51. Kepergian Arya

3.6K 227 8
                                        

Seorang anak laki-laki berseragam merah putih lengkap dengan atribut di tubuh nya keluar dari gerbang sekolah Dasar Tuna Bangsa. Anak itu mengelus perut nya, pertanda dia sedang lapar apalagi saat melihat banyak pedagang kaki lima dengan berbagai macam jualan, seperti es lilin, batagor, cimol, dan lain-lain.

Arya memilih berjalan sambil menunduk ke bawah, supaya nafsu untuk membeli makanan seperti teman-teman nya bisa hilang. Arya ingin punya sepeda dan untuk mendapatkan itu, dia harus menabung, menahan semua keinginan untuk beli jajan.

"Dek, adek mau cimol?"

Arya mendongak, "tapi aku nggak punya uang"

"Oh, adek nya nggak usah bayar. Ini saya ikhlas memberi adek"

Mata Arya berbinar, "beneran pak?"

"Iya dek, di makan ya?"

"Makasih pak, Arya doakan rejeki bapak semakin banyak" Arya menerima cimol setengah plastik kecil tersebut. Anak laki-laki itu sangat girang, Arya pun melanjutkan perjalanan pulang nya.

Sepanjang perjalanan, Arya tidak memakan cimol nya. Anak itu ingin memakan nya di rumah, setelah meniriskan di piring, Arya bersiap melahap cimol tersebut, namun adzan dhuhur menghentikan aktivitas nya. Ia memutuskan untuk salat dhuhur terlebih dahulu di musholla terdekat.

Setelah kembali dari musholla, Arya memakan cilok tersebut tak lupa berdoa terlebih dahulu. Tak lama kemudian, anak laki-laki itu muntah-muntah, perut, kepala, dan dada nya tiba-tiba terasa sangat sakit. Wajah Arya memucat, pandangan nya menjadi gelap seketika. Anak laki-laki tersebut tergeletak di lantai ruang tamu dengan kondisi mengenaskan.

"Ibu..kak Ana..to-tolong Arya..." rancau Arya sebelum akhir nya benar-benar menutup mata.

Seorang gadis berhoodie putih menyerigai di balik pohon depan rumah Alana, "misi kedua, selesai!"

***

Alana terkejut dengan keadaan rumah, gadis itu melempar ransel nya asal ke sofa, saat melihat Arya yang tergeletak dengan wajah pucat pasi. Isak tangis Alana seketika pecah saat itu juga, gadis itu melihat cimol yang tergeletak di sana juga muntah Arya di depan rumah. Jantung Alana berpacu lebih cepat, ini di luar perkiraan nya.

"Arya bangun Ya!" Alana mengguncang tubuh Arya dengan kuat, namun anak laki-laki itu tak kunjung bangun. Alana mencari ponsel nya, dia langsung menghubungi Arsenio. Alana mengetikkan pesan di chat whatsapp.

Alana

Kak Nio, bisa tolong aku nggak?

Macan Galak<3
Gue sibuk! Jadi gak ush manja jadi cewek!

Alana menekan tombol telepon, namun dengan cepat di tolak oleh laki-laki itu, hati Alana terasa semakin sakit. Gadis itu kembali menekan tombol telepon, seketika ponsel Arsenio tidak bisa dihubungi saat itu juga.

"Te-tega banget kamu...aku sedang genting kak.."

Jari Alana yang bergetar masih lincah mencari nomor Albara-sepupu nya. Panggilan nya tersambung.

"Ha-halo bang..."

"Kenapa Na?"

"To-tolong aku bang...Arya ke-keracunan bang.."

***

"Maaf mbak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun Tuhan berkata lain"

"Mak-maksud dokter...?"

"Arya telah meninggal dunia, mbak"

"NGGAK MUNGKIN! ARYA NGGAK MUNGKIN MENINGGAL!" Alana berlari masuk ke dalam UGD, di sana seluruh tubuh Arya telah tertutupi dengan selimut rumah sakit. Hati Alana hancur sehancur-hancur nya, Alana tidak punya siapa-siapa lagi selain Arya. Betapa kejam nya penulis takdir mengambil Arya- adik satu-satu nya.

Alana membuka selimut yang menutupi wajah Arya, tangisan Alana semakin menjadi, dia mengguncang tubuh adik laki-laki nya tersebut, "Arya bangun, Ya..jangan pergi ninggalin kak Ana..Arya..kak Ana nggak punya siapa-siapa lagi..hiks!"

"Na, udah Na. Ikhlaskan Arya" Albara mencoba menenangkan sepupu nya itu. Alana tidak kunjung menghentikan tangis nya, malah semakin menjadi.

"Arya meninggal bang... aku nggak pecus menjalankan amanah ibu, bang..." suara Alana tersedat-sedat karena isak tangis nya.

Albara menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukan nya, "ini takdir Lan, jangan nyalahin diri lo terus. Gak ada yang tau kapan datang nya kematian"

Hiks..hiks..

"Aku sayang Arya, bang.. dia adek aku satu-satu nya...aku nggak bisa kehilangan dia bang.."

"Sampai air mata lo habis pun, tidak bisa membuat Arya hidup lagi, Na. Ikhlas kan Na, biarkan Arya tenang di sana. Gue ngerti apa yang lo rasain" Albara ikut meneteskan air mata nya, bagaimana pun Arya masih saudara nya.

"Kak Ana nggak boleh sedih, nanti Arya juga ikut sedih" Arya mencium punggung tangan Alana. Anak laki-laki itu akan berangkat sekolah.

"Kak Ana nggak sedih kok, perasaan Arya aja kali" Alana mengusap lembut rambut adik nya.

"Janji ya? Kak Ana nggak akan sedih lagi"

"Iya, janji!"

"Kalo kak Ana sedih, nanti cantik nya ilang. Terus kak Arsen nggak mau lagi sama kakak"

Alana tertawa, dia mengacak rambut adik nya, gemas, "apaan sih? Anak kecil nggak boleh ngomong gitu, belum waktu nya"

"Arya di ajarin kak Arsen, kak. Nanti kak Ana hukum aja kak Arsen, jangan Arya"

Alana memeluk tubuh Arya, hanya anak laki-laki itu yang bisa membuat mood nya membaik. "Kamu sekolah yang pinter, jangan mikir yang belum waktu nya ya? Kata nya mau jadi pilot?"

Arya mengangguk, dia merenggangkan pelukan nya, "iya kak, pasti. Kalo gitu Arya pergi dulu ya kak? Kak Ana baik-baik di sekolah"

"Iya, kamu juga ya?"

"Iya, assalamualaikum"

"Waalaikumsalam"

"Arya..jangan tinggalin kak Ana.." setelah rancauan  itu Alana tidak sadarkan diri. Albara langsung menggendong tubuh gadis itu. Sedangkan dokter dan para suster menangani jasad Arya.

***

SPOILER PART 52.

"Aku ingin hubungan ini berakhir saat ini juga, kak. Mulai detik ini kita putus!"

ARSENIO✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang