BRAK!
"ARGHH! GITU AJA KALIAN GAK PECUS! MASA NYULIK ADIK ALANA SAJA BISA SAMPAI SEKARAT!" seorang gadis menjambak rambut nya frustasi. Dia memberantakan perabotan di rumah yang memang sudah tidak berpenghuni. Dua anak buah nya berdiri di belakang gadis itu dengan kepala tertunduk, yang satu nya kini terbaring sekarat di sofa.
Hoodie putih gadis itu kotor karena debu tebal yang menempel. Nafas nya memburu, kedua tangan nya mengepal kuat di sisi tubuh nya. Dia berbalik dan menatap nyalang kedua anak buah nya. Dia menarik kerah jaket mereka dengan brutal, "KALIAN BISA KERJA GAK SIH?!!" teriak gadis itu menggema di seluruh ruangan.
"Maaf bos, tadi ada laki-laki yang datang terus ngamuk bos. Kepala Tomo aja di bocorin sama laki-lak itu, kita gak berani bos" terang salah satu dari mereka.
BUGH!
BUGH!
Gadis itu meninju keras muka kedua anak buah nya yang tidak pecus, dia berteriak seperti orang kesetanan. "GUE BENCI LO ALANA!! SEMUA NYA LO REBUT! BANGSAT, BAJINGAN LO!!"
"URUS REKAN GAK PECUS KALIAN!" Teriak gadis itu lagi, dia mengambil topi dan masker putih nya juga sebotol bir yang tinggal separuh. Setiap kali usaha nya gagal, bir adalah pelampiasan nya. Gadis itu pemabuk berat, tekanan dari keluarga yang membuat nya jadi seperti itu.
"Halo, gue butuh bantuan lo!"
***
"MASA NGELAWAN SI BUNCIT KALIAN KALAH?!!" murka seorang laki-laki berjaket kulit berlogo PASGAR, di sana juga ada satu rekan nya yang juga memakai jaket kulit tetapi berlogo KUANSTA, dan dua laki-laki yang termasuk rekan terpenting kedua nya.
Mereka sudah sejak lama bekerja sama untuk membuat STARES dan CAKRA tunduk di hadapan mereka, terutama Arsenio dan Albara yang merupakan ketua masing-masing geng besar tersebut.
Namun, usaha mereka sejak dulu tidak pernah berhasil karena STARES dan CAKRA terlalu kuat untuk mereka lawan. Apalagi sekarang Arsenio menjaga anggota nya dengan ketat, dia punya banyak mata-mata dan anak buah yang tersebar di kota Jakarta. Setahu mereka, Hugo adalah kepala preman dan para anak buah Arsenio sekaligus tangan kanan laki-laki itu. Albara pun sama.
"Andro bukan lawan mereka, Ky. Lo belum pernah melihat sisi gelap cowok doyan makan itu, ini belum seberapa asal lo tau" ujar lelaki berjaket jeans robek sambil menyesap rokok nya santai.
"Cowok itu pernah menjadi alasan pertempuran antara STARES dan CAKRA, karena si Atlas sengaja mencuri dan memanggang seekor kelinci putih kesayangan emak nya" timpal seorang laki-laki berkaos hitam, dia geleng-geleng heran, kelinci kok di permasalahkan?
"Dan hebat nya, Atlas kalah di pertempuran waktu itu, hanya karena seorang Andro si doyan makan" tambah lelaki berjaket jeans robek.
"Lima cowok inti geng STARES, tidak bisa di remehkan begitu saja. Mereka memang terlihat lembek, tapi masing-masing punya sisi gelap yang tersembunyi" ujar cowok berkaos hitam.
Brak!
"Shit! Siapa di sana?!" Sekelebat bayangan hitam melintas di depan pintu yang setengah tertutup. Salah satu dari mereka langsung bergerak mengecek, namun tidak ada siapa-siapa.
"Gue yakin, tadi ada orang. Sial! Kita kecolongan!"
***
"Halo, kabar apa yang lo bawa?" Arsenio berbicara pada salah satu anak buah nya lewat ponsel nya, satu tangan nya masih setia menggenggam erat tangan kanan Alana yang masih belum sadarkan diri.
"Ada salah satu anggota STARES yang berkhianat bos"
"Shit! Siapa?"
"Gue gak tau bos, gue tadi hampir ketahuan. Untung berhasil kabur"
"Penting lo gak ketahuan. Dalang nya masih sama kan?"
"Masih bos"
"Good. Lo selidiki terus!" Arsenio memutus sambungan sebelah pihak. Ini kabar yang sangat mengejutkan, salah satu anggota nya berkhianat? Arsenio jamin curut satu itu pasti akan habis.
Selang beberapa detik, ponsel nya kembali bergetar, laki-laki itu menarik tombol hijau atas panggilan anak buah yang lain nya.
"Gimana? Siapa otak dari ketiga pria yang kabur dari rumah sakit?"
"Hampura bos, kita kehilangan jejak" terdengar nafas memburu dari seberang sana.
"Shit! Gue gak perduli! Cari terus orang itu sampai ketemu!"
"Siap bos!"
Arsenio memasukkan ponsel ke dalam kantung jaketnya. Dia mengusap kasar wajah nya, lalu berbalik menghadap Alana yang sempat ia punggungi. Laki-laki itu mengusap lembut puncak rambut Alana yang masih terpejam. "Cepet sadar Lan, gue sayang lo. Lo cewek hebat yang pernah gue kenal, gue salut sama lo"
Tangan Arsenio turun mengusap pipi gadis itu dengan ibu jari nya, "selain hebat, lo juga cantik, Lan"
"Gue gak suka lo deket sama Aggam maupun Albara sialan itu" oceh nya sendiri. Arsenio menghela nafas, "tapi gak seharusnya gue jauhin lo. Dan gue sadar, gue gak bisa jauh-jauh dari lo"
"Gue nyaman Lan, senyaman itu" Arsenio berdiri, dia berniat mengecup kening Alana. Tapi, belum sampai bibir nya menyentuh kening gadis itu, suara lemah dan serak menghentikan aksi nya.
"Kamu mau ngapain kak?"
Arsenio berdehem untuk menghilangkan kekikukan nya, laki-laki itu kembali duduk, "gue mau ambil minum" alibinya.
"Minum?" Alana menoleh ke nakas sebelah kiri nya, ia tidak menemukan air minum di sana, malah di nakas sebelah kanan yang ada segelas air, "itu minum nya kak. Kamu bohong ya?"
Arsenio menghela nafas, "gak. Gue gak lihat ada minum di situ" dusta nya lagi.
Alana teringat Arya, gadis itu langsung berusaha beranjak dari blankar nya, Alana meringis merasakan nyeri di punggung nya.
"Ck! Lo mau kemana sih? Jangan banyak bergerak" Arsenio membaringkan kembali tubuh gadis itu.
"Aku mau cari Arya kak"
"Arya udah tidur di ruangan sebelah, tadi gue udah jenguk dia. Arya nyuruh gue buat nemenin lo disini" Arsenio mengusap rambut Alana, "lo gak usah khawatir".
Alana mengangguk paham, "makasih kak"
"Tidur Lan, udah malem"
"Kamu udah nggak marah lagi sama aku?"
"Gak"
Alana tersenyum, "itu lebam kamu belum di kompres? Kamu berantem lagi?"
"Belum. Gue gak berantem.." Arsenio menarik nafas panjang lalu membuang nya, "ini pukulan dari bokap gue"
Alana terdiam beberapa saat, sebelum kembali bersuara, "Ka-kamu nggak apa-apa kan kak?"
"Udah biasa Lan" Arsenio tersenyum tipis.
"Itu harus di kompres kak"
"Gak usah, Lan. Lo itu masih sakit"
"Aku udah nggak apa-apa kok, itu harus segera di kompres kak, supaya cepat sembuh" Alana kembali berusaha untuk beranjak dari kasur nya.
Arsenio berdiri, lalu menarik gadis itu masuk ke dalam pelukan nya. Arsenio mengusap surai Alana dengan lembut, "gue gak apa-apa, Lan. Lo gak usah khawatir" ucap nya.
Deg. Deg. Deg.
Alana bisa mendengar detak jantung Arsenio yang berpacu cepat seperti jantung nya saat ini. Tanpa sadar tangan gadis itu naik menyentuh dada bidang Arsenio.
"Kenapa? Mau gue unboxing lo?"
***
KAMU SEDANG MEMBACA
ARSENIO✔
Teen FictionArsenio Reygan Devantara. Arsenio, cowok nakal nan kejam dengan tatapan setajam macan, berandalan, tidak punya hati, dan seenaknya sendiri. Ketua geng Stares yang paling di segani. Tidak ada yang berani berurusan sama dia, kalo ada itu namanya cari...
