Rastan sudah kembali ke Ibu Kota, sedangkan hari ini Anastasia akan pergi ke Kuil yang katanya memiliki buah spesial itu.
Karena kata-katanya sendiri tadi malam, ia jadi tidak bisa melihat wajah Rafael. Rasanya dia mau tenggelam saja di lautan. Padahal Rafael tau perasaannya dia biasa saja selama ini.
Gaun berwarna kuning dengan perpaduan putih serta beberapa ornamen bunga adalah yang Anastasia kenakan. Itu pakaian yang dipilihkan Daisy, walau bekerja di toko jam dalam kurun waktu lama, Daisy lumayan mengerti soal gaya busana. Dia sering bergosip dengan Maria, karena Daisy tau tentang isi surat-surat itu dan kadang menjadikan itu bahan gosip dengan Maria, mereka berdua memang cocok.
Kuil yang berada di pinggir tebing dengan jalan untuk tiba di atas Kuil adalah tangga yang cukup tinggi. Angin laut yang berada di bawah mereka cukup membantu dalam meberikan angin agar yang menaiki tangga tidak kepanasan.
Bagai sebuah dermaga kecil, dibangun sebuah tangga yang cukup tinggi dari arah laut, kalau bisa di katakan ini adalah salah satu Kuil unik yang pernah Anastasia kunjungi. Agak melelahkan sebenarnya.
"Kau baik-baik saja?"
Mungkin anak tangga menuju Kuil ini hanya sekitar limapuluh anak tangga, tapi bagi Anastasia yang memiliki fisik cukup lemah, tidak seperti saudaranya yang lain, ini benar-benar menguras tenaganya secara luar biasa. Dia bahkan beberapa kali berhenti dan mengambil nafas, kalau saja dia cukup gila, pasti sekarang dia sudah berbaring di atas rerumputan. Tapi ia lebih takut sang Ibu yang mungkin akan mengamuk karena mengetahuinya, bukan karena Anastasia mempermalukan keluarganya karena berbaring di tempat umum, tapi dandanan Anastasia apalagi pakaian yang ia pakai adalah yang sang Ibu bawakan untuknya, kalau sampai kotor atau lecet dia akan dalam bahaya. Pakaian adalah nomor satu bagi sang Ibu.
Anastasia mengangkat satu tangannya. "Aku.. Baik-baik saja." Nafasnya masih agak memburu dan kakinya terasa berat, seperti tertanam di tanah. Ini menyebalkan, kenapa hanya dia yang punya tubuh selemah ini di keluarganya? Padahal yang lain dikaruniai fisik kuat.
Rafael hanya diam, dia memegang tangan Anastasia yang mendingin. Sepertinya Anastasia benar-benar kesulitan untuk menaiki tangga itu.
Setelah beberapa menit dan beberapa teguk air ia minum, Anastasia sudah mulai membaik seperti semula.
"Kuil ini cantik." Anastasia menatap sekitar.
Kuil dengan beberapa pohon dengan warna oranye, mirip pohon di musim gugur berada di sekitar Kuil.
"Apa kau bisa berjalan?" Rafael menatap Anastasia, tangan gadis itu masih terasa dingin. "Tanganmu dingin sekali."
Anastasia baru sadar, gadis itu melirik tangan Rafael yang sejak tadi menggenggam tangannya. Pantas saja dia merasa hangat, tapi dia terlalu kelelehan untuk mencari tau darimana asal rasa hangat itu. "Fisikku memang tidak begitu baik."
"Untuk jaga-jaga, jangan dilepaskan." Rafael menatap Anastasia lalu menatap tangan keduanya yang kini saling tertaut, seperti memberikan kode apa yang dimaksud. "Disana masih ada beberapa tangga lagi."
"Ini pertama dan terakhir kali aku akan kemari jika isi Kuil ini hanya tangga saja." Anastasia berjalan disamping Rafael yang tersenyum kecil. "Aku mungkin akan langsung lewas jika sampai harus menaiki tangga-tangga ini setiap hari."
"Pemandangan disini cukup bagus, kan?"
Anastasia harus akui jika Kuil ini sangat cantik, walau berada di pinggir laut bahkan berada di atas tebing tapi Kuil ini seperti memiliki daerah sendiri yang tidak berhubungan dengan sekitarnya. Bahkan angin yang ia rasakan berbeda ketika berada di tangga, tidak ada aroma laut disini.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAWS (3) - Anastasia
FantasíaThe Another World Series (3) - Anastasia Cerita berdiri sendiri. Dioxazine. Pada umumnya orang lain hanya akan menganggap itu nama dari salah satu keluarga bangsawan yang tidak terlalu kaya dan tidak terlalu kekurangan, biasa. Tapi bagi yang menge...
