Dor!
Mau double? Vote dan komen banyak-banyak <3
•••
Jungwon dan Heeseung menghabiskan banyak denting jam untuk saling bercerita tentang keseharian mereka. Jungwon adalah yang pertama menceritakan kisahnya dengan raut yang berubah-ubah, kadang antusias, dan kadang pula cemberut. Heeseung yang merasa gemas langsung saja mencubit pipi tembam Jungwon beberapa kali. Pipi itu jauh lebih berisi dari terakhir kali mereka bertemu, tubuh pemuda itu juga mengalami beberapa perubahan.
"Sekarang gantian kamu yang cerita dong, Sa. Aku juga mau tau kamu kemana selama beberapa bulan ini." Jungwon melingkarkan tangannya pada tubuh Heeseung. Memeluknya dari samping.
Heeseung balas memeluk Jungwon, satu tangannya turun ke bawah dan dengan jahil meremas bokong itu dengan jemari panjangnya.
"Lo gemukan, gue suka pegangnya."
Jungwon memukul dada Heeseung kesal. Saat ditanya soal kemana lelaki itu pergi, justru Heeseung sengaja mengalihkan ke topik pembicaraan lain. "Aku serius tanya. Kamu kemana?"
"Gue nggak pergi kemana-mana, Jungwon. Intinya sekarang gue ada di sini."
"Tapi, itu belum tentu menjamin kalau kamu nggak akan pergi lagi.." gumam Jungwon yang teredam oleh dada bidang Heeseung.
Heeseung menarik senyum tipis, lalu mengelus rambut Jungwon. "Lo percaya kalo gue masuk daftar orang dalam gangguan jiwa?"
Jungwon menggeleng. "Nggak mungkin lah, Sa. Emangnya kamu punya masalah apa sampai gangguan jiwa?"
Heeseung berganti menjadi menatap kosong langit-langit kamar. "Tapi, emang itu kenyataannya.."
Deg!
Jungwon mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Heeseung yang sangat serius, seperti tidak ada kebohongan di dalamnya. Itu berarti, penyebab kepergian Heeseung selama beberapa bulan terakhir tanpa kabar adalah..
"Sepi, sunyi, ruang gerak terbatas. Itu yang selalu gue rasain di tempat rehabilitasi selama beberapa bulan terakhir."
•••
"Makasih udah anter aku."
Heeseung mengangguk dibalik helm full face-nya, kemudian dia hendak menggeber motornya pergi dari kediaman rumah Jungwon yang dulu, tapi tangannya ditahan oleh pemuda tersebut.
"Kenapa?" tanyanya.
"Kamu nggak ada niatan ketemu sama bunda aku? Kita bisa pura-pura temenan dulu."
Heeseung menatap Jungwon sendu, satu tangannya menurunkan jemari Jungwon yang memegang lengannya. "Bunda lo udah kenal siapa gue, Won."
"Oh, ya?"
Anggukan menjadi jawaban pertanyaan Jungwon. Heeseung melirik sekilas pintu rumah Eunha yang tertutup rapat, lalu berkata pada Jungwon.
"Sebutin aja nama gue. Bunda lo pasti kenal Heeseung, anak dari Lalisa Suhendra."
Perempuan yang udah hancurin rumah tangganya. Lanjutnya dalam hati.
Selepas mengatakan itu, Heeseung berlalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Meninggalkan Jungwon yang hanya menatap punggung Heeseung yang kian mengecil ditelan jarak.
"BUNDA, JUNGWON PULANG~"
"Jangan teriak-teriak!"
Suara Eunha terdengar menggema dari arah dapur. Jungwon berjalan mendekati Eunha dan melingkarkan tangannya pada tubuh Eunha dari belakang. Bibirnya sedikit mengerucut, lengan Jungwon dihadiahi cubitan sayang dari Ibunya yang sedang memasak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lengkara ; Jaywon (✓)
Fiksi Penggemar"Maaf. Aku udah lancang jadiin kamu harapan hidup, Won." *** Jungwon Safi Haningrat, seorang mahasiswa gizi menjalin hubungan dengan Heeseung Sanu Atalarik, lelaki yang terkenal memiliki banyak sisi buruk dan musuh di kampus. Mereka berpacaran seper...
