30 : bersama Sego

168 12 0
                                        

Hay, happy reading...

Libur semester ini tidak banyak Sena lakukan selain tiduran di kamar dan bermalas-malasan. Siang ini setelah selesai mandi Sena duduk di atas ranjang kasur miliknya yang kebetulan sekali seprainya baru saja di ganti menjadi warna coklat muda, selain itu hiasan dinding pun banyak di ganti menjadi poster dan beberapa ornamen cantik berwarna brown. Sena menonton televisi sambil memakan brownies dan kue kering lainnya, tak lama mami masuk kamar dan membuka pintu.

"Ada tamu di luar" ucap mami

"Siapa mi? Sego?" Mami mengangguk mengiyakan.

Setelah itu sena bergerak panik mematikan tv lalu menyisir rambut yang tadi masih di baluti handuk lalu turun kebawah menemui Sego yang masih duduk berdua bersama papinya entah tengah berbincang apa.

"Nah tuh anaknya udah dateng, papi mau ke dapur dulu ya Sego" ucap papi dan diangguki oleh Sego.

Seusai papi yang sudah hilang dari pandangannya lantas Sena memandang Sego curiga, "Abis bicara apa lo sana papi gue?"

"Cuma izin mau Minang anaknya doang"

Sena melotot tak percaya, lebih tepatnya salah tingkah. Lantas gadis itu memukul tepat di wajah Sego menggunakan bantal sofa, tak lama setelah itu Sena beralari keluar rumah.

"CEPETAN GUE TUNGGU DI LUAR. MAU JALAN APA ENGGA?!"

Sego tertawa ringan melihat kelakuan anak itu, tak lama ia menyusul Sena keluar dan membawa Sena jalan-jalan ringan menggunakan motornya. Jika dilihat-lihat mereka memang tampak serasi dengan baju kaos yang sama-sama warna hitam dan bawahan jeans robek berwarna hitam. Meski sebenarnya Sena yang terlalu memaksakan diri untuk sama seperti Sego. Kecuali gaya rambut dan make up-nya masih feminim seperti biasa.

Sego fokus mengendarai motor meski sesekali mengajak Sena berbicara, namun karna pada akhirnya anak itu tidak pernah nyambung ketika diajak berbicara diatas motor Sego memilih mendiamkan saja dan fokus pada jalanan. Hingga akhirnya mereka sampai di tepi pantai ancol.

Sena turun terlebih dahulu dan membuka helm lalu menyerahkan helmnya pada Sego, tak lama setelah itu ia dan Sego sama-sama berjalan kearah bibir pantai dan menikmati semilir angin. Sena tersenyum dan duduk di antara pasir putih dan memainkannya sesekali lalu ia tiduran sambil menatap langit-langit meski terhalang kacamata.

Tak lama Sego muncul dan membawa papan seluncur, lalu ia bermain berselancar sendirian. Sena lantas mendudukkan badannya dan melihat Sego yang terlihat tampan dan seksi di atas papan seluncur itu. Tak lama setelah itu sego kembali dan memilih duduk di tepian bersama Sena.

"Lo suka pantai yah?" Tanya Sena dan diangguki oleh Sego. "Kalo lo, suka apa sen?" Sego bertanya balik.

Sena tampak berfikir, lalu tak lama kemudian ia memandang Sego cukup lama, "Suka lo?" Ucapnya terang-terangan.

Sego terkekeh ringan, "Kalo itu gue tau, sesuatu yang biasa lo jadiin pelepas penat, hobi mungkin. Jadi?"

"Gue suka Musik. Gue suka gitar sama nyanyi" ucap gadis itu lebih bersemangat, terlihat dari matanya yang lebih menyipit dan bibirnya yang melengkung tipis saat selesai berbicara.

Sego mengangguk mengerti, tak lama ia memandang ke sekitar mencari sesuatu lalu saat tak sengaja ia melihat seseorang membawa gitar dan sepertinya sedang dianggurkan Sego menghampiri orang itu dan meminjam gitar punya orang itu.

"Maaf mas, saya boleh pinjam gitarnya sebentar? Nanti saya balikin kok." Ucap Sego. Beruntungnya orang itu cukup ramah dan mengizinkan Sego untuk meminjamkan gitarnya, "Oh iya mas, silahkan-silahkan".

Sego berjalan kembali menuju Sena dan duduk di samping perempuan itu, "Gue main gitar lo nyanyi" Sena tersenyum senang dan menaggguk, "Pengen lagu Indonesia, yang ini bole?" Sena bertanya ragu sambil menunjukkan salah satu judul dan lirik lagu yang sudah ia searching terlebih dahulu tapi pada akhirnya Sego mengiyakan permintaan Sena.

Petikan gitar mulai terdengar, intro mulai diciptakan oleh sego. Laki-laki itu membuat suara petikan gitar cukup hanyut diantara gemuruh ombak, Sena memjamkan matanya sesaat lalu tak lama ia bernyanyi.

Lagi-lagi ku tak bisa tidur

Sena bernyanyi di reff ia kira ia akan menyanyi sendirian, taunya Sego ikut menyahut.

Lagi-lagi ku tak bisa makan

Pikiranku selalu melayang

Sena tersenyum menatap wajah Sego, laki-laki yang memiliki rambut yang baru saja di pangkas rapih dengan satu halis yang terbelah itu sangat tampan dimata Sena. Suaranya juga sangat bagus, bahkan lebih bagus di banding Nata.

Mereka bernyanyi bersama-sama, menyanyikan satu lagu sampai akhir lalu tak lam setelah itu sena tersenyum lagi tapi matanya menatap ke ombak kecil yang beberapa kali mengenai kakinya lantas memandang pada hamparan pantai yah cukup luas. Sego memandang serius pada gadis di depannya.

"Ombak kadang bisa ngerusak sesuatu yakan sen kalo tekanannya tinggi?" Tanya sego dan diangguki oleh Sena.

"Tapi kalo ga ada ombak malah kurang cantik pantainya"

"Iya, cantik" Sego mengangguk setuju, laut selalu punya ceritanya sendiri. Birunya laut bisa membuat Sego tenang, deburan ombak membuat hatinya senang dan orang di sampingnya selalu membuat dia melayang akhir-akhir ini.

"Sena" Sena menoleh saat Sego memanggil namanya. Laki-laki itu menggenggam tangan nya dan memandangnya lekat.

"Gue nggak bisa sesempurna pantai yang kita lihat hari ini, tapi gue selalu tulus buat jatuh cinta sama lo. Awal ketemu lo, jujur gue udah tertarik buat bisa deket lebih sama lo. Jadi, apa lo mau jadi pacar gue Sen?"

Sena membalas lekat tatapan sego, tatapan teduh dari bola mata sebiru lautan itu. Agaknya Sena terhipnotis dengan segala yang ada dalam diri Sego, tapi pengakuan dari laki-laki itu barusan agak sedikit membuat Sena ragu, entah apa itu.

Padahal ini yang Sena mau, Sena menyukai Sego juga. Sena juga mencintai Sego. Bahkan mungkin cintanya lebih, tapi kenapa serasa ada yang aneh?.

Meski begitu Sena tetap memberikan senyum terbaiknya dan mengangguk,

"Gue mau jadi pacar lo"

Seusai mendengar jawaban yang diucapkan Sena, Sego tampak bahagia mukanya lebih berseri dan senyumnya tampak tidak malu-malu untuk diperlihatkan. Ia membawa Sena dalam pelukannya erat-erat dan mengusap Surai milik Sena.

"Makasih sen, makasih udah Nerima gue"

Dalam dekapannya Sena menaggguk, "Sama-sama Go" Sena membalas pelukan Sego. Yang pada akhirnya kedua insan yang baru jadian itu berpelukan di bibir pantai sambil disinari cahaya matahari yang sangat terik.

•••

Nggak papa kan mereka jadian?

Nggak papa kan emang takdirnya gitu🙃

Nata Sena (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang