Happy reading, tandan kalo ada typo
Malam kali ini cukup menyenangkan bagi Sena yang tengah asik duduk di atas meja sambil memakan buah-buahan segar. Dalam dirinya sudah di niatkan akan diam dirumah dan menonton beberapa drakor yang sudah ia masukan list di laptopnya beberapa hari lalu. Mami keluar dari dalam kamar dengan riasan cantiknya, dia bersama ayah dengan pakaian rapinya entah hendak kemana. Merasa penasaran Sena lantas mendekat dan bertanya sambil membawa sepiring berisikan buah-buahan yang terus ia lahap.
"Kemana mi?"
"Malam mingguan lah, yakali kaya kamu diem di rumah" ucapnya dengan heboh. Mungkin karna untuk pada akhirnya papinya yang super sibuk itu bisa meluangkan waktu untuk mami, karna biasanya papi selalu sibuk di kantor pulang larut ditemani tumpukan berkas-berkas yang memuakkan.
Sena memutar bola matanya malas, dia menonton televisi saja dan membiarkan orangtuanya pergi. Mami dan papi menciumi pipi Sena bergantian lalu mereka pamit pada Sena.
"Kita pergi dulu, mau di bawa in apa nanti?" Ucap papinya. Sena tampak berfikir sampai akhirnya ia memilih salah satu menu yang sudah jarang ia makan. "Pengen terang bulan tapi rasa coklat ya pih, nggak usah pake kacang"
Papi memberikannya jempolnya, "Syip! Jaga rumah awas kemalingan!"
Sena tertawa ringan, mana ada kemalingan. Rumah ini di jaga ketat oleh satpam dan beberapa penjaga lainnya dan ada tiga pelayan yang selalu siap siaga dan cctv yang aktif dua pilih empat jam.
Selesai kedua orang tuanya telah di pastikan keluar Sena mematikan televisi dan hendak naik ke atas menuntaskan niat awalnya, namun baru saja dia beranjak dari kursi suara bel memudarkan semuanya. Sena menghela nafas dan Berjalan untuk membuka pintu. Bertepat saat pintu dibuka ada naga dengan Hoodie putih yang tudungnya di naikkan sambil menutupi sedikit wajahnya, laki-laki itu tersenyum dengan sederet giginya yang manis.
"Main yu ke Mall" bujuknya
"Males ah! Gue pengen drakoran!" Keluh Sena. Sena membuka pintu lalu mempersilahkan naga untuk masuk. Setelah laki-laki bujang itu masuk Sena menutup pintu. Sena berjalan menuju kamarnya membiarkan nata melakukan apapun di rumahnya seenaknya.
Sena mengambil flashdisk dari dalam almari, setiap flashdisk yang Sena punya ada kegunaannya masing-masing seperti yang satunya full drakor, ada film barat, untuk tugas dan lain-lainnya. Sena memilih beberapa yang menurutnya seru sampai akhirnya ia memilih "Its okay to not be okay" drama Korea sempat viral di tahun 2029 karna rantingnya yang bagus.
Sena membenahkan leat tidurnya, dia telungkup sambil menggunakan bantal sebagai penopang kepala dan tangannya lalu menggunakan selimbut sampai ke puncak kepalanya.
Beberapa kali asik dan hanyut dalam drama yang di tontonnya sambil memakan popcorn nata malah datang dan membuka pintu kamar Sena sambil membawa dua bungkus mie ayam yang telah di hidangkan ke dalam mangkuk. Hidung perempuan itu yang merasa peka akan sesuatu lantas menoleh pada nata yang telah duduk di bawah kasur yang beralaskan karpet berwarna coklat berbulu. Nata membawa nampan sedang yang berisikan dua mie ayam dan teh manis.
"Nanti di lanjut, gue abis beli makana nih mubazir kalo nggak di makan satunya"
Sena mengangguk mengerti dengan maksud nata, dia turun dari atas kasur lalu tak lupa mematikan terlebih dahulu laptopnya dan turun ke bawah. Ikut memakan mie ayam bersama nata.
Toping sewiran ayam dan berlimpahnya bumbu yang sangat ketara jelas membuat Sena sangat tergiur. Selepas mengucapkannya doa dalam hati Sena ikut makan bersama nata.
"Enak, Lo beli di mana?" Tanya Sena.
"Depan kompleks, katanya baru buka terus banyak yang suka. Gue penasaran makanya beli" Sena mengangguk saja tapi tak lama ia meneliti kembali mangkuk miliknya dengan milik nata.
"Kok yang Lo pedesnya keliatan banyak? Kok yang gue dapet gurihnya aja tapi nggak pedes sih?!" Sena nampak tak terima.
"Sengaja, lo keseringan makam pedes terus. Kasian lambung Lo monyet"
Sena menghela nafas, dia cemberut kesal karena memakan makanan gurih tanpa rasa pedas rasanya agak kurang tapi yasudah lah mau bagaimana lagi, nata jika sudah melarang sulit untuk di bangkang. Dia lebih keras kepala.
"Mau nyoba yang gue?" Tawar nata dan diangguki senang oleh sena. "Dikit aja yaa"
Nata mengambil beberapa mie dengan sumpitnya lalu menyuapi Sena, sambil makan matanya berbinar-binar. "Enak bangettt" ucapnya.
Mereka diam dan memakan makannya masing-masing sambil sesekali berbagi pertanyaan dan topik pembicaraan yang mulai meluas kesegala arah. Sena nampak senang di malam kali ini karna mendapat makanan gratisan lagi dari laki-laki berhodie putih, siapa lagi jika bukan nata.
Satu jam lebih mereka diam di kamar menghabiskan mie ayam dan berbincang. Setelah selesai makan Sena dan nata turun ke bawah dan mencuci terlebih dahulu bekas makan mereka lalu berjalan menuju balkon. Mereka diam di atas sambil memandang langit-langit di sana di temani terpaan angin yang membuat kulit semakin mendingin. Untung saja Sena menggunakan cardigan yang cukup tebak dan over size jadi dia bisa merasa nyaman. Nata juga sama dengan Hoodie putihnya.
"Lo jadi mau masuk tentara Nat?" Nata mengangguk.
"Dari kecil gue pengen tentara, jelas lah insyyaa gue masuk ke sana. Lo jadi milih apa? Dokter?"
"Iya dokter. Kayanya pengen jadi dokter bedah, seru kayanya" Sena berucap dengan mata yang berbinar.
"Jangan deh, bukannya ngobatin pasien nanti malah nyakitin pasien. Nilai biologi Lo kan selalu anjlok" nata mengingatkan.
"Ih nggak papa tau, lucu nanti kalo kita reunian elang band elo jadi tentara guenya jadi dokter"
"Terus lo jadi istri gue, iya nggak?" Ucap nata sambil menaik turunkan alisnya bergantian.
Tanpa berfikir panjang Sena langsung memukul nata dengan tangannya, nata mengaduh kesal. Sena ini meski badannya ramping tapi tenaganya seperti seorang kuli. Sangat kuat.
"Enak aja!. Nggak deh enggak makasih!"
"Loh kenapa? Lo sama gue bakal kaya tujuh turunan kan warisan gue banyak"
"Sengsara gue sama Lo, butuh berapa selir nanti di rumah. Wah makan ati terus gue nantinya" ucap Sena sambil membayangkan apa yang dia ucapkan sendiri, dirinya membayangkan dia yang setiap pulang ke rumah dan nata yang pulang ke rumah setahun sekali sambil membawa wanita gadis yang akan di nikahinya dan meminta izin terlebih dahulu pada Sena. Membayangkannya membuat Sena bergidik ngeri.
"Amit-amit ya Allah" gumam Sena.
Melihat muka Sena yang masam nata tampak tersenyum, gadis itu selalu cantik dengan ekspresi seperti apapun. Sena selalu terlihat sempurna dari segi manapun.
•••••
See you di part selanjutnya
Dadah
KAMU SEDANG MEMBACA
Nata Sena (End)
JugendliteraturNata itu lelaki yang rumit. Tapi Nata itu lelaki yang manis. Nata dan Sena itu dekat, mereka seperti sepasang orang yang berpacaran. mereka begitu serasi jika di sambungkan. namun siapa yang tau perihal hati. Bisa saja apa yang orang ucapkan serasi...
