27. Permohonan Maaf

2K 329 4
                                        

Luas, tidak heran jika Menara ini dibicarakan oleh banyak orang. Menara ini luas dan juga tidak memberikan kesan kuno.

"Aku kira di sini akan agak kuno." Anastasia berjalan dibelakang Rafael yang diam. Gadis itu tersenyum geli. "Apa Tuan Rafael marah?"

Rafael hanya diam, dia tetap melanjutkan langkahnya, Anastasia terkekeh. Ternyata Rafael memiliki sisi ini juga.

"Aku minta maaf karena pergi tanpa memberitahu, itu salah, aku akui. Walau memiliki pelayan aku sering mengurus semua sendiri jadi aku lupa." Anastasia merasa dia seperti bermonolog sendiri karena Rafael menghiraukannya.

Sebuah perpustakaan adalah tujuan Rafael membawa Anastasia, sebuah ruangan besar dengan rak-rak tinggi bahkan sampai memiliki lantai sendiri saking banyaknya buku yang ada di dalam sana.

"Wow!" Anastasia tau isu jika perpustakaan menara ini paling lengkap, tapi dia tidak tau jika akan selengkap ini.

"Aku kira kau akan pulang," Pan berjalan mendekat pada Rafael yang duduk di kursi. Mata Pan jatuh menatap perempuan berambut hitam yang berjalan mendekat pada rak-rak buku. "Siapa dia?"

"Tamu itu." Rafael meraih buku yang terdapat di atas meja.

"Oh, yang hari ini kabarnya menghilang tiba-tiba?" Pan memperhatikan Anastasia. Dari pakaian serta cara berpakaian Pan bisa katakan kalau Nona bangsawan ini sepertinya bukan bangsawan kaya raya. "Oh, dia hanya bangsawan biasa."

"Kita juga bangsawan, kan?" Ran muncul dari balik salah satu rak. "Jangan menilai orang lain dari pakaian."

Pan memutar bola matanya malas sedangkan Ran berjalan mendekat pada Anastasia. Dia sudah penasaran dengan Nona ini sejak awal jadi dia benar-benar ingin berkenalan.

"Selamat siang!" Ran menyapa, agak membuat Anastasia kaget karena fokus pada buku-buku yang ada. "Nona menyukai buku?"

"Ya, begitulah." Anastasia tersenyum. "Oh, aku Anastasia Dioxazine, mohon bantuannya selama aku disini."

"Aku Ran, dan itu kembaranku Pan." Ran tampak semangat. "Apa buku yang Nona cari? Aku tau dimana letak semua buku di tempat ini."

"Benarkah?" Mata Anastasia tampak berbinar. "Bolehkah aku berkeliling dan melihat-lihat?"

"Tentu saja!" Ran membalas dengan semangat. "Ayo!"

"Mereka langsung akrab." Pan menatap kedua gadis yang sibuk berceloteh sambil berkeliling-keliling. "Dia bukan dari keluarga terkenal, kan?"

"Dioxazine, bahkan matanya sudah menjelaskan." Rafael melirik Anastasia yang tampak semangat dengan buku-buku yang ada di tempat itu. "Dia adik Maria Dioxazine."

"Aku tau. Kalau dia orang biasapun tau, tapi tidak ada yang tau jika dia punya adik perempuan seperti itu." Pan duduk disamping Rafael. "Aku akui dia kelihatan menyukai buku."

Rafael diam, dia hanya memperhatikan Anastasia dan Ran yang lebih mirip sahabat yang bertemu setelah sekian lama berpisah dibandingkan dua orang asing yang baru berkenalan beberapa menit lalu.

"Siapkan teh di ruanganku." Rafael berdiri dan berjalan keluar dari perpustakaan.

"Aku bukan pelayan." Pan mendengus kuat tapi dia tetap melakukan apa yang dikatakan Rafael.

"Ah, dia mungkin memang agak marah." Ran menatap Anastasia yang merasa bersalah. "Dia tidak suka dibuat khawatir."

Anastasia menceritakan kalau sepertinya Rafael marah padanya, dan akhirnya mendiami Anastasia. Alasannya tentu karena Anastasia yang pergi tiba-tiba.

"Aku juga salah karena pergi tiba-tiba." Anastasia menatap rak-rak buku disekitarnya. "Kalian sudah kenal lama?"

"Kami teman sejak kecil."

TAWS (3) - Anastasia Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang