3. Babu!

7.9K 372 4
                                        

Malam itu udara terasa dingin, bagaimana tidak dingin? Nio mengendarai motor nya dengan kecepatan di atas rata-rata. Ya, namanya juga cowok berjiwa berandalan pasti ya seperti itu. Biasa nya dalam drama sinetron, sang cowok akan memberikan jaket nya pada cewek, lalu cewek tersebut akan memeluk sang cowok dari belakang untuk memberikan kehangatan. Tapi hal itu tidak terjadi pada Alana dan Nio, boro-boro minjemin jaket. Dari awal saja cowok itu sudah menyumpah serapahi nya 'Mati ditempat'. Sungguh pemandangan yang tidak romantis.

Arsenio semakin menancap gas nya, dia ingin sekali balapan malam ini dengan teman-teman nya. Tapi nasib sial selalu memihak pada cowok itu. Sialan!. Alana semakin mengeratkan pegangan nya di pundak Nio. Bagaimana pun juga, dia tidak mau mati muda. Apa lagi mati dalam keadaan terhempas dari motor, bisa viral nanti di medsos. Mengingat banyak netizen yang bermulut pedas.

"Kak, jangan ngebut. Aku nggak mau mati muda!" kata Alana agak keras supaya Nio bisa mendengar nya.

Nio berdecak, "ribet banget hidup lo! Pegangan aja! Lebay banget sih!"

Alana memilih diam meski dalam hati nya sangat takut mati muda. Percuma bicara dengan Nio, cowok itu sangat bebal dan keras kepala. Ngomong sama dia sama seperti ngomong sama tembok. Percaya lah.

Sepanjang perjalanan gadis itu kepikiran Arya-adik nya. Kenapa sih harus Arya? Kenapa bukan diri nya saja yang sakit kanker paru-paru stadium awal? Arya masih kecil umur nya saja masih 8 tahun-kelas 2 SD, perjalanan nya masih panjang. Arya harus sembuh, Alana akan berusaha mencari uang untuk berobat Arya.

***

Arsenio menghentikan motor nya, dia sudah sampai di pelataran rumah yang sangat besar dan mewah, tapi percuma di dalam nya tidak ada kebahagiaan sama sekali. Hanya kesepian dan kehampaan yang membuat siapapun tinggal di sana pasti tidak akan betah, termasuk Nio sendiri. Cowok itu setiap malam menghabiskan waktu nya dengan berkumpul bersama anggota geng nya.

"Turun! Udah sampe nih! Lelet banget!" titah nya, Alana masih terpesona dengan bunga-bunga yang ada di taman rumah. Sedikit info Alana menyukai bunga, bunga-bunga itu benar-benar indah. Pasti mahal, pikir Alana.

"TURUN! BUDEG!!" cowok itu menahan emosi yang mengebu dalam diri nya, untung cewek!. Kalo nggak bisa habis dia.
Alana segera turun, takut di terkam macan. Mata nya berbinar, melihat rumah yang yang mewah bak istana. Halaman depan rumah nya saja lebih luas jika di bandingkan dengan rumah Alana.

"Kamu ngapain ngajak aku-"

"Nggak usah aku-kamu. JIJIK!" Nio menoleh ke samping, menatap tajam Alana, membuat gadis itu sedikit ketakutan. "Denger ya, lo harus batalin persetujuan guru privat itu!" imbuh Nio sambil menekan setiap perkataan nya.

"In-insya Allah k-kak" jawab Alana ragu,

Nio berjalan mendahului Alana, gadis itu mengikuti nya dari belakang. Mereka berdua masuk ke ruang tamu, disana sudah ada pria tua yang menunggu kedua nya.

"Assalamualaikum, pak" Alana menyalami pak Devan-kakek Nio. Orang tua itu tersenyum ramah, kakek nya ramah sedangkan cucu nya? Sungguh terlampau kejam. Hal yang sangat mengherankan, mengapa bisa berbanding terbalik?

"Waalaikumsalam. Panggil saya opah saja, Alana" kata beliau.

"Ba-baik opah"

"Silahkan duduk,"

Alana duduk di sofa, sedangkan Nio? Cowok itu melangkah pergi tanpa permisi. Urusan sudah selesai gas balapan, pikir nya, bersemangat.

"NIO! MAU KEMANA KAMU?!" panggil pak Devan dengan suara bergemuruh seperti petir yang menyambar keras. Sontak langkah Nio langsung terhenti. Dia menghela nafas berat, cowok itu berbalik, "mau balapan opah, kenapa lagi? Tugas Nio udah selesai" jawab nya, jujur dan apa adanya.

ARSENIO✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang