Hari ini Emma akan masuk ke kelasku. Hanya itu yang kuingat saat bangun tidur.
Effingham sedang turun hujan. Gerimis dan sedikit terdengar guntur. Aku baru menginjak pedal gas selama lima menit saat mesin mobilku mati. Aku menekan rem mendadak, membalikkan tubuhku ke belakang—untungnya, di jalan menuju sekolah di Nocrowd ini tak ada kendaraan lain selain milikku.
Aku keluar dan membuka kap mobil. Aku melihatnya berasap. Kuusap rambutku dengan kesal. Mobil Dad memang benar-benar tua.
Aku menekan kontak di ponselku dan menelepon seseorang.
Akhirnya, aku sampai di sekolah pukul 9. Mobil Dad benar-benar tidak bisa ditinggalkan selama dua jam. Untungnya, Nick berhasil membetulkan mobil bekas itu secepat yang kuharapkan.
Aku berjalan dengan cepat dan membuka pintu kelas tanpa aba-aba. Semua kebisingan kelas tiba-tiba terdiam. Kepala mereka mendongak menatap ke arahku.
"Sudah selesai?" tanyaku tentang tugas yang sedang dikerjakan.
"No, Sir." Jawaban mereka membuatku mengangguk dan masuk ke dalam kelas.
"If you only knew the task had to be on my desk when the bell rang," ucapku sambil duduk di bangkuku. Mereka langsung sibuk mencatat dengan terburu-buru di sisa sepuluh menit. Aku menahan diri untuk tidak tertawa. Ada kebahagiaan kecil saat melihat murid-muridku penuh kepanikan.
Mejaku berjajar dengan bangku Emma yang duduk di bangku ketiga. Ia sedang melirik kawan-kawannya sambil memeluk buku catatannya. Kepalanya perlahan bergerak ke arah depan.
Here she is.
Finally my eyes glance straight at her.
Kami saling tatap selama beberapa saat. Aku mengangguk, memintanya untuk mengumpulkan tugas. Namun, ia menggeleng dengan ekspresi tak enak.
Aku menurunkan daguku, menatapnya lama—meminta maksud Emma.
Emma berbicara tanpa bersuara. "Nanti saja bareng dengan yang lain, Sir."
Aku pun mengangguk paham akan niat baiknya. Ia tidak mau membuat teman-temannya semakin panik.
Barulah saat bel berbunyi—selesai atau tidak—tugas dikumpulkan. Emma mengumpulkan bukunya untuk pertama kali.
"Thank you, Sir," katanya sambil menunduk. Aku tersenyum padanya, tapi ia tidak melihatku. Ia langsung menjauh sambil menggendong tasnya.
Dia hanya bertemu denganku satu kali seminggu. Kelas hari ini terbuang sia-sia, ditambah lagi aku terlambat selama 45 menit lamanya. Sulit untuk membuka percakapan di luar kelas.
I have to talk to her more!
"Emma!" panggilku, tak menghiraukan murid-murid lain yang berbondong-bondong mengumpulkan tugasnya.
"Emmaa!" Ben berteriak dari dalam kelas, memanggil Emma yang sudah berada di somewhere in hallway. Ben menoleh ke arahku sebentar, kemudian berlari keluar kelas. "Emmaaaaaa!" Suaranya yang menggema di koridor terdengar sampai telingaku.
Aku merasa agak bersalah membuatnya berlari dan berteriak seperti itu. Anak terakhir, Charlotte, pamit. Kelas akhirnya kosong, digantikan dengan Ben yang menunjukku dari pintu. Emma kembali datang dan menghampiriku.
"Yes, Sir?" tanya Emma, masih tidak berani menatapku.
"Ben, sini." panggilku. Ben tidak jadi pergi, jadi ia kembali melangkah masuk. Selagi ia mendekati kami, Emma berbicara dengan sangat pelan.
"Sir, untuk yang kemarin aku minta maaf." kata Emma, enggan menatapku.
Aku mengangkat sebelah alisku, langsung teringat bagaimana lucunya percakapan di WhatsApp kemarin siang. "Nilai Middle Testmu nanti jadi C tak apa ya?" tanyaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
MR. ART HIMSELF [COMPLETED]
RomanceWake Me Up When I Sleep 3 is a continuation of the previous Effingham thing. The trilogy is still very much related and there are no separate stories. There will be more POV of Mr. Taylor who's in dilemma about his feelings for Emma. He's not only h...
![MR. ART HIMSELF [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/306505776-64-k485745.jpg)