39. Teror di Kamar Mandi.

4.3K 266 25
                                        

"Makasih ya kak Arsen! Aku suka banget tinggal di rumah kakak, banyak mainan nya" ujar Arya, senang. "Makasih juga ya kak, kak Arsen mau jagain kak Ana"

Arsenio mengacak rambut Arya, "oke! Sama-sama!"

"Kamu nggak mau mampir dulu kak?" tawar Alana.

"Gak, gue banyak urusan di markas"

Arya mendekat ke Arsenio, cowok itu menumpukan kedua lutut nya di tanah untuk mensejajarkan tinggi nya dengan Arya. Anak laki-laki itu mendekatkan bibir nya pada telinga Arsenio dan berbisik, "udah berhasil nembak kak Ana, kak?"

"Belum Ar. Doain kakak terus ya?" bisik Arsenio balik.

"Siap kak!"

"Pinter" Arsenio mengacak rambut Arya kemudian berdiri.

"Arya masuk ke rumah dulu ya kak?"

"Iya" Alana mengusap kepala Arya penuh kasih sayang, anak laki-laki itu langsung berlari masuk ke rumah.

"Gue balik dulu, Lan. Lo langsung masuk rumah, kalo ada apa-apa langsung hubungi gue" ujar Arsenio sambil menaiki motor nya.

"Iya, hati-hati kak"

"Hm" laki-laki itu melesat pergi dengan motor nya meninggalkan rumah Alana.

***

"Di salah satu dari kita ada seorang penghianat" ujar Arsenio sesekali menyeruput kopi nya. Kelima cowok yang duduk lesehan di tikar langsung terkejut. Malam itu anak-anak STARES sedang keluar balapan. Kesempatan itu Arsenio pakai untuk berunding bersama para sahabat nya. Adit, Axel, Andro, Guntur, dan Gala.

"Lagi?"

Arsenio mengangguk. Cowok itu menatap satu persatu sahabat nya, "gue harap penghianat itu bukan salah satu dari anggota inti STARES"

"Gue yakin penghianat itu kompolan dari Ferdi yang masih berselimut muka domba" imbuh nya.

"Kita harus hati-hati mulai sekarang" kata Guntur sambil memijat pangkal hidung nya, dia tidak menyangka banyak penghianat dari STARES.

"Dari awal kayak nya si Ferdi itu sudah mata-mata musuh, dia masuk memang untuk menghancurkan STARES" Adit mulai membuka suara, dia ikut berpikir keras.

"Sumpah gue baru tau dari lo Sen! Tapi perasaan tidak ada yang mencurigakan di markas kita" ujar Axel dengan kening berkerut. "Semua berjalan normal seperti biasa"

"Penghianat ini emang ada, Xel" jawab Arsenio, santai.

"Dia lebih cerdik dari Ferdi. Gue yakin, penghianat yang satu ini tidak bisa di remehkan begitu saja" Adit kembali membuka suara.

"Ealah! Serius amat lo pada! Nih martabak, gih makan! Keburu habis!"

"MAKAN MULU LO NDRO!" semprot Gala.

"Kalo lo gak mau ya udah! Biar gue aja!"

"Serius Ndro! Seriusss" desis Axel, dia mengusap wajah nya kasar, "gak makan sejam, bisa gak?"

"Enggak bisa Xel! Laper mulu gue! Apa lagi nih, makanan di markas enak-enak!"

"LO PUASA MAKAN SEMINGGU NDRO!"

"AMPUN SEN!"

"Aduh! Kebelet pipis! Gara-gara lo sih Gal! Ngasih gue banyak es teh! Jadi beser kan gue!"

"Dih! Lo juga mau anjir! Pake nyalain gue lagi!" Gala menggeser tubuh nya ke sebelah Axel.

"Ngapain lo masih berdiri di situ bangsat?! Buruan ke toilet! Kencing di sini gue tampol lo!" Arsenio menunjukkan tangan nya yang sudah siap menampol orang.

ARSENIO✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang