33 : Merasa Aneh

1.3K 220 20
                                        

Vote dan komen jangan lupa!

•••

Heeseung mengerjapkan matanya pelan, dia menatap sekelilingnya kebingungan sambil merasakan sakit di kepalanya. Apa yang terjadi? Dia merasa asing, ini bukan kamarnya ataupun ranjang rumah sakit biasa. Saat itu, Heeseung menyadari sesuatu.

Tangan dan kakinya diikat kuat pada tiap-tiap besi penyangga ranjang kecil yang dia tiduri. Ruang geraknya sangat terbatas, untuk memijat pangkal hidungnya saja dia tidak bisa.

"Lagi?" tanya Heeseung lirih.

Kenapa dirinya harus berakhir pada ruangan ini lagi setelah menjalani beberapa tahun yang normal? Mengapa fakta baru itu membuat mentalnya terguncang hebat?

Terkadang Heeseung ingin sekali berteriak di telinga Ayahnya untuk mengatakan kalau dia normal, hanya saja kadang sesuatu dalam dirinya seperti hilang kendali. Dan, itu semua bukanlah kemauannya.

Seorang sipir lelaki masuk ke kamarnya dan membukakan ikatan tali yang membelenggu pergerakannya sedari tadi. Meskipun telah dibuka, nyatanya dia tetap diawasi selama dituntun keluar dari kamar tadi menuju ruang tunggu—Heeseung tidak tahu apa namanya, yang jelas ruangan itu diisi oleh beberapa bangku panjang.

"Pagi, Heeseung. Bagaimana kabarnya hari ini?"

Heeseung mengernyit, tangannya disatukan dan diikat menggunakan sebuah kabel. "Ini tempat rehabilitasi, ya? Gue mau pulang."

"Nanti Heeseung bisa pulang kalau sudah sembuh, ya ... Sekarang ayo kita mengobrol sebentar." Wanita itu, yang Heeseung duga sebagai psikiater terlihat membujuknya untuk bicara.

"Gue nggak gila! Gue mau pulang, mau minta maaf sama Jungwon!" Heeseung berontak, dia menendang meja yang menjadi perantara mereka.

"Kenapa gue tega banget sama dia?" Heeseung tertawa sendiri, kemudian melirik dokter itu sinis.

"LEPASIN, GUE MAU KETEMU JUNGWON!" Tubuhnya ditahan oleh sipir tadi agar tidak membayahakan siapapun, tenaganya luar biasa.

"AYAH! BAWA HESA PULANG!"

Barangkali memang benar keputusan Ayahnya membawanya ke tempat ini. Dia gila. Lebih tepatnya hampir gila karena mentalnya sudah ditekan habis-habisan dari segala sudut.

"Kenapa mereka semua tega nutupin ini dari gue?" Sekarang nada bicaranya terdengar sangat lirih.

"Mereka menutupi apa dari kamu?" tanya dokter itu lembut.

"Alasan kematian Mama, harusnya gue tau dari awal dan nggak akan berakhir kayak gini!"

"Sekarang kamu merasa bagaimana?" tanya dokter itu lagi.

"Gue mau ketemu Jungwon ... Dia harus jadi milik gue! Si penyakitan itu nggak boleh ..." gumamnya yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.

"Jungwon.." Heeseung mengusak wajahnya frustasi, akal sehatnya sedang sulit untuk dia kuasai.

Dokter itu mencatat beberapa poin penting dari percakapan singkatnya dengan Heeseung. Dia mengkode sipir tadi dengan gerakan kepala agar membawa Heeseung kembali ke kamarnya dan menjaga ketat lelaki itu agar tidak melarikan diri.

•••

Jungwon tersentak begitu sebuah tangan memeluknya erat dari belakang. Hampir saja dia menampar wajah orang itu dengan spatula, kalau tidak melihat siapa orang itu lebih dulu.

"Kak Jay ngagetin aja."

Jungwon mematikan kompor, lalu mengelap tangannya dengan tissu yang sudah tersedia. Dia mengangkat teflon, dan memindahkan masakannya itu di atas sebuah piring porselen.

Lengkara ; Jaywon (✓) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang