48. Semua Karena Rahasia.

3.5K 229 22
                                        

Alana keluar dari perpustakaan, jam istirahat kedua seperti ini selalu ia habiskan di perpustakaan. Saat semua nya menuju kantin untuk makan, gadis itu memilih membaca buku dan belajar di sana.

Alana keluar sebentar dari perpustakaan menuju ke kelas nya, ada catatan rumus matematika yang tertinggal di sana. Padahal perasaan tadi sudah ia simpan di selempitan buku matematika nya. Di tengah-tengah perjalanan, seorang cewek menarik lengan nya, membuat Alana berbalik menatap nya. Siapa lagi kalau bukan Dinda.

"Ikut gue!" Cewek itu menarik paksa lengan Alana. Mau tak mau, ia harus mengikuti kemana arah Dinda pergi. Sesampainya di depan toilet putri yang lumayan sepi, Dinda melepaskan kasar cengkeraman nya di lengan Alana.

"Gue peringatin sekali lagi sama lo! Putusin Arsenio!" ujar Dinda penuh penekanan.

"Nggak! Dia pacar aku"

"Oh! Ngelawan lo ya?! Gak pa-pa, kalo lo milih tersakiti karena sikap Arsenio gue malah senang! Congrats atas kebodohan, kebegoan, dan ketololan lo mendapat peringkat satu dari gue!"

"Maksud kamu apa? Selama kamu ngomong sama aku, omongan kamu selalu ngelantur kemana-mana"

"Karena lo cuma orang baru yang masuk dalam kehidupan Arsenio! Lo gak tau semua tentang dia, maka nya lo gak ngerti maksud omongan gue menuju ke arah mana"

"Gue lebih dulu hadir dalam kehidupan Arsenio, dari dia kecil sampai sekarang. Gue sahabat nya, bahkan perasaan kami lebih dark seorang sahabat!"

"Itu dulu, nggak sekarang!" cerca Alana, jujur hati nya terasa sakit saat Dinda berkata mengenai perasaan mereka berdua.

"Oh ya? Gue cinta pertama nya Arsenio dan cinta pertama itu sukar di lupakan. Lo juara akademi kan? Seharusnya lo pinter sedikit lah jadi cewek" Dinda bersedekap dada, menatap remeh gadis yang didepan nya.

Dinda tertawa sinis, "masa lo gak ngerasain sih perubahan sikap Arsenio? Emang lo gak ngerasa kalo disini lo cuma di buat pelampiasan saja sama Arsenio, dia lebih sayang gue daripada lo. Sadar diri kek, jadi cewek. Lo cuma cewek miskin, mana mau Arsenio sama cewek kampungan kayak lo. Gak level!"

Alana masih terlihat baik-baik saja, walau sebenarnya hati nya seperti di robek-robek, "kak Nio sendiri yang bilang kalo dia cuma sayang sama aku, dia nggak pernah sayang sama kamu. Kamu dan dia hanya sebatas sahabat, nggak lebih"

Dinda mendesah kesal, ngotot juga ngomong sama Alana, "kalo dia sayang sama lo, cinta sama lo, dia akan memprioritaskan lo daripada gue. Bukti nya tadi pagi Arsenio jemput gue, bukan lo. Terus tadi pagi setelah upacara dia milih gue dari pada lo, mau ngelak lagi?"

"Nggak! Itu semua nggak bener!"

"NGGAK BENER APA?! JELAS-JELAS LO LIHAT SENDIRI PAKE MATA LO! KALO ARSENIO BERANGKAT SAMA GUE! DIA JUGA MILIH GUE DARIPADA LO! SADAR DIRI, SADAR POSISI, DAN SADAR MUKA! CEWEK KERE!"

Hubungan dengan kasta yang berbeda? Apakah bertahan lama?

"Mau bukti lebih nyata?" Dinda mendorong Alana, kepala gadis itu terbentur di dinding toilet dengan keras. Kepala nya berdenyut nyeri, sakit, dan pusing campur aduk.

Tiba-tiba Dinda juga ikut menjatuhkan diri nya ke lantai karena mendengar derap langkah kaki yang mendekat.

"Tolong..kaki gue sakit.." ujar Dinda dramatis sambil memegangi kaki nya, padahal disini Alana yang sakit bukan diri nya.

Segerombolan siswa/i menghampiri kedua nya, salah satu dari mereka ada Arsenio. Alana meringis kala kepala nya berdenyut lebih kuat dari yang tadi, kenapa sakit sekali? Padahal cuma kebentur?

Tangan kanan gadis itu terangkat, saat Arsenio mendekat pada mereka, Alana pikir cowok itu akan menolong nya, namun kenyataan nya malah bertolak belakang. Arsenio menggendong Dinda pergi dan meninggalkan nya sendirian dengan rasa sakit di kepala juga dalam hati.

"Kak Nio, tolong aku.." gumam Alana, hanya diri nya sendiri yang mampu mendengar nya. Cairan bening yang tertahan di pelupuk mata nya kini mulai berjatuhan. Lagi dan lagi, hati nya di buat sakit oleh Arsenio.

Aku yang sakit kak, kenapa kamu malah gendong kak Dinda yang hanya pura-pura? batin Alana, sesak.

Alana terisak pelan, karena kini gerombolan para siswa/i itu pergi meninggalkan tanpa keinginan menolong sedikit pun. Alana terisak semakin kuat, gadis itu memegang kepala nya, darah segar mengalir dari kedua lubang hidung nya, "sa-sakit..hiks!"

Pandangan Alana mulai meremang, beberapa detik semua nya terlihat gelap. Alana tergeletak tidak sadarkan diri dengan darah bercecer di lantai. Kepala nya semakin terasa sakit juga hati nya. Padahal cuma kebentur tembok, apakah ada efek berkelanjutan dari kecelakaan satu tahun silam?

***

"LO GILA HAH?! GUE UDAH TURUTIN SEMUA MAU LO, DIN! KENAPA LO MASIH BERBUAT NEKAT SAMA ALANA?! MANA JANJI LO?!"

"ALANA SENDIRI YANG CARI MASALAH SAMA GUE, SEN!"

"GAK USAH MEMUTAR BALIKKAN FAKTA BANGSAT! JANGAN COBA-COBA LO NYAKITI ALANA KETIKA GUE MASIH NURUTI SEMUA MAU LO! GUE BISA BERTINDAK LEBIH DARI INI!"

"Oh, silahkan! Lo mau rahasia lo gue bongkar di depan Alana? Kalo mau, silahkan bertindak lebih" Dinda tertawa santai.

"Sialan! Lo bukan Dinda yang gue kenal! Lo berubah! Lo lebih sadis dari psycopat!" maki Arsenio.

"Lo yang berubah! Sikap lo dingin, gak sehangat dulu, lo lebih mentingin dia dari pada gue! Gue cuma ingin menjadi orang yang lo bahagiain Sen! Gue ingin di posisi cewek kere itu!"

"Gue gak cinta sama lo! Gue gak ada rasa apa-apa sama lo! Jadi stop berpikiran sejauh itu!"

"Percuma lo buat dia bahagia Sen! Akhir-akhir nya lo sendiri yang akan buat si kere tenggelam dalam keperdihan di masa depan!"

"Jangan bahas masa depan bangsat! Gue nyesel pernah berbagi rahasia sama cewek busuk yang dulu gue anggap sahabat!"

"Jika lo putusin dia, jalan nya akan semakin mudah"

"Gue gak cinta sama lo! Harus berapa kali gue bilang?! Cinta gak bisa di paksakan!" Arsenio pergi dari UKS, cowok itu berlari menuju toilet, awal mula terjadi pertengkaran Dinda dan Alana.

Hati Arsenio tersayat ketika melihat Alana tergeletak sendirian di depan kamar mandi dengan darah berceceran, tidak ada seorang pun disana. Arsenio berlari menghampiri Alana, cowok itu mengeluarkan sapu tangan dari saku nya dan membersihkan darah di hidung Alana.

Arsenio menatap wajah Alana yang terlihat pucat, tanpa isakan laki-laki itu menangis dalam diam. Arsenio merasa sangat brengsek, bajingan, dan sampah, saat gagal menjaga Alana. Cowok itu memeluk Alana yang masih tidak sadarkan diri dengan erat.

"Gue sayang lo, Lan. Gue gak main-main, gue beneran sayang sama lo. Gak ada niat satu pun dalam hati gue buat nyakitin lo, gak ada"

"Semua ini sulit Lan. Rahasia yang gue simpan bertahun-tahun tanpa ada siapapun yang tahu kecuali Dinda. Bahkan opah, papa, dan curut-curut itu-Adit, Axel, Andro, dan Guntur mereka tidak tahu apa-apa"

"Cewek itu mengancam gue, Lan. Gue gak bisa apa-apa. Bukan cuma lo, keluarga gue, dan curut-curut itu akan merasakan dampak nya. Gue gak mau jadi beban tambahan buat mereka"

"Maaf Lan. Gue bukan pacar yang baik, gue selalu gagal jagain lo, gue selalu bohong sama lo, gue sering nyakitin hati lo. Maafin gue"

"Tetap bertahan demi gue Lan. Gue sayang lo" bisik cowok itu pada Alana yang tidak bisa mendengar nya.

***

SPOILER PART 49

"Dia sakit Lan, Arsenio butuh lo!"

ARSENIO✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang