon sebagai penutup.
"Selamat tidur, sayangnya Kakak."
Degg..
Dari jarak sedekat ini, dengan tubuh Jay yang menempel, Jungwon bisa merasakan debaran jantung lelaki di belakangnya itu yang sangat cepat. Sekarang sudah tidak ada lagi keraguan, Jay benar-benar mencintainya dengan tulus. Setidaknya Jungwon tidak akan merasa salah jika suatu saat berhasil melabuhkan hatinya pada Jay, dan melupakan Heeseung.
Sayangnya itu semua hanya sebatas kata 'seandainya'
•••
Gelap.
Jungwon meraba-raba dinding di belakangnya untuk topangan berjalan. Rasanya sudah lama dia berjalan, tapi seolah perjalanannya tidak memiliki ujung sama sekali. Hanya ada kegelapan yang menemani, tidak ada suara, tidak ada cahaya, tidak ada pergerakan lain selain dari dirinya.
"Dek?"
Jungwon enggan mendongak pada sang pemanggil. Dia meremat telinganya kuat-kuat sambil menyembunyikan wajahnya. "Bukan, bukan Ayah." Jungwon terus menggumamkan kata yang sama.
"Dek, ini Ayah. Kamu nggak kangen?"
"Bukan!" Jungwon mulai berteriak. Rasa takut itu benar-benar serasa menikamnya dari dalam.
Si 'Ayah' terkekeh dan menyamakan tingginya dengan Jungwon. Dia mengusak kepala anaknya sayang dan mendekapnya sangat erat. "Ayah kangen banget sama kamu. Maafin Ayah, ya?"
Air mata tumpah dari matanya yang sudah berembun, Jungwon tidak bisa melakukan apapun lagi kecuali membalas pelukan sang Ayah tak kalah eratnya.
"Kamu tumbuh jadi anak baik sampai sejauh ini ... Sekarang kamu udah dewasa, udah jadi istri orang lain. Jangan kecewain dia ya, Dek? Dia beneran tulus sama kamu."
"Ayah.." Jungwon sesenggukan.
"Kamu nggak sepenuhnya menjadi awan badai. Masih ada waktu sebelum kamu kehilangan semuanya; segalanya yang kamu anggap berharga." Jungkook berkata sambil tersenyum lebar pada anaknya.
"Maka dari itu, tentukan tempat berlabuh sebelum jangkar kamu beku. Takdir Tuhan memang nggak bisa dirubah, tapi nasib kalian bisa." Ditatapnya Jungwon dengan sangat yakin.
"Hukum karma selalu berlaku. Hati-hati," pesan ayahnya sebelum perlahan tubuhnya menjadi transparan dan menghilang di tengah kegelapan ruang yang membelenggu Jungwon seorang diri.
"Jungwon nggak cinta sama dia, gimana bisa Jungwon rubah nasibnya?!" Jungwon mengerang frustasi. Suaranya menggema dan kembali lagi pada dirinya, seakan-akan memantul.
"Belum." Suara itu terdengar sangat pelan seperti hembusan angin, tepat di samping telinganya.
"Kamu pasti dihantui perasaan menyesal suatu saat nanti, Dek. Kehampaan membuat kamu sadar tentang semuanya." Lagi, kenapa ayahnya bersikap menyebalkan dengan menakut-nakutinya seperti ini?
"Nggak mungkin," elak Jungwon.
"Cukup Ayah yang rasain itu semua, kamu jangan sampai." Terlihat bayangan ayahnya di sudut lain ruangan yang jaraknya begitu jauh.
"Kamu harus akhiri semuanya sebelum terlambat, Jungwon. Ayah percaya sama kamu, lakukan yang terbaik!"
Setelah itu, bayangan Ayahnya menghilang, semuanya terasa buram dan tergantikan oleh cahaya benderang.
•••
Vote dan komen jangan lupa!
KAMU SEDANG MEMBACA
Lengkara ; Jaywon (✓)
Fanfiction"Maaf. Aku udah lancang jadiin kamu harapan hidup, Won." *** Jungwon Safi Haningrat, seorang mahasiswa gizi menjalin hubungan dengan Heeseung Sanu Atalarik, lelaki yang terkenal memiliki banyak sisi buruk dan musuh di kampus. Mereka berpacaran seper...
