49. Teror Kedua.

3.4K 214 5
                                        

PART 49
SUDAH REVISI
HAPPY READING.

-

-

-

***

Alana membuka mata nya, setelah 2 jam pingsan sebab sakit di kepala nya akibat benturan keras di dinding toilet sekolah. Siapa lagi pelaku nya kalo bukan Dinda. Gadis itu masih mengingat dengan jelas Arsenio datang dan menggendong Dinda pergi bukan diri nya, padahal di sini Alana yang terluka bukan Dinda. Rasa sesak itu kembali menghampiri hati Alana. Sesayang itukah Arsenio pada Dinda?

"Lan, lo udah sadar? Makan dulu"

Alana menoleh, terdapat sosok Liana yang meletakkan bubur di nakas. Hanya Liana, tidak ada Arsenio. Lalu kemana dia? Apakah bersama Dinda? Di saat ia sakit begini?

"Makasih ya, Li. Udah nolong aku" ucap Alana.

Liana menatap sahabat nya dengan sendu, "bukan gue yang nolong lo, Lan"

"Terus?"

"Kak Arsenio"

"Kemana sekarang dia?" Alana celigukan mencari sosok Arsenio yang tidak terlihat sama sekali di pandangan mata nya.

"Dia pergi sama sahabat nya"

Deg!

Pelupuk mata Alana kembali di penuhi air, ia sekuat tenaga mencegah air mata itu agar tidak turun.

Liana mengusap pundak Alana, dia tau sahabat nya itu hendak menangis, tak terasa cairan bening dari pelupuk Liana juga turun membasahi wajah nya, "kita berhak bahagia Lan. Gue tau kita memang miskin, tapi gak seharusnya di perlakukan seperti ini"

Alana sedikit terkejut dengan Liana saat ini, dia mengernyit bingung, "maksud kamu?"

Liana tertawa hambar, "bukan lo aja yang ngerasain ini, gue juga"

"Kamu dan kak Adit-"

"Sama kayak lo dan Arsenio, ini mantan bukan sahabat. Emang ya, dekat tapi tidak jadian itu sakit" jeda sejenak, "apa lagi patah hati sebelum jadian. Ngenes banget gue"

"Ternyata benar, seburuk-buruk nya berharap adalah berharap pada manusia" imbuh Liana, mengusap bersih sisa tangis nya.

Alana menoleh ke jendela ruangan untuk menyembunyikan wajah lelah nya di depan Liana, bukan pemandangan bagus yang dia dapat. Melainkan pemandangan yang sangat tidak mengenakkan. Pacar nya sakit, dia malah bersama sahabat nya. Bergandengan tangan, bermesra-mesraan di luar sana.

Hati Alana mencelos, mata nya terbelalak lebar ketika melihat Dinda mencium pipi kanan Arsenio, laki-laki itu terlihat tidak mengelak. Alana tidak mengeluarkan air mata sedikit pun, dia sudah terbiasa, hanya sakit dalam dada yang kini sedang ia rasakan.

Sebenarnya sayang kamu ke aku, asli nggak sih?

***

Hari ini cafe tutup karena pemilik nya sedang liburan entah kemana, Alana sedang menggoreng gorengan di dapur. Arya rindu gorengan ibu kata nya.

Beberapa menit, Alana meniriskan gorengan di piring yang ada dan ia meletakkan di meja makan. Arya sudah duduk di sana.

"Kak"

"Hm?"

"Aku lihat kak Ana seminggu ini sedih mulu? Kenapa?"

Alana mengulum senyum, "nggak sedih kok Ar, kamu cepetan makan ya, terus tidur sudah malam"

"Beneran? Kak Arsen nggak nyakitin kak Ana kan?"

"Nggak kok, udah cepetan makan" Alana mengusap rambut Arya, saat ini hanya Arya yang dia punya, semoga tuhan tidak merenggut adik satu-satu nya itu.

Setengah jam berlalu, Arya sudah terlelap tidur. Alana melangkah ke kamar nya, hari ini begitu menyakitkan dan melelahkan, ia akan tidur sekarang meskipun jam masih menunjukkan pukul 20.10.

