Walaupun tinggal dalam rumah yang sama, setiap hari bertemu dan bertegur sapa, Anastasia dan Rafael sangat jarang makan di meja yang sama. Biasanya saat Rafael yang akan meminta untuk makan di kamarnya, sedangkan Anastasia akan makan di meja makan sendirian.
Jadi ini agak terasa aneh sejujurnya. Mungkin bisa dihitung jari saja mereka makan bersama.
Hingga makanan penutup, keduanya hanya sibuk dengan makanan masing-masing. Tidak ada yang membuka suara apapun.
Setelah semua selesai, Rafael meminta agar semua pelayan pergi. Menyisakan Rafael dan Anastasia di dalam ruangan luas itu.
"Yang kau katakan benar," Rafael meminum segelas air sebelum melanjutkan. "Orang-orang itu di jual pada bangsawan, banyak yang jadi pekerja di Istir, tapi belum ada petunjuk siapa orang-orang itu."
Anastasia mengangguk. "Akan sedikit sulit jika berhubungan dengan bangsawan, mereka memiliki kekuasaan dan uang. Itu menjadi poin penting dalam melakukan hal seperti ini. Dengan uang semua bisa terselesaikan dengan mudah."
Rafael menatap Anastasia agak lama. "Aku penasaran, kenapa kau bisa tau semua hal ini?"
Terkekeh pelan, Anastasia menatap Rafael. "Aku adalah anggota rahasia, jadi tentunya aku punya sesuatu yang spesial."
"Apa itu berhubungan dengan yang waktu itu kau katakan?"
Anastasia menaikkan sebelah alisnya. "Yang mana?"
"Aku harus jadi suamimu dulu baru aku akan tau." Rafael menatap Anastasia yang langsung kaku ditempatnya. "Aku bertanya pada Putri Estella mengenai ini."
Anastasia tersenyum kaku, dia hanya iseng saja dengan kata-katanya waktu itu. Jangan dianggap serius juga dong.
"Putri Estella mengatakan kalau aku lebih baik tidak tau tentang itu." Rafael menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Aku penasaran kalau boleh jujur."
Anastasia tersenyum kecil. "Rasa penasaran bisa benar-benar membunuh loh. Jadi jangan terlalu mencari tau."
"Apa itu yang membuat kau bisa tau semua hal ini?"
Anastasia mengangkat bahu. "Entahlah, aku tidak bisa memastikan itu juga."
Rafael menatap Anastasia agak lama. "Di Istir, setiap pemimpin kota ini akan pergi ke air terjun di hutan musim dingin setelah mereka menikah, sebagai berkat."
"Ya, tapi kita beda cerita, kan?" Anastasia agak memaksakan senyuman. "Pernikahan bukan hal sepele semacam itu, Sir Rafael."
Anastasia menatap Rafael serius. "Kalau kau hanya penasaran, jangan lakukan hal yang akan membuat kau menyesal seumur hidupmu. Ini bukan hal main-main." Anastasia berdiri dari kursinya. "Aku harus kembali membantu di taman. Selamat siang."
Anastasia berjalan keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Rafael yang menghela nafas panjang.
Dia tidak bermaksud begitu.
***
Taman itu selesai dengan cepat, semua telah di tanam dan ditata dengan baik. Bebegapa bunga bahkan tidak ada di Istir.
Contohnya saja bunga mawar merah yang ukurannya jauh lebih besar dari ukuran asli bunga mawar pada umumnya.
Kalau di Hara, bunga itu sudah akan berwarna ungu saat ukurannya lebih dari tujuh sentimeter. Tapi karena bukan berada di tanah aslinya bunga itu hanya akan berukuran lebih besar dari normalnya.
"Nona," Daisy mendekat. "Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Nona dan Sir Rafael."
Anastasia sedang duduk di balkon kamarnya yang kebetulan menghadap taman. Anastasia melirik kamar yang berbeda beberapa kamar dari lokasinya sekarang. Itu kamar Rafael. "Hm. Biarkan saja."
KAMU SEDANG MEMBACA
TAWS (3) - Anastasia
FantasiaThe Another World Series (3) - Anastasia Cerita berdiri sendiri. Dioxazine. Pada umumnya orang lain hanya akan menganggap itu nama dari salah satu keluarga bangsawan yang tidak terlalu kaya dan tidak terlalu kekurangan, biasa. Tapi bagi yang menge...
