"Tiga hari lagi ulang tahun kak Nio, bang"
"Terus rencana lo apa?" tanya Albara tanpa beranjak dari game online di tangan nya. Sore itu Alana menghabiskan waktu di rumah Albara karena permintaan Diana. Mama Albara itu sudah menganggap Alana sebagai anak kandung nya sendiri. Diana sudah lama ingin anak perempuan namun rahim nya bermasalah. Ya, Albara adalah anak tunggal.
"Aku ingin merayakan nya kecil-kecilan bang, bisa bantu aku belanja nggak bang?"
Albara meletakkan ponsel nya di kursi sebelah, kedua mata nya beralih menatap Alana, "kue dan hadiah aja kan?"
Senyuman Alana merekah, "iya, aku cuma mau beli kue dan kado buat kak Nio, temenin ya bang?"
"Kue gak bisa di beli langsung ogeb! Kudu pesan dulu" Albara memijat pelipis nya, ternyata cewek itu terlalu ribet.
"Apa salah nya sih Bara nemenin Alana beli kado buat Arsenio?" Diana tiba-tiba datang dan duduk di sebelah Alana. Kalo sudah seperti ini, Albara seperti di anak tirikan.
"Tapi ma-"
"Kamu mau beli kado apa buat Arsen, Na?" Diana mengusap rambut Alana dengan lembut. Gadis itu tersenyum simpul, jadi ingat ibu, kalo sama bibi Diana, batin Alana.
"Ana, mau beli kemeja ma, buat kado kak Nio" jawab Alana, sejak dia amnesia Diana menyuruh Alana memanggil nya dengan sebutan mama. Dahulu Alana mengira, kalo Diana adalah mama kandung nya sedangkan Albara adalah kakak kandung nya. Namun setelah ingatan itu kembali, Alana tersadar bahwa dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Ibu dan adik nya telah tiada.
"Bara, kamu cepat siap-siap. Anterin mama dan Alana ke moll" titah Diana.
"Tapi ma--"
"Tapi kenapa sih? Masa ke moll cuma pake boxer dan kaus, nanti mama malah nggak dapet menantu lagi. Udah cepat kamu siap-siap yang rapi, siapa tau ada yang nyantol"
"Ma, Bara bukan jemuran baju" decak laki-laki itu, kesal.
"Cepetan Bara! Atau kamu pake daster mama aja?"
"Ya kali, ma?"
"Ya udah cepetan siap-siap, mama tunggu lima menit harus selesai" final Diana.
"Ya Allah, Bara belum mandi ma"
"Ya udah mangkana cepet mandi Bara!"
Alana tertawa rendah, "maka nya ma, bukan mangkana, hehe"
"Hehe iya, mama keliru sayang. Maklum udah tua"
"Giliran Alana aja di sayang-sayang" dumel Albara sambil menaiki anak tangga.
"Mama denger ya, Bara"
"Ck, elah. Ya ma"
***
Albara mengikuti Alana dan mama nya dari belakang, laki-laki itu merasa sudah seperti bodygard yang mengikuti kemana-mana majikan nya pergi. Padahal di sini Albara adalah anak kandung Diana. Wanita paruh baya itu malah menganak tirikan diri nya kalo sedang bersama Alana.
"Kamu tunggu di situ ya, mama mau kesana dulu" Diana menunjuk salah satu bangku kosong untuk Albara, setelah nya wanita paruh baya itu pergi bersama Alana kebagian kemeja laki-laki.
Albara terpaksa duduk di sana, agar tidak jenuh laki-laki itu bermain game online di ponsel nya. Pandangan laki-laki itu teralih, melihat seorang perempuan dengan gamis hitam, khimar hitam, dan niqob hitam. Meski tidak terlihat wajah nya, hati Albara berdesir halus ketika melihat mata bulat perempuan itu berubah menyipit lucu. Bisa Albara tebak, gadis itu sedang tertawa.
Tidak terasa sudut bibir Albara melengkung ke atas, gadis itu tidak sendirian. Tapi bersama beberapa teman nya. Jantung Albara berdegup cepat, saat mata nya bertemu dengan mata bulat gadis itu. Namun belum satu detik, gadis itu sudah memutus pandangan nya, dia beralih memandang ke arah lain. Apa ada yang salah? Pikir Albara dengan kening berkerut.
"Menjaga pandangan bang"
Albara menoleh ke samping, Alana dan mama nya sudah berdiri di sana, Diana terlihat tersenyum senang karena putra nya yang satu itu sudah mulai jatuh cinta. Meskipun nakal, Albara tidak pernah melakukan yang nama nya pacaran. Laki-laki itu jarang berinteraksi dengan perempuan kalau tidak ada kepentingan.
"Kalo yang itu, mama restuin lillahita'alah" Diana mengacungkan dua jempol nya. Albara tersenyum tipis, laki-laki itu menoleh ke arah gadis berniqob itu berdiri, namun gadis dengan dua teman nya sudah tidak ada di sana. Albara kembali menoleh pada mama nya.
"Bara nggak pantes ma, Bara cowok nakal sedangkan dia gadis alim"
"Bang, cinta itu harus di perjuangin dong. Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini" Alana memberikan semangat pada Albara.
"Udah lah, ayo pulang. Kalian udah selesai kan?"
***
Sepanjang perjalanan pulang, Albara terus kepikiran gadis imut itu. Mata bulat yang menyipit lucu, membuat Albara gemas sendiri. Kiyowo, gemoy, imut, salehah deskripsi yang cocok untuk gadis itu.
Langkah ketiga nya berhenti, ketika sosok laki-laki paruh baya berjongkok di depan Alana. Gadis itu langsung terkejut apalagi mengetahui laki-laki paruh baya itu adalah Hartono-ayah kandung nya.
Hartono menggenggam kedua tangan putri nya, sambil menangis penuh penyesalan, "Alana, maafin ayah ya, nak, ayah--"
"Ayah? Nak? Setelah apa yang kamu lakukan pada Wisma adek aku dan anak-anak nya, ternyata kamu masih punya muka menyebut Alana sebagai anak mu!" Diana menarik tangan Alana dari Hartono.
Pria paruh baya itu berdiri, "saya benar-benar meyesal Diana. Biarkan saya meminta maaf pada putri saya"
"Nggak ada maaf-maafan!" Sentak Diana. "Kamu! Penyebab hidup adik saya menderita! Kurang puas kamu?!"
Alana bergeming di tempat, air mata gadis itu sudah mengalir sejak tadi. Dia dan Albara terdiam ditempat menyaksikan kedua orang tua tersebut.
"Oleh karena itu, saya ingin memperbaiki semua kesalahan saya. Sebelum ajal menjemput Diana, tolong izin kan saya minta maaf pada Alana" pinta Hartono. "Saya sungguh menyesal, menyia-nyiakan keluarga saya"
"Nggak!"
"Ma..Alana mohon ma..Alana juga kangen sama ayah.."
"Tapi Ana--"
"Ma, udah ma. Paman sudah menyesali semua kesalahan nya, biarkan paman minta maaf, ma" bujuk Albara. Diana akhir nya mundur dan membiarkan Hartono minta maaf pada Alana-putri nya.
"Alana, maafin ayah ya nak, ayah menyesal"
Alana menggigit bibir dalam nya, "kenapa harus sekarang yah? Kenapa ayah harus menyesali perbuatan ayah sekarang? Setelah ibu dan Arya sudah tiada?"
"Maafin ayah Alana, ayah mohon..nak" Hartono kembali berjongkok di depan Alana, gadis itu tidak tinggal diam. Dia tidak bisa melihat ayah nya begini, Alana sayang ayah nya. Ia membantu Hartono kembali berdiri.
Gadis itu menarik nafas panjang, "Alana udah maafin ayah, sepenuh nya"
"Terima kasih, nak"
***
KAMU SEDANG MEMBACA
ARSENIO✔
Novela JuvenilArsenio Reygan Devantara. Arsenio, cowok nakal nan kejam dengan tatapan setajam macan, berandalan, tidak punya hati, dan seenaknya sendiri. Ketua geng Stares yang paling di segani. Tidak ada yang berani berurusan sama dia, kalo ada itu namanya cari...
