[𝘗𝘭𝘦𝘢𝘴𝘦 𝘋𝘰𝘯'𝘵 𝘊𝘰𝘱𝘺 𝘔𝘺 𝘚𝘵𝘰𝘳𝘺]
📍Awas Baper.📍
! Mengandung kata kasar !
Nevan Phoenix Saguna, memiliki sifat keras, dingin dan juga kejam, Siapapun yang mempunyai masalah dengannya di pastikan tidak akan selamat.
Di depan orang b...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Walaupun sudah lama nggak up, tetap harus di lanjut 😆 Semoga yang baca masih ingat ceritanya dan masih setia untuk baca, jangan lupa vote+comment. Supaya tau bagaimana respon kalian. Thank you🙏
. . . . . . . . . . . .
~Happy Reading~
***
Nevan duduk disamping brankar Vanessa, termenung menatap istrinya yang sudah sadar tapi tidak mau bicara dengannya.
Tatapannya kosong, sesekali bibir pucat wanita itu bergetar, seperti ingin berucap ataupun menangis.
"Pliss, jangan seperti ini. Kamu tau kan? Aku nggak suka di cuekin. Apa lagi sampai diam-diaman lama, kalau kamu kayak gini bikin aku merasa gagal jadi suami, kita baru aja nikah. Harusnya aku buat kamu senang-senang." ujar Nevan parau, jarang sekali Nevan seperti itu.
barulah usai mendengar suaminya berkata seperti itu, Vanessa menggulirkan bola matanya sejenak melihat bagaimana rapuhnya Nevan.
"Aku bukan istri yang baik, aku merasa kotor." ucap Nessa sangat pelan, nyaris seperti berbisik.
Namun beruntungnya Nevan dengar, lelaki itu menunduk mendekatkan tubuhnya pada Nessa. "Nggak! Siapa bilang kamu bukan istri yang baik, kamu nggak kotor. Kamu tetap istri aku, wanita yang aku cinta!" jawab Nevan cepat mengusap kepala Vanessa.
Cairan bening dari mata cantik Nessa pun jatuh, wanita itu menangis tersedu, bayangan kejadian itu muncul kembali, kejadian ketika bersama lelaki yang membuatnya merasa kotor.
"Ssst_ udah. Jangan di ingat lagi. Kejadian itu sudah berlalu." Nessa menggeleng pelan, meremas tangan Nevan kuat sampai kukunya menusuk kulit, namun ia tak peduli yang terpenting Nessa tenang.
"Tetap aku merasa kotor, dia udah pegang-pegang aku, dia mau mem_" belum selesai melanjutkan ucapannya, Nevan mendekap erat istrinya.
"Kamu nggak boleh ngomong gitu, sampai kapan pun kamu istri aku, milik aku. Cuma aku yang berhak atas diri kamu, nggak akan aku biarin orang lain berhasil menyentuh kamu lagi," jeda sejenak Nevan diam. "Termasuk bajingan itu."
Nessa hanya menangis dalam pelukan Nevan, menyalurkan perasaannya lewat tangisan.
Tak semudah itu melupakan dan melenyapkan kejadian itu, yang di mana ia di lecehkan oleh laki-laki dari teman baik suaminya.
Merenggangkan pelukannya, Nevan menangkup wajah Nessa mengusap lembut kedua pipinya. "Kamu masih mau sama aku? Aku_" belum selesai berkata, Nevan sudah memberi kecupan di bibir Nessa bahkan sedikit lumatan.