Alana bersiap berangkat sekolah, jika setiap pagi Arsenio sudah berdiri di depan pintu rumah untuk berangkat bareng, pagi ini Alana tidak melihat batang hidung Arsenio. Padahal kemarin dia sudah bilang kalo mau jemput.
Senyuman Alana seketika sirnah begitu saja. Gadis itu menarik nafas panjang lalu membuang nya. Pasti Arsenio kesiangan, ya pasti dia kesiangan jadi nggak bisa jemput, pikir Alana.
Jarum jam menunjukkan pukul 6.05, Alana memilih menunggu Arsenio mungkin sebentar lagi datang. Lama Alana menunggu, hingga tak terasa waktu telah berjalan 15 menit. Kini jam menunjukkan pukul 6.20.
Gadis itu sudah menghubungi Arsenio, namun hanya centang satu. Alana ingin menunggu lebih lama, tapi mengingat hari ini hari Senin, dia harus berangkat pagi karena 15 menit lagi upacara bendera akan segera berlangsung.
Akhir nya, Alana memutuskan untuk naik angkot. 5 menit angkot tak kunjung datang. Alana semakin gelisah, dia nggak mau telat. Tapi memang pagi ini ia susah cari angkot.
Tin!
"Lan! Ngapain lo disitu?"
Alana menoleh karena seruan seseorang, mata nya membulat kala melihat Aggam dengan pakaian santai, cowok itu memang di skors sebulan.
"Cari angkot"
"Nggak ada angkot! Mending gue anter, tenang Lan, gue gak akan celakain lo" ujar Aggam.
Alana masih menimang-nimang, dia takut Arsenio lihat dan marah, tapi mengingat waktu nya mepet Alana tidak punya jalan keluar lagi, dia pun menerima ajakan Aggam untuk bareng dengan nya.
***
5 menit sebelum gerbang di tutup, Alana sudah sampai sekolah. Dia bernafas lega, untung ada Aggam tadi di jalan. Gadis itu sempat menanyakan Arsenio pada pak satpam, dan kata nya memang cowok itu belum datang.
Apa kak Nio cari aku di rumah? Batin Alana gelisah, dia tidak mau Arsenio sampai di hukum karena telat.
Alana melangkah menuju kelas, namun suara motor yang sangat Alana kenal menghentikan langkah nya, itu pasti Arsenio. Senyuman di wajah nya mengambang, gadis itu berbalik. Realita tak semanis ekspestasi.
Hati yang kemarin berbunga-bunga kini rasanya di hantam berton-ton baja, di tusuk dengan ribuan pedang, di robek-robek kenyataan. Mata Alana memanas bahkan sekarang cairan bening itu telah membasahi pipi nya tanpa permisi. Alana menggigit bibir bawahnya, supaya isakan tidak keluar dari sana.
Alana memukul dada nya yang terasa sesak dan sakit, lagi-lagi Arsenio tidak menepati janji nya, dia berbohong lagi. Hari ini laki-laki itu berangkat bersama Dinda di boncengan nya. Cewek itu memeluk pinggang Arsenio mesra, sambil menumpukan dagu nya di pundak cowok itu.
Arsenio tidak melihat Alana, karena tubuh ringkih gadis itu ketutupan pohon mangga. "Kenapa tega, kak?" lirih nya.
Alana ingin menghampiri kedua nya, namun suara spiker dari pak Memet membuat Alana mengurungkan niat nya. Gadis itu menghapus bersih sisa air mata nya dan berjalan menuju ke kelas.
"UNTUK SELURUH SISWA/I SMA BINTANG MOHON SEGERA MENUJU LAPANGAN KARENA UPACARA BENDERA AKAN SEGERA DI MULAI!"
***
Upacara berjalan dengan kidmat, membuat jalan nya upacara menjadi lancar sehingga cepat selesai. Alana berjalan menuju kelas nya bersama Liana, namun tiba-tiba di tengah jalan Alana kebelet. Gadis itu menyuruh Liana kembali ke kelas terlebih dahulu karena ia akan ke toilet.
Setelah keluar dari toilet, Alana di kejutkan dengan Arsenio yang sudah berdiri di depan pintu toilet perempuan. Hati Alana terasa sakit, namun ia membuat ekspresi seolah-olah dia sedang baik-baik saja, untuk mengetes bagaimana kejujuran Arsenio setelah ini.
Alana tersenyum kala Arsenio menyapa nya dengan sapaan romantis seperti biasa, "halo kucing cantik"
"Halo"
"Maaf ya, tadi aku bisa jemput kamu. Kamu nggak terlambat kan sayang?" Cowok itu mengusap pipi kanan Alana.
Alana menggeleng, masih berpura-pura baik-baik saja, "nggak terlambat kok, kak. Kenapa nggak jemput?"
"Aku kesiangan bangun tidur, jadi nggak bisa jemput"
"kesiangan bangun tidur atau karena kesiangan sebab jemput kak Dinda? Berboncengan, peluk-pelukan mesra, masuk gerbang satu menit sebelum di tutup?" suara Alana semakin parau, dia sudah tidak bisa menyembunyikan air mata nya yang telah tetkumpul di pelupuk mata. Perlahan cairan bening itu kembali keluar dari tempat nya.
"Lan-"
"Kamu bohong lagi. Kamu udah janji nggak akan pernah mengulangi itu, kenapa kamu melakukan itu kak? Kamu tau aku cemburu..." ucapan Alana menggantung di udara. Gadis itu menarik nafas panjang dan kembali membuka suara.
"Aku cemburu saat kamu jalan sama kak Dinda yang notabenya adalah sahabat kamu. Kamu pikir hati aku ini apa?"
"Dia cuma sahabat aku Lan"
"Kita dulu juga teman" ujar Alana, Arsenio langsung diam seribu bahasa.
"Sebenarnya pacar kamu, aku atau kak Dinda? Aku nggak apa-apa kok, kalo kamu berangkat bareng kak Dinda, jujur saja nggak perlu bohong. Aku bisa maklumin kalo waktu kamu nggak harus sama aku terus, ada kala nya sama sahabat kamu, tapi nggak gini juga caranya. Aku nggak suka di bohongin" jeda sebentar,
"Karena jika seseorang membohongi aku, aku ngerasa kalo aku nggak berguna dalam hidup orang itu" lanjut Alana, air mata nya terus mengalir membasahi pipi gadis itu.
"Maaf Lan"
"Nggak perlu minta maaf kalo akhir nya kembali di ulangi. Nggak perlu janji kalo akhir nya nggak bisa nepati" Alana melangkah pergi, Arsenio mencegah gadis itu. Namun Alana menepis nya.
Arsenio akan mengejar Alana, namun lengan nya di tarik seseorang, "nggak usah ngejar dia Sen, mending balik ke kelas sama gue" ujar nya.
Dia, Dinda-sahabat Arsenio. Cowok itu mengikuti langkah Dinda dan tidak memberontak, Alana bisa melihat sekarang Arsenio pergi sama Dinda menuju kelas mereka. Hati Alana semakin terasa sesak.
Bahkan kamu lebih memilih kak Dinda, daripada aku pacar kamu sendiri.
***
SPOILER PART 48.
Aku yang sakit kak, kenapa kamu malah gendong kak Dinda yang hanya pura-pura? batin Alana, sesak.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARSENIO✔
Teen FictionArsenio Reygan Devantara. Arsenio, cowok nakal nan kejam dengan tatapan setajam macan, berandalan, tidak punya hati, dan seenaknya sendiri. Ketua geng Stares yang paling di segani. Tidak ada yang berani berurusan sama dia, kalo ada itu namanya cari...
