"Pernah dengar seseorang yang diberikan sebuah anugerah?"
Anastasia hanya melirik malas, sedangkan Rafael sudah duduk diantara Anastasia dan Tarrant sejak diberikan biji buah tersebut.
"Mana ada yang seperti itu." Anastasia menanggapi dengan malas. "Memangnya ini dunia novel fantasi?"
Ya memang sih ini dunia novel fantasi, tapi cuma Anastasia yang tau tentang fakta itu. Jadi anggap saja apa yang ia katakan tadi hanya kiasan.
"Beberapa ratus tahun yang lalu, beberapa pelaut tiba di sebuah pulau besar dengan berbagai kekayaan alam. Pulau itu sangat kaya, tapi ada yang menjaga pulau tersebut." Tarrant melirik Anastasia yang sudah tiba di sisi lain pohon untuk memetik buah. "Sebuah keluarga dengan keistimewaan menjaga pulau tersebut, mereka adalah keluarga dengan kekuatan turun-temurun yang tidak dimiliki keluarga lainnya."
"Itu cerita dongeng?" Anastasia mendengkus.
"Aku belum selesai Nona cantik." Tarrant tersenyum. "Orang-orang yang diberikan anugerah itu hanya tau bertarung dan menggunakan hal spesial mereka untuk mempertahankan tanah mereka, tapi mereka belum begitu pintar. Akhirnya para pelaut itu membuat suatu kesepakatan, mereka akan hidup berdampingan di pulau itu. Si penjaga setuju dan akhirnya dimulailah peradaban di pulau tersebut."
"Ratusan tahun berlalu. Sebuah desa telah dibentuk, namun tidak bisa ada dua pemimpin, maka jadilah pertumpahan darah. Sayangnya si pendatang--pelaut--yang menang dalam perebutan kekuasaan itu. Hampir seluruh orang-orang penjaga itu dibunuh, bahkan keturunan mereka yang sudah berada di seluruh daerah. Hanya tersisa sekitar lima keluarga dari kejadian tersebut. Katakan saja pendatang yang telah menang itu adalah Raja. Raja memperbudak orang-orang spesial itu dengan cara mempergunakan kekuatan mereka, pada dasarnya orang-orang penjaga itu memiliki kekuatan tapi sejak awal orang-orang pendatang itu memang sengaja membuat orang-orang penjaga itu agar bodoh, agar mereka bisa dikalahkan dengan mudah. Orang-orang itu berada di bawah kekuasaan Raja, sampai pada suatu hari orang-orang itu melarikan diri dan sampai sekarang tidak pernah terdengar lagi." Tarrant melipat kedua tangannya di depan dada. "Ada yang bilang Kaisar mencari-cari keberadaan mereka untuk dimanfaatkan kembali, tapi ada juga yang bilang kalau orang-orang itu sudah musnah. Mana ada orang dengan anugerah seperti itu."
"Sepertinya genre fantasi adalah yang Tuan sukai." Anastasia meletakkan buah terakhir yang ia petik di atas keranjang. "Memangnya sespesial apa orang-orang itu?"
"Fisik yang kuat, dan bahkan sejak awal sihir telah di temukan oleh orang-orang itu, hanya saja karena tidak dikebangkan maka tidak ada yang tau." Tarrant tersenyum. "Katanya anugerah mereka berasal dari Tanah Hara."
Anastasia terdiam, tubuhnya langsung kaku. Bagaimana bisa?
Anastasia terkekeh. "Kapan-kapan berikan saya buku fantasi yang Tuan baca itu, sepertinya sangat menarik." Anastasia tersenyum. "Karena keranjang kami sudah penuh kami harus kembali."
"Namanya sama dengan daerah kekuasaan Dioxazine, ya?" Tarrant tersenyum. "Apa mungkin Dioxazine adalah orang-orang istimewa itu?"
"Bahkan nama itu Permaisuri yang memberikan, bukan kami." Anastasia mengerutkan kening. "Tapi ini menarik, seperti ketidaksengajaan namanya bisa sama."
"Nona selalu bisa diajak berbincang." Tarrant tersenyum. "Hati-hati dalam perjalanan."
Anastasia berusaha agar berpikiran positif, anggap saja cerita Tarrant seperti dongeng biasa.
Tapi kenapa dia bisa tau?
Berarti memang ada sesuatu.
"Apa kau kelelahan?" Rafael memegang tangan Anastasia. "Kau agak pucat."
Anastasia menatap Rafael sebentar sebelum menunduk. "Aku baik-baik saja."
Anastasia menarik tangannya dan berjalan terlebih dahulu. Rafael hanya diam dan mengikuti dari belakang.
Sampai di kereta kuda, dengan nafas agak memburu tapi Anastasia kelihatan agak gelisah.
"Bagaimana kalau kita menginap di Mansion Ayahku?" Rafael meletakkan keranjang buah itu di dalam kereta. "Disana ada banyak hal yang akan kau sukai."
Anastasia tidak bisa berpikir terlalu jernih, dia hanya mengangguk saja. Kereta kuda itu melaju dengan tujuan Mansion orang tua Rafael.
***
Mansion ini berukuran agak lebih besar, Anastasia sempat dijamu makanan oleh Marcioness walau Marquess tetap tidak muncul.
Anastasia diam menatap laut, Mansion ini berada di pinggir laut. Jika Mansion tempat Rafael tinggal berada di dataran yang agak tinggi maka Mansion orangtua Rafael berada di dekat laut. Bahkan dari pelabuhan Mansion ini dapat terlihat.
"Tidak suka makanannya?" Helera, Ibu sekaligus salah satu pemimpin daerah ini datang mendekat pada Anastasia yang duduk di balkon dengan pandangan agak kosong.
"Makanannya enak, Marcioness." Anastasia duduk ketika Marcioness duduk di kursi tepat di depan Anastasia.
Helera tersenyum. "Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"
Anastasia mengerjap. Isi kepalanya seperti dapat terbaca. "Ada sedikit yang mengganggu pikiranku."
"Bisa kau ceritakan?"
"Saya ingin cerita tapi saya tidak bisa." Anastasia menunduk.
"Tidak apa, tidak perlu bercerita jika memang tidak bisa. Hanya jangan terlalu larut dalam pikiran sendiri, itu akan jadi hal buruk kalau terlalu dipikirkan." Helera meminum tehnya. "Aku dengar kau dapat biji buah itu."
"Itu milik Sir Rafael, karena dia yang memetiknya." Anastasia tersenyum. "Biji buah itu mirip mutiara."
"Dulu Rafael paling rajin pergi ke Kuil, setiap hari dia akan pergi. Tujuannya hanya untuk mendapatkan biji buah itu, dia mengajak Ayahnya untuk memakan buah-buah itu agar bisa menemukan bijihnya." Anastasia terkekeh pelan mendengar cerita Helara. "Kalau cerita lama bilang pohon itu adalah anugerah yang diberikan sejak ratusan tahun lalu, diberikan oleh seseorang sebagai tanda terimakasih. Tapi sampai sekarang tidak ada yang tau siapa itu. Hanya kepala keluarga yang tau orang itu."
"Marcioness juga tidak tau?" Anastasia bertanya.
"Tidak. Katanya itu tidak bisa diberitahukan ke sembarang orang. Mereka hanya mengatakan dia adalah orang yang spesial yang memberikan anugerah pada tanah ini, itu kenapa tanah disini sangat melimpah ruah." Helera tersenyum. "Jangan terlalu larut dalam pikiranmu, kalau memang ada sesuatu yang memberatkan pikiranmu mungkin kau bisa pergi ke laut untuk sekedar berteriak dan melepaskannya."
Anastasia tersenyum. "Terimakasih Marcioness, ini sangat membantu."
"Jangan sungkan." Helera terkekeh. "Kau gadis kedua yang ia bawa kemari bersama buah-buah itu untuk bertemu dengan Ayahnya Rafael."
"Yang pertama pasti bernama Rosieta."
"Kau sudah tau?" Helera tersenyum. "Dia sangat menyukai gadis itu sampai memetik lebih dari dua keranjang buah spesial itu dan membawanya kepada Ayanya. Dia sangat lucu saat jatuh cinta."
Anastasia hanya bisa tersenyum getir.
"Tapi," Anastasia menatap Helera. "Saat kau sakit kemarin dia sampai kemari untuk meminta tabib terbaik dibawakan untukmu. Dia kelihatan sangat cemas, dia bahkan sampai hampir menyeret Ayahnya."
"Memangnya Marquess memiliki pengetahuan obat?"
Helera mengangguk. "Dia ingin menjadi tabib, tapi karena kewajiban dia harus menjadi pemimpin daerah ini. Itu kenapa saat Rafael sudah cukup umur dia memberikan semua tugas pada Rafael. Dan sekarang jadi fokus pada eksperimen-ekperimen obat, itu juga kenapa banyak tumbuhan obat disini."
Ah, jadi begitu. Ya walau dikatakan agak malu-malu sepertinya ada alasan lain kenapa Marquess Istir jarang terlihat.
"Kalau kau perlu sesuatu katakan saja. Kami akan membantu semampu kami." Helera menepuk punggung tangan Anastasia. "Matamu benar-benar cantik."
Anastasia tersenyum. "Terimakasih."
. . .
26 Mei 2024
yang baik hati tolong typonya ditandai ya 😘
KAMU SEDANG MEMBACA
TAWS (3) - Anastasia
FantasíaThe Another World Series (3) - Anastasia Cerita berdiri sendiri. Dioxazine. Pada umumnya orang lain hanya akan menganggap itu nama dari salah satu keluarga bangsawan yang tidak terlalu kaya dan tidak terlalu kekurangan, biasa. Tapi bagi yang menge...
