26 : peringatan Clara

192 10 0
                                        

Hai happy reading semuanyaa

Acara sekolah memang benar-benar semeriah ini, Sena sangat kelelahan. Dia memilih untuk mengganti pakaiannya menjadi kaos putih dengan bawahan celana olahraga khas sekolahnya yang berwarna biru muda. Sena membasuh wajahnya yang tadi penuh dengan make up bekas tampilan dancenya bersama Mita. Ah bicara tentang Mita anak itu entah kemana tapi seingat Sena dia langsung pergi bersama dengan galih. Mungkin balikan? Ah semoga saja.

Untungnya Sena membawa pembersih make up dan kapas kecantikan ke sekolah jadi ia bisa membersihkan wajahnya di wastafel sekolah yang bagusnya ada kaca besar untuk melihat wajahnya. Selesai membersihan wajahnya Sena merapikan pakaian bekas ia tampil dua kali tadi. Tak lama pintu dibuka paksa dan melihatkan Clara yang tampak tersenyum manis pada Sena.

"Jauhin Nata!" Ucapnya tiba-tiba. Sena mengerutkan dahinya tak mengerti lalu balik menatap Clara.

"Kenapa? "

"Gara-gara lo Nata ga pernah ada waktu buat gue! Sena perlu gue tekankan, status kita ini beda jauh, lo cuma temennya dan gue adalah pacarnya Nata. Tapi kenapa selalu lo yang di prioritasin nata? Kenapa!"

Sena nampak memejamkan matanya, bahakan perihal ini Sena tidak tau sama sekali. Namun dalam hatinya ia merutuki sifat Nata, dan tidak terima namanya di bawa-bawa oleh kedua orang itu. Sena mengangkat tangannya.

"Gue ga tau apa - apa. Gini, lo omongin baik-baik sama Nata, karna itu urusan lo berdua. Satu lagi, gue sama Nata murni temenan, kami sahabatan dan deket tanpa perasaan"

Clara terkekeh sinis, bahakan dia muak dengan kalimat sahabat yang diucapkan oleh Nata. Dan barusan Sena ikut mengatakan hal yang sama, baginya tidak ada persahabatan antara perempuannya dan laki-laki. Semua bulshit.

Clara memejamkan matanya berusaha berucap baik-baik.

"Jauhin Nata! Gue mohon Sena tolong jauhin Nata. Paling engga tolong bikin dia hargain gue yang posisinya masih pacarnya. Oke?"

Tanpa ragu sedikitpun Sena menaggguk dan tersenyum, "Gue usahain, besok gue bicarain hal ini sama Nata. Dan gue minta maaf kalo ternyata gue ganggu perasaan lo"

"Bagus kalo lo sadar diri, gue duluan" ucapnya lalu keluar dari area kamar mandi. Sena menghela nafas lega saat orang itu keluar dari kamar mandi, setelah itu dia melihat dirinya sendiri dalam pantulan kaca, pikirannya bercabang Kali lalu tanpa sadar ia berbicara, "Emang iya gue sama Nata ga murni sahabatan? Tapi nata sahabat gue, dia sahabat gue, bukan cowo gue" gumamnya..

•••

Sena hendak pulang duluan dari sekolah. Moodnya sedang tidak baik, ia rasa tiduran di rumah akan memperbaiki moodnya, namun siapa yang tau, ternyata tepat di depan sana ada Sego yang tengah menunggunya sambil bermain ponsel diatas motor.

"Ngapain lo di sekolah gue? Gak takut kena lempar batu sama anak-anak?" Ucap Sena sedikit bercanda, Sego menatap Sena dan tersenyum.

"Nggak lah nyet, oh ia gue anter pulang mau? Gue emang sengaja nungguin lo sih sebenernya..." Ucapnya dan diangguki oleh Sena.

Dan berhubungan Sena memang membutuhkan tumpangan jadi dia langsung naik ke atas motor CBR merah milik Sego, "Gue kira bakal di tolak Na" ucap Sego pada Sena yang tengah memasang helm yang baru saja diberikan oleh Sego

"Enggak, kebetulan uang gue abis, gue ga bawa motor juga"

"Mau mampir ke cafee ga? Gue laper nih..." Sena mengangguk meski nyatanya tidak bisa dilihat oleh sego, "Boleh, gue laper..."

Sego menyalakan motornya lalu menjalankan motornya ke salah satu cafee, jujur saja ia kira Sena akan menolaknya tapi ternyata dia dengan baik hati menerima tawaran Sego. Sego memarkirkan motor di cafee di dekat sekolah yang menjadi tempat ia belajar, 'Sma Merah Jaya' yang memang kabarnya itu adalah sekolah rival dari sekolah Sena. Tapi tampaknya tidak mempengaruhi Sena, bahkan saat motor sudah di parkirkan pun Sena masuk duluan ke dalam dan memesan meja yang lebih hening dan tenang. Sego terkekeh lalu menyusul Sena masuk, beberapa menyapanya dan Sego mengangguk sebagai respon.

"Jangan ganggu yang tadi, dia temen gue" peringat Sego dan diangguki patuh oleh teman-teman satu sekolahnya.

Sego duduk tepat di hadapan Sena. Anak perempuan itu tengah melihat-lihat ornamen cafee yang beda dari cafee biasanya dia datangi, cafee ini cukup unik? Ah lebih tepatnya sedikit seram. Nuansa dark dari cafee membuat Sena awalnya mengira ini tempat penculikan tapi tak lama saat dia naik ke lantai dua dan diam disini bersama Sego ternyata nuansanya cukup tenang dengan warna putih bersih.

"Ini cafee baru milk gue, baru resmi beberapa hari lalu" ucap Sego tiba-tiba dan menarik perhatian Sena.

"Hebat dong, udah berani bikin cafee sendiri" Sego mengangguk, "Alhamdulillah"

Tak lama pelayan datang sambil membawa buku menu dan catatan, Sena memesan ramen pedas dan diikuti sama oleh Sego. Laki-laki itu memesan makanan yang sama seperti Sena.

"Jadi, kemana lo selama beberapa bulan lalu?" Tanya Sena sambil mulai menyiapkan mie nya kedalam mulut.

"Biasalah, kalo bukan tawuran. Apalagi?" Ucapnya dan diakhir pertanyaan kembali pada Sena.

Sena menaggguk mengerti, anak laki-laki kelakuannya memang tidak akan jauh-jauh dari perkelahian. Nata juga begitu, pasti aja selalu ada ributnya dengan temen sekelas atau paling tidak dengan adik kelasnya. Sego memakan lahap mie ramen yang ada di depannya. Meski jujur ini baru pertama kali dia memakan kembali mie instan dalam bentuk pedas. Dan ini enak, Sego yang terbiasa hidup serba ada jarang sekali makan makanan seperti ini. Dia mendirikan cafee pun untuk investasi saja, dan jujurnya dia jarang kesini, lebih banyak melihat Sena dari kejauhan.

"Malam ini lo ngisi siaran atau engga?"

Sena nampak berfikir mengingat-ingat jadwalnya lalu tak lama ia menjawab, "Engga, gue minta free dan diganti sampe Minggu depan sama temen gue"

"Jalan sama gue, mau?" Ajaknya dan diangguki cepat oleh Sena.

"Boleh-boleh. Kemana nih? Udah lama juga enggak jalan-jalan. Ujian kenaikan kelas bikin gue puyeng anjir..."

"Sama sen, gue aja udah cape sama rumus kimia. Mau ngerjain ngasal gausah belajar tapi nyokap nuntut sempurna jadi ya gitu" Sego mengatakannya dengan santai, seolah itu bukan sesuatu yang harus di permasalahan tapi saat ucapan itu terucap dari bibir Sego, sana nampak diam.

"Lo keren masih bisa bertahan..." Ucap Sena tulus. Sego tersenyum lalu mengangguk, "Gue selalu keren, tampan dan seksi. Lo mau daftar jadi pembantu di rumah gue?" Ucapnya becanda namun di balas candaan lagi oleh Sena.

"Gue lebih tertarik jadi istri muda bokap lo"

Sego terkekeh lalu menjitak kening Sena. "Bokap gue setia, mana mau juga sama modelan triplek" Sena tak terima dengan ucapan akhir yang dilontarkan Sego, sehabis minum lemon tea, Sena lantas berdecak pinggang dan menatap Sego kesal, "Gue cantik! Banyak yang suka! Jangan asal kata ya monyet!"

Dalam hati Sego membenarkan apa yang diucapkan oleh Sena, nyatanya Sena memang semenarik itu untuk dilihat bahkan di dapatkan.

Pula di jaga, mungkin ?

•••

Yeayy ketemu  AA Sego lagi nih.

Kalian lebih suka siapa, Sego atau nata?.

Aku sih sukanya Sego hehe..

Btw mau pakai visual nggak nih? Kalo mau nanti aku coba cari yang sesuai sama mereka. Kalo engga nanti aku gambarin aja ciri fisik sama karakteristik mereka di akhir cerita ini kalo end. Insyaallah.

Pakai visual atau tidak?

Nata Sena (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang