Kereta kuda berjalan dengan kecepatan sedang, mereka akan kembali ke Istana. Katania kelihatan senang sedangkan Pangeran Eurasia hanya diam, Pangeran itu tidak terlalu sering menunjukkan ekspresinya.
"Sepertinya aku pernah dengar kalau kau akan mengapdi pada Gereja, tapi kau malah pergi ke Kuil." Rafael menatap Anastasia yang sejak tadi menatap ke jendela.
"Di Gereja ada larangan menikah jika telah mengabdi, tapi di kuil tidak." Anastasia mengangkat bahu. "Ayahku percaya pada Gereja tapi Ibuku percaya pada Kuil. Aku hanya lakukan apa yang aku suka."
"Begitu," Rafael mengangguk. "Tapi kau tidak masalah untuk ke Kuil di Istir, kan?"
"Kita bahkan baru kembali dari Kuil." Anastasia menatap Rafael agak kebingungan. "Aku sempat melihat Gereja di Istir, tapi tampaknya jemaat mereka tidak begitu banyak."
"Di Istir lebih percaya pada Kuil daripada Gereja, tapi ada juga yang percaya pada Gereja." Rafael melirik keluar jendela. "Kau benar-benar tidak berniat menikah?"
"Aku mau," Rafael menoleh. "Tapi aku hanya belum yakin akan mendapatkan orang yang bisa menerima rahasia besar di hidupku."
"Semua orang punya rahasia, jika dia benar-benar mencintaimu dia akan menerima itu." Rafael mengangguk pelan.
Anastasia tertawa, bahkan sampai air matanya keluar. "Ya ampun," Anastasia mengusap air matanya. "Ini terasa lucu."
Rafael mengerutkan kening. "Apa yang lucu?"
Tersenyum kecil, Anastasia meletakkan satu kakinya di atas kakinya yang lain. "Bayangkan ini, jika suatu hari kau menikah dan akhirnya mengetahui rahasia terbesar dari istrimu, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan menerimanya." Rafael berkata dengan tegas, membuat Anastasia kaget dengan tatapan serius laki-laki itu. "Jika aku mengambilnya menjadi istriku, maka artinya aku telah menerima semua yang ada padanya, tanpa terkecuali."
"Bahkan jika dia pembunuh? Atau penghianat? Apa kau akan tetap menerimanya?" Anastasia menatap Rafael meminta jawaban. "Atau kau harus hidup dengan sebuah rahasia dari istrimu untuk selamanya, apa kau akan tetap terima?"
"Akan aku terima." Tatapan mata merah bagai apel itu bersungguh-sungguh. "Aku terima semua."
Anastasia menatap ke arah lain dengan senyuman geli. "Istrimu akan sangat beruntung, kau benar-benar mencintainya dan menerima semua." Anastasia tersenyum lebar, dia harus mengalihkan pembicaraan ini. "Usia kita berbeda sekitar dua tahun, kan?"
Rafael mengangguk. "Ya."
"Kau seharusnya sudah memiliki tunangan." Anastasia bersandar pada sandaran kursi.
"Aku punya," Anastasia menoleh pada Rafael. "Tapi aku tidak tau dimana dia sekarang."
"Maaf, kau jadi ingat hal buruk." Anastasia meringis. "Lupakan saja."
"Tidak masalah," Rafael tersenyum. "Bukannya kau juga seharusnya memiliki tunangan?"
"Aku agak pemilih," Anastasia memaksa senyumnya. "Aku masih ingin banyak belajar."
"Tarrant tampak tertarik denganmu." Rafael dengan baik mengembalikan ingatan Anastasia tentang kejadian tadi. "Kenapa tidak dicoba."
"Tidak. Aku akan mencarinya sendiri, dan dia tidak masuk dalam itu." Anastasia menggeleng.
Rafael terkekeh.
***
"Jadi tidak ada hubungannya?" Anastasia menatap kertas berisi beberapa laporan, itu hanya sebuah penyelidikan kecil tentang keluarga Ratu yang saat itu sempat di curigai sebagai penghianat, tapi sekarang tidak karena telah terbukti jika mereka sama sekali tidak berhubungan semua pemberontak yang sedang terjadi. Tapi mereka tetap harus diawasi. Walaupun Ratu selalu diam dan kelihatan seperti tenang, tapi tetap harus diawasi.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAWS (3) - Anastasia
FantasyThe Another World Series (3) - Anastasia Cerita berdiri sendiri. Dioxazine. Pada umumnya orang lain hanya akan menganggap itu nama dari salah satu keluarga bangsawan yang tidak terlalu kaya dan tidak terlalu kekurangan, biasa. Tapi bagi yang menge...