Tok. Tok. Tok.

Langkah Alana terhenti, ia memutar balik arah nya dari ke kamar menuju ke pintu depan rumah nya. Apakah Arsenio? Tapi kenapa nggak gedor-gedor seperti biasa?

Alana membuka pintu rumah, dia terkejut ketika melihat sebuah kotak, gadis itu mengedarkan pandangan nya, sepi. Tidak ada orang. "Dari siapa ya?"

Tidak ada jawaban. Suasana malam itu masih sama sepi dan tidak ada orang. Jantung Alana berdegup tidak semestinya, apa lagi ini? Sudah lama ia tidak mendapatkan teror setelah beberapa bulan yang lalu. Meski begitu, Alana masih belum mengetahui siapa yang menerornya sedemikian rupa. Apakah Dinda? Nggak mungkin! Teror ini terjadi jauh sebelum Dinda datang.

Alana membawa kotak tersebut masuk ke rumah, tertera nama nya di bagian luar atas kotak misterius tersebut.

To: Alana Amelia.
Selamat menikmati
permainan.

Alana membuka tutup kotak itu dengan tangan bergetar. Foto Arya berlumur darah, membuat Alana hampir memekik terkejut. Gadis itu membalik bagian belakang foto. Saat membaca tulisan itu hati Alana semakin merasa takut.

Sasaran kedua.
Segera mati!

Alana menarik secarik kertas di bawah foto tersebut lalu membaca nya.

Pelangi itu indah.
Tapi gak dengan gue.
Gue slalu jadi pelangi.
Tapi mereka tak anggap indah.
Semua itu karna lo.
Hadir lo dalam hidup gue,
Menghancurkan segala nya.
Hidup gue gelap gara² lo!
Fakta itu buat gue makin benci lo,
Gue gak akan biarkan,
Lo rebut semua dari gue!
Lo pasti habis!
Sebelum waktu itu tiba!
M A T I !

"Ini maksud nya apa sih? Aku nggak punya musuh" Alana menjambak rambut nya sendiri, dia terus berpikir keras apa maksud pengirim teror itu.

Drtt..Drtt..

Alana membuka ponsel nya, telepon masuk dari Andro. Sebelum nya Arsenio sudah menelpon nya berkali-kali namun ia tolak. Apa Arsenio menggunakan hp Andro untuk menelpon diri nya? Kenapa nggak menemui langsung? Alana menggelengkan kepala, ketika bayangan Dinda mencium Arsenio terbayang sekilas di pikiran nya. Gadis itu menarik tombol hijau, telepon pun tersambung.

"Dia sakit, Arsenio butuh lo Lan!" ujar Andro mengebu, membuat Alana langsung terserang rasa khawatir.

"Sakit apa kak?"

"Cepet kesini!"

***

Alana sampai di rumah Arsenio, sebelum kesini dia sudah menyimpan kotak itu dalam kamar nya. Alana sudah mengunci pintu rumah dan memastikan Arya aman di rumah. Rasa sakit hati nya sirna begitu saja ketika mendengar suara Andro yang terdengar sangat cemas.

Gadis itu melangkah masuk, di sana sudah ada 5 orang cowok-Adit, Axel, Andro, Guntur, dan Gala. Alana menghampiri mereka dengan perasaan khawatir nya, "kak, kak Nio kenapa?"

"Arsenio sakit, tadi di markas wajah nya tiba-tiba pucat begitu saja Lan. Akhir-akhir ini Arsenio sering seperti itu" ujar Adit.

"Sebenarnya kak Nio sakit apa?" tanya Alana tidak sabaran.

"Kata dokter cuma kacapean, Arsenio nunggu lo di kamar nya. Bi Siti pulang kampung kemarin karena saudara nya sakit" jelas Adit. Alana langsung berlari menuju kamar Arsenio.

***

SPOILER PART 50.

"Lo perempuan paling cantik setelah mama, Lan. Jangan pernah pergi, apapun yang terjadi"

ARSENIO✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang