"Lan"
Lamunan Alana seketika buyar kala mendapati Arsenio memegang pundak nya. Gadis itu berdiri, menatap laki-laki di depan nya dengan tatapan sendu, "ngapain kamu kesini?"
"Lan gue-"
"Udah puas bohong nya? Mau kamu sebenarnya apa sih?" tanya Alana dengan suara lirih, dia mati-matian menahan air mata nya yang sudah di ujung tanduk.
"Gue bisa jelasin"
"Jelasin kalo aku lagi-lagi salah paham? Iya?"
Arsenio diam, dia hanya menatap gadis di depan nya tanpa membuka suara. Hal itu membuat hati Alana semakin sakit. Gadis itu sudah tidak kuasa menahan air mata nya, cairan bening yang tertahan di pelupuk mata sekarang berjatuhan membasahi pipi nya.
"Kalo kamu masih sayang sama kak Dinda, bilang aja kak, aku nggak apa-apa kok. Kamu nggak perlu berbohong lagi seperti ini.." suara Alana semakin parau, isakan kecil keluar dari bibir nya.
Arsenio menarik Alana ke dalam pelukan nya, pundak gadis itu bergetar hebat, Arsenio semakin mengeratkan pelukan nya, mengusap rambut lembut milik Alana, "gue sayang sama lo, Lan. Gue cinta sama lo. Dan gue gak ada rasa apa-apa pada Dinda"
"Ka-kamu bo-bohong..."
"Gue gak bohong Lan, gue gak bohong. Gue beneran sayang sama lo"
"Terus kenapa kamu bohong sama aku? Kenapa nggak terus terang saja kalo kamu lebih milih nganterin kak Dinda? A-aku lebih suka kenyataan pahit karena jujur dari pada--"
"Gue gak bohong Lan, gue memang ada urusan sama anak-anak. Dan saat gue mau berangkat Dinda keseleo--"
"Pergi kak, ini udah malam" potong Alana cepat.
"Jangan usir aku Lan, a-aku cuma sayang sama kamu. Maafin aku" Arsenio semakin mengeratkan pelukan nya, tanpa terasa setetes demi setetes air mata berjatuhan dari pelupuk mata nya, "aku sayang sama kamu, Lan. Aku nggak mau kehilangan kamu"
Alana tidak menjawab, gadis itu masih menangis. Di bohongi oleh orang yang kita sayang, sakit nya berlipat-lipat. Alana meremas jaket Arsenio, menyalurkan rasa sakit yang membara dalam dada nya.
"Maafin aku ya, Lan?"
Alana belum menjawab, gadis itu masih menangis, hati Arsenio semakin tersayat mendengar dan melihat isakan yang keluar dari bibir Alana.
Beberapa menit kemudian, Alana mulai membuka suara, "jangan di ulang lagi" cicit gadis itu.
Arsenio mengangguk kuat, "iya, aku janji nggak akan ngulang lagi"
Alana melepaskan pelukan nya, seketika kedua tangan Arsenio langsung mengusap bersih air mata yang membasahi pipi Alana, "senyum manis nya mana nih?"
Alana menarik senyuman nya, Arsenio mengacak gemas puncak kepala Alana, "cantik" ucap nya, pipi gadis itu langsung bersemu merah.
"Besok jalan ya?"
"Belajar aja deh kak, seminggu lagi kan ada UAS. Aku nggak mau kamu kesulitan menghadapi UAS, oke?"
"Oke siap! Nggak masalah belajar 7 hari 7 malam, asal belajar nya sama bu guru cantik"
Alana mencebik, "preett, awas pas belajar nanti ngantuk"
***
"Arya, main sama Bi Siti yuk, ke atas" Bi Siti menyambut hangat kedatangan Alana dan Arya. Wanita paruh baya itu sangat menyukai Arya, karena memang tidak pernah mempunyai anak.
"Ayok Bi!" Mereka berdua langsung menuju ke lantai atas untuk bermain. Meninggalkan Alana dan Arsenio di ruang tengah.
"Aku ambil buku dulu"
KAMU SEDANG MEMBACA
ARSENIO✔
Novela JuvenilArsenio Reygan Devantara. Arsenio, cowok nakal nan kejam dengan tatapan setajam macan, berandalan, tidak punya hati, dan seenaknya sendiri. Ketua geng Stares yang paling di segani. Tidak ada yang berani berurusan sama dia, kalo ada itu namanya cari...
