34. Cerita Ringan

1.9K 290 3
                                        

Makan malam kali ini agak lebih ramai lagi, Putri Sian dan Pangeran Andy yang datang ke Istir ikut dalam makan malam yang diadakan.

Jangan lupakan tatapan tidak bersahabat yang di layangkan oleh Putri Sian padanya. Padahal Anastasia tidak melakukan apapun.

Dari gerak-gerik yang Rafael buat, sepertinya Rafael tidak lagi menyukai Maria. Akan menyedihkan jika Rafael kalah telak karena tunangan Maria.

"Begitulah, saya merindukan adik saya." Maria tersenyum, memakan makan malam berupa daging yang di masak dengan sangat baik oleh koki Mansion ini.

"Mata kalian benar-benar menjadi ciri khas." Pangeran Andy sangat berbeda dengan adiknya, Putri Sian. Pangeran Andy lebih hangat dan tentunya tidak meberikan tatapan ingin mengukiti Anastasia.

Anastasia tersenyum. "Begitulah, Yang Mulia."

"Aku dengar Nona Maria sudah bertunangan." Berita tentang Maria selalu akan menyebar dengan sangat cepat. Anastasia kadang heran, apa Maria memang seterkenal itu. "Siapa orang beruntung itu?"

Maria tertawa kecil. "Dia hanya pedagang biasa, tapi dia benar-benar mencuri hatiku."

"Cinta memang datang dari mana saja." Putri Sian tertawa. "Tapi sayang sekali. Nona bisa saja dapat yang lebih baik dari itu."

Ini salah satu topik yang Maria tidak suka, setiap orang tau jika calon suaminya adalah orang yang tidak begitu terkenal, bahkan hanya seorang pedagang, semua akan mulai menyayangkan keputusan Maria. Padahal Maria cantik dan bukan tidak ada bangsawan yang melamarnya, tapi kenapa mau dengan pedagang rendahan.

"Setidaknya mereka benar-benar saling mencintai, tidak saling dipaksakan." Anastasia agak memaksakan senyum. Dia sudah melihat guratan wajah tidak suka dari Maria. Lebih baik dia ambil alih saja daripada menjadi masalah. "Mereka akan hidup dengan bahagia, karena mereka saling mencintai. Benar, kan?"

Maria melirik Anastasia sebentar sebelum akhirnya tersenyum. "Ya, dia baik. Dan aku mencintainya."

Putri Sian tampak tidak bisa berkata-kata. "Ah.. Jika itu yang Nona rasakan maka itu hal baik."

"Selama saling mencintai, semua akan baik-baik saja." Pangeran Andy tersenyum. "Dia pasti orang yang baik."

Maria tersenyum. "Begitulah."

Seorang pelayan mendekat pada Rafael yang sejak tadi hanya menjadi pendengar yang baik. "Apa Nona Maria mengundang orang kemari?"

Maria tampak bingung. "Seingatku tidak."

Anastasia agak mendekat pada Maria. "Itu tunanganmu."

Maria menatap Anastasia kaget, memberikan tatapan 'Sungguh?' yang di balas anggukan oleh Anastasia. Ada lebah di depan pintu dan gerbang Mansion ini, jadi Anastasia bisa tau.

"Sepertinya itu tunangan saya. Saya sempat mengatakan jika akan Istir, dan kebetulan dia sedang berada di Leulal untuk memberikan pesanan Putri Estella." Maria tersenyum cerah.

Rafael mengangguk. "Suruh dia masuk." Pelayan tersebut menunduk dan pergi keluar dari ruang makan tersebut.

"Ini seperti suatu kehormatan bisa bertemu dengan tunangan Nona Maria." Putri Sina tampak sumringah.

Maria dan Anastasia sempat saling tukar pandang, sepertinya bukan dia saja yang mengatakan hal buruk tentang tunangan Maria.

Seorang laki-laki berambut pirang agak pucat, dengan mata berwarna hijau tenang masuk ke dalam ruang makan dengan kepala agak menunduk.

"Selamat malam, maaf mengganggu makan malamnya." Laki-laki itu menggaruk tengkuknya dengan wajah agak merasa bersalah. Laki-laki itu tersenyum dan sedikit melambaikan tangannya saat Maria melambaikan tangan ke arahnya.

TAWS (3) - Anastasia Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang