[𝘗𝘭𝘦𝘢𝘴𝘦 𝘋𝘰𝘯'𝘵 𝘊𝘰𝘱𝘺 𝘔𝘺 𝘚𝘵𝘰𝘳𝘺]
📍Awas Baper.📍
! Mengandung kata kasar !
Nevan Phoenix Saguna, memiliki sifat keras, dingin dan juga kejam, Siapapun yang mempunyai masalah dengannya di pastikan tidak akan selamat.
Di depan orang b...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
~•~ Aku senang, yang baca Nevan tambah banyak tapi sedih karena likenya masih dikit, 🤧
yuk bisa yuk tekan bintangnya 😁 ••
~Happy Reading~
***
Hari ini Vanessa sangat puas berada di rumah Nevan, selain bisa merawat kekasihnya yang sedang kurang baik.
Ia juga bisa menghabiskan waktu bersama Bunda Novi, hal itu sangat bisa mengurangi rasa rindunya pada Mama kandungnya.
Tidak hanya itu, dia juga menjadi semakin mendapatkan informasi tentang Nevan dari Bunda Novi.
Ternyata dari kecil Nevan memang sudah memiliki sifat keras, cuek dan pemarah. Namun dari semua sifat itu. Yang Vanessa suka adalah, baik hatinya dengan siapapun yang memang sedang membutuhkan pertolongan.
Nevan sejak umur lima tahun, sudah sering membantu temannya, Tapi lagi-lagi ada saja teman yang hanya membutuhkan kebaikannya.
Setelah mendapatkan apa yang mereka mau darinya, semua cuek bahkan ada yang menganggunya.
Nevan kecil masih berusaha bersabar saat teman-temannya mulai menganggunya, namun semakin ia tahan, temannya itu semakin berulah.
Dengan kesabarannya yang sudah habis, Nevan kecil tiba-tiba menendang perut temannya yang bertubuh gempal.
Hingga temannya itu harus di rawat di rumah sakit, Bunda saat itu sangat marah. Tapi mau bagaimana lagi karena itu juga bagian dari sifat putranya.
"Kita nggak bisa menghilangkan sifat temperamentalnya Nevan, yang bisa kita lakukan cuma menahan dia agar tidak terpancing emosinya."
"Iya Bunda, sebenarnya. Nevan juga nggak akan marah, kalau seandainya nggak ada yang mengganggu Nessa." jawab Vanessa.
"Udah ghibahnya." Vanessa tersentak ketika mendengar suara datar tepat di belakangnya.
Ia menoleh kebelakang terlihat Nevan sudah berdiri di belakangnya, memasukkan tangannya kedalam saku dan menatap Nessa datar.
Vanessa hanya memperlihatkan giginya, tersenyum lebar menutupi rasa malu karena ketahuan membahas tentang cowok itu.
Bunda tertawa keras, tangannya melambai menyuruh Nevan ikut bergabung duduk di taman belakang.
Nevan menghela napas panjang, melangkah mendekati Vanessa, lalu tangan gadis itu di tarik secara lembut, menyuruhnya untuk berdiri.
"Jangan di sini, ntar lama-lama di cuci otak sama Bunda." ujarnya santai.
"Dasar kamu ya!" balas sang Bunda tertawa geli memandangi punggung putranya bersama Vanessa yang masuk ke dalam rumah.