21. Sisi Gelap Arsenio.

5.1K 306 3
                                        

Alana bersenandung kecil sambil mengkayuh pidal sepeda nya, dia pulang lebih sore dari biasa nya karena ada pembinaan Olimpiade seperti biasa. Kurang 3 hari lagi, Alana harus bergelud dengan soal-soal Olimpiade. Dia harus mempersiapkan dengan matang, hadiah nya lumayan untuk biaya berobat Arya, kanker darah nya memasuki stadium kedua.

Alana menatap gang menuju rumah nya dalam perbaikan, terpaksa ia harus melewati jalan Cendarawasih-jalanan yang terkenal cukup sepi dan angker. Banyak orang yang kecelakaan di sana dan meninggal di tempat. Hih ngeri!

Tidak ada jalan lain menuju ke rumah selain jalan cendtawasih tersebut. Alana merapal doa dalam hati nya, semoga ia tidak di ganggu oleh arwah-arwah yang masih gentayangan.

Di tengah jalan, sebuah motor klx menghadang jalan nya. Alana mengenal cowok di balik helm itu. Alex, mau apa lagi dia?

Alana turun dari sepeda nya, "mau apa kamu?! Belum puas bikin aku babak belur kemarin?!"

Alex mendekat sedangkan Alana berjalan mundur, "emang lo pikir lo siapa? Orang penting yang tidak boleh gue lukai? Atau seorang ratu? Ah! Ratu gorengan cocok buat lo!"

"Gak usah basa-basi deh! Mending kamu pergi! Atau aku teriak?!"

"Teriakin para genderuwo disini? Itu maksud lo?" Alex tertawa hambar, dia mendorong Alana. Membuat gadis itu terjatuh di aspal yang panas. Alex lalu menjambak rambut Alana, hingga kepala nya mendongak. "Gue benci sama lo! Benci! Gue ingin lo musnah dari muka bumi ini!"

"Aku nggak punya salah sama kamu!" Alana mencoba melepaskan tangan Alex yang mencengkeram kuat rambut nya, cowok satu ini benar-benar sadis.

"Emang lo nggak punya salah sama gue! Tapi lo punya banyak salah sama orang yang gue sayang!"

"Aku gak ngerti maksud kamu!"

"Jangan sok bego! Gue tau otak lo cukup pintar!" Alex berjongkok, ini kesempatan nya untuk menghabisi Alana, mumpung sepi.

"Lo sumber dari segala penderitaan dia!" Alex melepas jambakan nya, lalu beralih mencengkeram pipi Alana, kuat. Gadis itu meringis kesakitan, semua yang dikatakan Alex sama sekali tidak nyambung dengan cerita hidup nya. "Gue mau lo mati!"

Alana berdiri karena tarikan kasar dari Alex, sungguh tenaga nya tidak cukup untuk melawan laki-laki di depan nya. "Ikut gue sekarang!" Alex menarik paksa lengan Alana. Gadis itu memberontak, Alex mendesah kesal.

"BISA NURUT GAK SIH LO?! RIBET BANGET! UDAH KERE! GAK PUNYA BAPAK! NYOKAP LO PASTI PEREMPUAN JALANG!"

PLAK!

Alana menampar keras pipi kanan Alex, ia menoleh ke kanan. "KAMU BOLEH HINA AKU! TAPI JANGAN PERNAH KAMU HINA IBU KU! JI-"

BUGH!

BRUK!

DAG!

Alana terkapar di aspal dengan darah segar yang mengalir di lutut, sudut bibir, dan dahi nya. Benturan keras itu, membuat Alana pusing dan sakit luar biasa di bagian kepalanya. Tak terasa darah segar sudah mengalir dari kedua lubang hidung perempuan tersebut. Tidak hanya itu pipi nya juga lebam.

Alex mendekat, Alana mencoba kabur tapi kepala nya terasa sangat berat. Pandangan mata nya meremang, lalu mulai menghitam dan ia pun tidak sadarkan diri.

"BRENGSEK MATI LO!"

BUGH!

BUGH!

BUGH!

Cowok berjaket kulit, dengan headband yang terikat di kepala nya, menarik kerah seragam Alex dari belakang dan langsung menghajar laki-laki bajingan itu. Alex kaget dengan kemunculan Arsenio tiba-tiba.

Wajah Arsenio sungguh mengerikan, Alex melihat wajah itu lagi, setelah kebakaran besar yang menimpa Dinda sekeluarga. Sial! Sisi gelap Arsenio yang sebenarnya muncul kembali, Alex bisa sekarat di tangan laki-laki kejam tidak berperasaan seperti Arsenio.

"BANGUN LO BANCI! SEGITU AJA KEMAMPUAN LO?! MATI LO DISINI!" Arsenio menginjak leher Alex dengan sepatu nya, sedangkan yang diinjak sudah babak belur, eh! Sudah bonyok lebih tepat nya, darah Alex mengalir dari berbagai arah di wajah nya sungguh memilukan!

"BANGUN!! BUDEG LO?!" Arsenio semakin menekan kaki nya di batang leher Alex, membuat ia semakin tidak bisa bernafas.

"Gi--gimana bisa bangun bangsat! Le-leher gue lo injek!"

"UNTUNG MASIH GUE INJEK! BELUM GUE PATAHIN LEHER LO!" Arsenio menarik seragam Alex, cowok itu berdiri.

BUGH!

BUGH!

BUGH!

Arsenio kembali menghajar cowok itu, persetan dengan keadaannya. Alex sudah hampir sekarat dengan keadaan memilukan nya sekarang. Arsenio kini menekan dada Alex dengan sepatu nya, "lo sentuh Alana sekali lagi, mati lo di tangan gue!"

Sebuah motor mendekati kedua nya, laki-laki berhoodie putih turun dari motor nya, "SEN! BANGSAT LO!"

Laki-laki itu akan melayangkan pukulan nya pada Arsenio. Arsenio berbalik, dengan cepat dia menangkis tangan Albara dan melayangkan tinjuan tepat di wajah Albara. Sudut bibir nya sobek dan mengalir darah segar.

"URUS ANGGOTA LO YANG BANCI ITU BAR! LO DAN ANGGOTA LO SAMA-SAMA BRENGSEK!" Arsenio meludah tepat di wajah Alex. Ingin sekali menghajar Albara, tapi Alana lebih penting. Dia lalu menghampiri Alana yang sudah tergeletak tidak berdaya karena ulah Alex. Kemudian menggendong gadis itu.

Albara membeku melihat Alana terluka separah itu, dia langsung menyeret Alex, "BALIK KE MARKAS BANGSAT!"

Arsenio menuju mobil nya dengan langkah tergesah. Dia meletakkan Alana di kursi mobil sebelah nya, lalu memasangkan seatbelt pada tubuh gadis itu. Ia mulai mendorong sandaran kursi ke belakang supaya Alana bisa tiduran di sana.

"Lan, lo denger gue kan?" Arsenio menepuk pelan pipi Alana, gadis itu sama sekali tidak membuka mata nya. "Bangun Lan!"

Arsenio meraih sekotak tisu basah di jok mobil, persetan itu milik siapa. Dia kemudian membersihkan darah di wajah Alana, pelan-pelan.

Setelah bersih, Arsenio membuang tisu basah yang sudah kotor dengan darah ke sembarang arah, dia menatap lekat wajah pucat Alana. Kemudian mengusap puncak rambut gadis itu, "lo cantik Lan, tapi gue belum sayang"

Arsenio menjalankan mobil nya, tapi gue gak tau kenapa hati gue sakit saat lo dekat sama Aggam ataupun Albara. Batin Arsenio, bingung.

***

ARSENIO✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang