36 : Sebuah Janji dan Rindu

1.3K 211 30
                                        

"Jungwon ... Sayang?"

Jay mendekati Jungwon yang sedang melamun menghadap keluar jendela, dia memeluk Jungwon dari belakang dan menaruh kepalanya di pundak pemuda itu. Jungwon tersentak, kemudian menolehkan kepala ke arah Jay.

"Kenapa Kak Jay ke sini?" Jungwon berdiri, lalu menarik Jay agar kembali turun ke meja makan.

"Aku lebih baik disini bareng kamu, daripada terus denger ocehan mereka."

Jungwon menghela nafas. "Nggak boleh gitu, mereka keluarga kamu. Aku yang salah udah buat kalian berantem."

Jay menyatukan kedua tangan mereka dan menggenggamnya. "No, ini semua bukan salah kamu!"

Jay menuntun Jungwon agar duduk di tepian ranjang bersamanya. "Maafin keluarga aku, ya? Nggak seharusnya mereka bilang begitu ke kamu."

"Aku tau," katanya sambil menatap Jay. "Karena aku sadar, kalau aku nggak sesempurna menantu mereka."

"Jungwon.."

"Omongan mereka benar, Kak. Belum tentu aku bisa hamil ... A-aku."

Grepp!

Jay dengan cepat menarik Jungwon pada pelukan hangat, dia tahu kalau Jungwon sedang berpura-pura tegar di hadapannya. Begitu tubuh mungilnya Jay rengkuh, Jungwon seolah meruntuhkan benteng kepalsuan yang dia bangun selama ini. Tangisnya pecah, dia mencengkram punggung Jay untuk menyalurkan rasa sakitnya, kemeja yang dipakai Jay pun menjadi basah.

"Kenapa mereka begitu?"

Jay mengelus punggung Jungwon, berharap pemuda itu sedikit lebih tenang. "Kita pasti bisa, Dek. Baru dua bulan, masih banyak waktu," bisiknya.

"Kalau ternyata hiks aku nggak bisa kasih kamu anak, gimana? Apa mereka bisa terima aku?" tanya Jungwon tersendat-sendat karena isakan.

"Mereka nggak penting, yang penting kita harus terus berusaha."

Jay menjauhkan tubuh mereka dan menangkup wajah Jungwon dengan kedua tangannya. Pandangan mereka bertemu, Jay mengulas senyum lebar pada Jungwon.

"Kalau memang udah takdirnya kita nggak dikasih keturunan, aku rela, asal kamu terus bareng sama aku. Seenggaknya aku punya kenangan indah sebelum nanti aku pergi."

Kening mereka bersentuhan, Jay mendorong sedikit tubuh Jungwon agar terlentang. Jay menindih tubuh Jungwon dan melumat bibir pemuda itu lembut, menyalurkan perasaannya yang bersungguh-sungguh.

"Karena aku terima kamu apa adanya, Jungwon."

Tangisan Jungwon kembali pecah. Dia tidak menyangka, seseorang asing bicara begitu mudahnya perihal kerelaan dan penerimaan pada dirinya yang penuh dosa ini. Bagaimana mungkin Jungwon bisa menyakiti hati Jay yang begitu tulus mencintainya?

"Aku cinta kamu, Won. Ayo kita janji, kamu nggak akan pernah tinggalin aku, 'kan?"

Jungwon sadar, tidak ada alasan untuknya meninggalkan lelaki ini. Betapa banyak kebahagiaan yang dia dapat, meski tanpa perasaan cinta yang melandasinya. Bahkan Heeseung pun tidak pernah memuliakannya seperti ini, Jay adalah sosok impian yang sepantasnya dipertahankan.

Akan sulit baginya jika ingin berpisah dengan Jay, mengingat kedua pihak keluarga sudah saling mengenal dan terlanjur dekat. Belum lagi keluarga besar Jay yang sudah mencap buruk dirinya, pasti mereka akan semakin gencar menghinanya jika meninggalkan Jay begitu saja.

Selain itu, ada satu perasaan lain yang mengganjal di hatinya jika berbicara perihal meninggalkan. Semuanya sudah terjadi, menghadirkan rasa sayang yang lahir karena terbiasa, bukan karena penerimaan.

Lengkara ; Jaywon (✓) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang