39. Kuil Suci

1.6K 215 0
                                        

Hari ini mereka akan pergi bersama si pemeran utama wanita cerita ini ke Kuil Suci. Belum banyak kepercayaan yang ada di sini, keluarga Kerajaan sepenuhnya percaya pada Kuil Suci. Itulah mengapa jika ada apa-apa Kuil Suci akan jadi pendukung.

"Selamat pagi."

Anastasia yang tadinya sedang membaca buku sambil menunggu Rafael yang juga akan ikut ke Kuil, sekedar informasi Irion dan para prajurit yang ikut sepenuhnya teler, alias mabuk berat dan tidak bangun hingga pagi ini, mungkin siang nanti mereka baru akan bangun. Alkohol yang dihasilkan oleh anggur buatan Dioxazine memang cukup tinggi, dan orang-orang itu berpesta tadi malam. Sepertinya Rafael juga ikut tapi tidak sampai parah, Ayah dan Kakak pertamanya juga ikut, tapi toleransi alkohol Ayah dan Kakaknya cukup baik jadi mereka baik-baik saja.

"Selamat pagi." Anastasia menurunkan buku yang ia baca, matanya mengerjap beberapa kali, dia tidak menyangka pakaian akan sangat berpengaruh dalam penampilan. Ya, dia tau jika pakaian berpengaruh, tapi tidak ia sangka akan sejauh ini.

Terimakasih pada Maria.

"Ada apa?" Rafael mengerutkan kening. "Apa aneh? Ini diberikan oleh pelayan, dan rambut ini juga mereka yang melakukannya." Rafael menyentuh rambutnya yang disisir rapi, biasanya dia hanya akan mengikat rambutnya dengan asal. Jadi ini terasa agak aneh, rambutnya diikat tapi sepertinya berbeda dengan yang ia biasa lakukan.

"Tidak, bagus kok." Anastasia tersenyum, dia akan berterimakasih pada Maria. "Ayo, Yang Mulia pasti sudah menunggu."

Rafael mengangguk. "Pakai portal?"

"Kalau Tuan tidak keberatan." Anastasia meraih aksesoris rambutnya dari salah satu pelayan, dia tidak mau memakai itu tadi karena masih berada di dalam ruangan. Sebuah topi kecil tersemat di atas kepala Anastasia.

"Wah, kalian kelihatan sangat manis bersama." Itu sang Mama, Merelisa. "Maafkan kami jika gaya pakaian kami agak meriah."

Sebenarnya gaya pakaian di kota ini berubah-ubah, tapi setelah gelar mereka yang berubah, beberapa sering mengikuti gaya pakaian keluarga mereka yang biasanya agak ramai tapi tidak jadi aneh pada mereka malah membuat mereka seperti spesial diantara yang lain.

Peluang bisnis yang baik, toko-toko pakaian mereka akan diserbu jika seperti itu. Zale sangat tau cara memanfaatkan keadaan.

Rafael menggeleng. "Aku tidak masalah."

Merelisa tersenyum. "Pergilah, hati-hati. Doakan kalian berdua cepat mendapatkan pujaan hati masing-masing."

Itu pasti karena mulut Maria, dia baru saja ingin mengucapkan terimakasih pada Maria karena membuat Rafael kelihatan berbeda dan sangat memanjakan matanya, tapi tidak jadi.

"Ibu.." Anastasia menatap sang Ibu. "Hentikan." Merelisa hanya tersenyum dan melambaikan tangannya.

Sebuah portal muncul di halaman samping Mansion mereka, Rafael membiarkan Anastasia masuk terlebih dahulu. Mereka tiba di taman Istana, dan tampaknya Katania telah menunggu.

"Maaf kami agak terlambat." Anastasia berjalan mendekat pada Katania yang duduk di paviliun.

Katania berdiri, menggeleng kuat. "Tidak aku hanya bersemangat dan tidak sadar datang lebih cepat."

"Kalau begitu kita sama-sama tepat waktu." Anastasia tersenyum.

Katania mengangguk. "Pangeran  akan ikut, sepertinya Yang Mulia masih bersiap."

"Aku disini." Pangeran Eurasia muncul dengan pakaian rapi. "Selamat pagi."

"Selamat pagi, Yang Mulia." Rafael dam Anastasia membalas sapaan Pangeran Pertama.

"Kau sudah siap?" Pangeran Eurasia berjalan mendekat pada Katania. Mereka benar-benar pasangan novel ini.

Dari tatapan saja sangat kentara jika Pangeran Eurasia mencintai Katania, kisah cinta orang lain kenapa lancar jaya selalu, beda sekali dengan kisah cinta Anastasia. Anastasia melirik Rafael lalu menatap ke arah lain dengan helaan nafas.

"Kenapa?" Rafael bertanya.

Anastasia menggelengkan kepalanya. "Tidak. Ayo pergi."

Ada dua kereta kuda yang telah disiapkan, satunya untuk Pangeran dan Katania, dan satu lagi untuk Anastasia dan Rafael.

Mereka bisa saja menggunakan portal untuk lebih menghemat waktu, ada Rafael di sini. Tapi Pangeran ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama bersama tunangannya. Anastasia kini sadar kenapa dia dulunya membaca novel seperti ini, bahkan kini berada di dalam novel tersebut.

"Sir Tristan kelihatan sangat bahagia." Buah Peach yang menjadi hadiah, ditambah beberapa hadiah lain yang dibeli secara dadakan untuk si anggota baru menjadi buah tangan yang Rafael bawa ke kediaman Tristan Dioxazine. "Mata ungu yang sangat khas."

Anastasia tersenyum. "Begitulah."

"Apa itu turunan dari nenek moyang Dioxazine?"

Sesungguhnya, itu hanya ciri khas yang dimiliki Dioxazine mereka. Keluarga lain memiliki ciri khas mereka sendiri. Satu-satunya yang menyamakan mereka semua adalah bakat spesial saja. Selain itu mereka berbeda, kebetulan di keluarga Anastasia ciri khas yang di dapatkan adalah mata ungu bagai permata.

"Begitulah." Peraturan utama. Tidak boleh ada yang tau tentang Dioxazine sesungguhnya, jika ada yang bertanya tentang keluarga mereka hanya akan ditanggapi dengan biasa dan jika perlu cepat-cepat mengalihkan pembicaraan. "Aku belum pernah bertemu Marquess, apa Marquess sedang tugas di tempat lain?"

"Ayahku selalu berada di Mansion mereka," Rafael menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. "Tapi dia memang jarang bertemu dengan orang."

Memang banyak rumor yang beredar luas tentang Istir, ada yang baik dan buruk salah satunya adalah Marquess Aesreron yang aneh karena tidak pernah muncul di keramaian. Jika ada acara yang harus didatangi, paling-paling Rafael yang menjadi sasarannya. Itu juga kenapa semua pekerjaan, terutama yang berhubungan dengan orang luar akan dilakukan oleh Rafael.

Anastasia mengangguk beberapa kali. "Aku kira Marquess marah atau membenciku sampai tidak mau bertemu denganku."

"Sudah cukup lama kau tinggal di Istir ya." Rafael menatap Anastasia yang mengangguk. "Aku akan minta Ayah untuk bertemu denganmu."

"Tidak, tidak." Anastasia mengibaskan tangannya. "Aku hanya mengatakannya karena penasaran, Marcioness sangat baik padaku, aku hanya sekedar ingin lebih dekat, berhubung aku mungkin akan lebih merepotkan kedepannya. Aku rasa Marquess mungkin sedang sibuk."

"Kuil Suci di Istir memiliki buah yang sangat manis."

Anastasia menaikkan satu alisnya. "Aku baru tau jika boleh membuat kebuh di Kuil."

"Bukan kebun." Rafael menghela nafas. "Itu adalah pohon suci, tidak pernah berhenti berbuah. Buahnya seharusnya tidak memiliki biji, tapi jika mendapatkan buah dengan terdapat biji di dalamnya maka kau akan beruntung."

"Wow, aku baru dengar hal semacam itu." Anastasia takjub. "Apa nama buahnya?"

"Dia mirip seperti apel, tapi teksturnya lebih mirip seperti buah yang mengandung banyak air, bijinya hanya sebesar kerikil, bentuknya juga hanya sebesar ibu jari orang dewasa." Rafael menunjuk ibu jarinya. "Warnanya kuning bagai emas."

"Apa karena dia tumbuh di tempat yang banyak batu sihirnya dia jadi spesial?"

"Ayahku menyukai buah itu." Rafael melirik ke jendela. "Dia bahkan sering mencuri beberapa buah itu dari kuil."

"Apa buahnya seenak itu?" Anastasia terkekeh geli.

"Sangat manis tapi tidak membuat bosan atau terasa aneh, karena jarang memiliki biji jadilah orang hanya akan memakannya dalam satu gigitan. Tidak ada yang tau nama buah itu, tapi biasanya orang-orang mengatakan buah itu buah berkat. Orang yang memakan buah itu akan bahagia, dan orang yang mendapatkan biji buah itu akan beruntung. Pohon yang hanya hidup di Istir."

"Ayo kita pergi ke sana setelah kembali!" Anastasia penasaran, dia tipe orang yang selalu penasaran. Dengan cerita yang di katakan Rafael rasanya dia ingin melihat secara langsung buah itu. "Boleh, kan?"

"Tentu saja." Rafael mengangguk.

. . .

10 April 2023

TAWS (3) - Anastasia Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang