52. Kunjungan

1.3K 169 4
                                        

Anastasia tidak bangun setelah kejadian itu, berjam-jam lamanya gadis itu tertidur. Tapi keadaan Aura gadis itu semakin membaik, tidak ada lagi yang mengotorinya, semua sudah keluar saat darah-darah itu ikut keluar.

Rafael menutup buku yang ia baca, matanya melirik gadis bersurai hitam yang terbaring di atas ranjang, gadis itu belum juga bangun sejak kemarin.

Menghela nafas, Rafael berdiri, ia lalu duduk dipinggir kasur Anastasia. Meraih rambut panjang gadis itu yang tergerai bebas Rafael tersenyum kecil. Jika ditanya tipe gadis seperti apa yang ia sukai, jawabannya dia akan mengatakan gadis dengan kepribadian ceria dan jika secara fisik dia akan memilih pada gadis dengan rambut cerah, karena seperti sudah menunjukkan kepribadian gadis itu dari warna rambut ataupun pakaiannya. Walau tidak selalu seperti itu tentunya.

Tapi warna gelap sepertinya bukan pilihan buruk.

"Apa rambutku bercabang?" Rafael mengangkat kepala, menatap mata ungu yang masih keliahtan sayu. "Kau memperhatikannya dengan sangat serius."

"Apa ada yang terasa sakit?" Rafael masih memegang ujung rambut Anastasia.

Anastasia menggeleng. "Tidak."

Rafael mengangguk, dia mendekat untuk membantu Anastasia duduk dan memberikan air.

Anastasia menatap keluar. "Sepertinya aku tidur cukup lama."

Rafael meletakkan gelas di atas narkas sebelum kembali duduk dipinggir ranjang. "Kau tidur sejak kemarin siang."

"Kemarin?" Anastasia mengerutkan kening, gadis itu terkekeh pelan. "Sepertinya aku sangat mengantuk. "

"Auramu sudah kembali normal." Rafael menatap Anastasia. "Semua sudah baik-baik saja."

Anastasia mengangguk. "Terimakasih pada Sir Rafael yang aku repotkan." Anastasia tersenyum.

Rafael menunduk, lagi-lagi meraih ujung rambut Anastasia dan agak memainkannya. "Secara fisik, aku menyukai gadis dengan rambut berwarna cerah, itu kelihatan bercahaya di bawah sinar matahari, juga akan kelihatan sangat mencolok."

Anastasia mengangguk. "Rosieta juga memiliki rambut cerah, kan?" Gadis itu tersenyum kecil.

Rafael mengangguk. "Ya. Dia memiliki rambut yang cantik. Semua tidak selalu tentang fisik. Tapi dia benar-benar tipeku, kalau aku boleh jujur."

Gadis itu hanya mengangguk. Seperti mendengar semua cerita yang Rafael ceritakan adalah hal menyenangkan, padahal jelas-jelas Rafael menceritakan orang yang ia cintai, dan pada dasarnya Anastasia menyukai Rafael. Tapi Anastasia mendengar dengan diam, semua yang mungkin saja melukai gadis itu lebih dalam.

"Seperti apa tipemu?"

Anastasia mengerjap beberapa kali dia lalu terkekeh. "Kau tau sendiri kalau aku masih menyukaimu, jadi pasti tipeku tidak jauh darimu."

Kenapa rasanya Rafael ingin menenggelamkan dirinya sendiri?

Rafael tersenyum. "Sekarang aku tidak masalah dengan fisik. Semua sama saja." Rafael menatap Anastasia yang menaikkan alis. "Jangan sakit lagi." Rafael mengusap pipi Anastasia.

Anastasia kaget, tapi dia hanya diam saat Rafael mengusap pipinya.

"Untuk sekarang istirahatlah yang baik, jangan pikirkan tentang pemberontak itu. Semua akan baik-baik saja." Rafael tersenyum, dia berdiri dan berjalan keluar dari kamar Anastasia setelah menepuk pipi gadis itu pelan.

Anastasia menatap pintu agak lama, dia mengerutkan kening. "Dia kenapa?"

***

Ibunya datang berkunjung, tepatnya untuk melihat keadaan Anastasia. Padahal dia sudah mengatakan kalau dia baik-baik saja, tapi sang Mama masih keu-keuh.

"Ya ampun, perasaanku saja atau kau agak gemuk?" Merelisa memegang pipi Anastasia. "Kau tidak sedang hamil, kan?"

"Apa aku kelihatan perempuan tidak beretika?" Anastasia menatap sang Mama dengan tatapan malas. "Hentikan, Ibu."

Merelisa memegang lengan Anastasia. "Tapi kau baik-baik saja, kan?"

Anastasia menghela nafas. "Aku bahkan bisa memasang ekspresi seperti ini dihadapanmu Ibu, apa aku masih kelihatan sakit?" Anastasia memasang wajah malas.

Merelisa tertawa. "Kau memang selalu saja bertingkah berlebihan." Merelisa memeluk Anastasia. "Putriku ini memang selalu seperti ini."

Anastasia membalas pelukan sang Ibu. "Itu pasti berisi pakaian."

Apa lagi yang akan di bawa oleh sang Ibu saat pergi mengunjungi anak-anaknya. Pasti pakaian. Bukan satu, tapi bisa memenuhi satu lemari.

"Benar!" Merelisa tersenyum lebar. "Itu untuk Marquess, Marcioness dan Sir Rafael." Merelisa tersenyum pada Sir Rafael yang sejak tadi hanya diam memperhatikan interaksi antara anak dan Ibu yang kelihatan akrab, walau si Ibu lebih heboh tampaknya.

"Tidak perlu repot-repot, Nyonya." Rafael meminta beberapa pelayan untuk membawa semua barang bawaan Countness Dioxazine.

"Aku malah senang, kau kelihatan cocok dengan pakaian yang Maria pilihkan." Merelisa tersenyum.

Sepertinya selera Rafael terhadap pakaian cukup baik, walau bukan laki-laki itu yang memilih pakaian. Itu Irion yang memberikan saran untuk meminta Maria menyiapkan pakaian-pakaian yang cocok untuk Rafael. Bahkan Irion mengatai kalau Rafael dan pakaian-pakaiannya agak kuno. Rafael tidak begitu peduli pada penampilan, jadi dia hanya memakai apa yang bisa dipakai. Tidak peduli pada model ataupun corak. Irion yang kelihatan lebih senang, apalagi mereka mendapatkan potongan harga karena telah merawat Anastasia dengan baik.

Rafael hanya mengangguk.

Seperti yang dikatakan, Rafael akan bersikap seperti orang tidak berekspresi saat disekitar orang banyak. Rasanya mulai aneh melihat Rafael yang berwajah datar, walau biasanya juga begitu, tapi laki-laki itu bisa tiba-tiba tersenyum, tidak seperti sekarang.

"Ini dari Kakakmu." Merelisa meletakkan sebuah map di atas meja. "Kenapa kau mencurigainya?"

Kamar Anastasia masih berbeda sekitar dua kamar dari kamar Rafael, tapi ruangan ini agak kedap suara. Itu dibuat saat Anastasia sakit kemarin, saat itu ada pemeriksaan diseluruh Mansion atas perintah Rafael. Kenapa? Dia hanya ingin memastikan tidak ada sihir hitam ataupun sihir buruk di Mansion ini agar Anastasia tetap aman. Walaupun dia tidak merasakan hal yang aneh. Anastasia tidak boleh bersentuhan dengan sihir karena itu dibuat kedap suar secara manual.

"Dia aneh." Anastasia duduk di hadapan sang Ibu. "Ibu, aku punya pertanyaan."

"Tanyakan saja."

"Apa ada Dioxazine lain?"

Merelisa yang tadinya melepaskan hiasan kepalanya berhenti, dia menatap Anastasia yang menatap kebingungan. "Maksudnya?"

"Ayah pernah bilang, ikatan Dioxazine dengan Dioxazine lain sangat kuat. Kau akan langsung tau saat bertemu. Sepertinya aku menemukannya." Anastasia menatap sang Ibu yang kelihatan kaget. "Aku hanya kaget saja. Ya walaupun banyak kemungkinan seperti ini."

Merelisa menghela nafas, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. "Banyak yang memilih untuk lepas dari Istana, mungkin itu mereka."

"Dia bisa mengendalikan serangga." Anastasia bisa melihat ekspresi kaget di wajah Sang Ibu. "Tapi berbeda dengan punyaku. Dia lebih membawa sesuatu yang buruk. Aku terkena itu. Sihir hitam, dan itu sempat menyebarkan tapi sekarang sudah tidak."

"Kau harus tanyakan ini langsung pada Ayahmu." Merelisa menatap Anastasia. "Kalaupun mereka ada, kemungkinan itu kecil."

"Karena mereka hidup bersembunyi?"

"Tidak," Merelisa menggeleng. "Mereka dibantai habis."

"Apa?" Anastasia menatap sang Ibu kaget. "Dibantai?"

"Ya. Kita sudah mengganti nama kita dan kembali dengan hal baru. Itu kenapa tidak ada yang tau, kalaupun ada yang merasa curiga semua itu akan terbukti tidak nyata. Berbeda dengan mereka, tidak ada yang melindungi mereka, maka dari itu mereka berakhir buruk." Merelisa menatap Anastasia serius. "Berhati-hatilah, Ana. Ini bisa jadi masalah serius."

"Baik,  Ibu."

. . .

18 Juni 2024

Tandai Typo ya

TAWS (3) - Anastasia Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang