Hari pesta minum teh tiba. Sebenarnya Anastasia benar-benar tidak mau ada di tempat ini. Semalam dia baru mengirimkan surat-surat yang ia bawa pada Daisy dan itu memakan banyak waktu.
Dia hanya tidur selama dua jam saja. Matahari sudah sangat tinggi saat dia tidur.
Menguap lebar, bahu Anastasia disenggol oleh Patricia, membuat gadis itu berdecak.
"Jangan menguap selebar itu." Kalau berada di rumah Patricia memang agak tidak waras, suka berteriak, tapi di depan publik menjadi sangat anggun.
Semua itu berlaku pada setiap anggota keluarganya. Mereka semua seperti orang lain saat di depan publik.
Gaun pilihan sang Mama dan rambut yang di atur oleh pelayan atas intruksi Maria membuat Anastasia terlihat sangat berbeda walau dia merasa semua ini berlebihan tapi saat dia tiba di Istana tampaknya dia tidak begitu berlebihan. Lebih parah lagi orang-orang di sini, padahal hanya sebuah pesta minum teh.
Rambut Anastasia dibiarkan tergerai dengan hiasan bunga hidup yang tentunya buatan Maria. Sarung tangan, anting dan sepatu tinggi. Dia benci ini.
Bahkan dikehidupannya yang dulu dia tidak menyukai barang-barang ini. Dia bukan Patricia yang walau segila itu tetap menyukai perhiasan.
Acara itu lebih ramai dari perkiraan Anastasia, ada banyak orang yang memberikan atensinya saat keluarga mereka memasuki taman yang dijadikan pesta teh.
Gelar mereka mungkin rendah, tapi karena Kakak-kakak mereka dan kedua orang tua mereka yang sering berurusan dengan Istana meskipun gelar mereka hanya sebatas Baron, mereka cukup disegani.
"Anastasia!"
Anastasia menoleh dan tersenyum, Putri Estella berjalan mendekat. "Selamat siang, Tuan Putri."
"Aku senang kau datang." Estella tersenyum lebar. "Kuenya enak, kau harus coba." Estella menarik tangan Anastasia menuju salah satu meja.
"Dia bagian dari Dioxazine?"
Mata Anastasia melirik beberapa bangsawan wanita yang tampak membicarakannya.
"Aku belum pernah melihatnya."
"Dia agak berbeda dengan yang dirumorkan."
"Katanya dia jelek sampai tidak berani keluar."
"Dia kelihatan dekat dengan Putri Estella."
Anastasia menggeleng, bisa-bisanya dia digosipkan diantara para bangsawan hanya karena tidak pernah muncul di acara.
"Ini, cobalah." Estella memberikan sepiring kue cokelat. "Aku tau kau suka cokelat jadi aku minta koki untuk sekalian membuat saja."
"Terimakasih." Anastasia memakan sesendok kue itu. "Ini enak."
Mata Putri Estella berbinar. "Kau suka?"
"Aku suka." Anastasia tersenyum.
Mata Anastasia melirik ke arah para bangsawan yang membicarakan dirinya. Memerintahkan beberapa lebah untuk mengganggu bangsawan-bangsawan itu, membuat mereka agak panik karena datangnya lebah yang entah darimana.
"Menyingkir!" Salah satu dari orang-orang itu berteriak.
Merasa cukup, Anastasia membiarkan para lebah itu kembali pergi. Sedikit senyuman timbul di bibir Anastasia melihat paniknya para bangsawan itu. Ini menyenangkan.
"Kau yang melakukan itu, kan?" Estella berbisik pelan. "Mereka membicarakanmu dari tadi."
"Itu yang mereka dapat karena bergosip." Anastasia meraih salah satu gelas berisi jus. "Ah, ini." Anastasia mengeluarkan sebuah sapu tangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAWS (3) - Anastasia
FantasyThe Another World Series (3) - Anastasia Cerita berdiri sendiri. Dioxazine. Pada umumnya orang lain hanya akan menganggap itu nama dari salah satu keluarga bangsawan yang tidak terlalu kaya dan tidak terlalu kekurangan, biasa. Tapi bagi yang menge...
