You Know Me, Sean?

29 3 0
                                        

Jam menunjukkan pukul satu siang. Tetapi mentari tidak begitu menyorot terik. Udara lembab dan panas. Namun untuk kulitku yang sedikit kedinginan membuat angin sepoi menjadi lebih sejuk.

Aku berada di balkon penginapan, seperti yang kulakukan pagi buta hari ini. Semua guru dan teman-temanku tengah bersuka ria menceritakan keunikan apapun yang pernah mereka alami. Suasana begitu ceria dan sangat membuatku nyaman. Aku bersyukur pernah dijauhi oleh kawan-kawan di Grand High School dulu, karena sekarang aku mengerti bahwa Tuhan mengirimkanku ke sekolah yang jauh lebih baik—fasilitas dan segalanya. Di Effingham, terutama hari-hari olimpiade di Farnham ini—aku menemukan sebuah tempat yang aman untuk berlindung sebentar dari situasi rumahku yang jarang membuatku betah dalam waktu yang lama.

Jujur saja... perbedaan saat di GHS, aku benar-benar ditolak oleh pergaulan sejawat sebab dikatakan terlalu nerd. Aku tak tahu mengapa bisa pendapat positif yang berdampak negatif itu memengaruhi posisiku. Namun saat berada di Effingham, aku mulai merasa diterima oleh semua orang—meskipun masih saja ada perempuan yang merasa crush mereka direbut olehku. Percayalah, tidak ada yang meminta itu terjadi. Aku hanya menjalani tugas sebagai siswi yang harus berbuat baik di sekolah.

Sometimes being liked by too many people makes me suffer....

Aku merogoh saku celana dan menarik sebuah foto yang selalu kubawa kemana-mana. Foto mendiang ibuku yang cantik dan aku.

Fotonya sudah menguning

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Fotonya sudah menguning. Dua tahun yang lalu aku sengaja mengedit dan mencetaknya. Aku sangat bahagia melihat mom yang rupawan menggenggam seikat bunga. Dan di saat yang sama, aku hendak menghadiri pesta pernikahan saudaraku di Belarus dan membawa seikat bunga merah jambu yang tak jauh mirip dari foto mom.

Aku mengusap-usap foto ini dengan rasa rindu yang tak bisa kutahan. Meski kami belum pernah bertemu, tapi aku bisa merasakan kehadirannya di atasku. Mungkin ia selalu mengawasi dari langit dan menonton setiap peristiwa yang terjadi pada anak-anaknya melakui bentangan kaca bening yang berkilau. Aku membayangkan ia sama cantiknya saat masih hidup, tapi pasti mom bisa jauh lebih cantik bila berada di rumah Tuhan.

Mom, I often hear them say, "You already have everything. Brain, beauty, and behavior."

Doesn't mean I'm ungrateful. But what does all the glitz, the A's, the boys who like me, and the popularity at school mean—when I don't own a 'HOME' like my friends do?

People still don't understand and say mean things to me. Many ask to be listeners and embracers of love. But where's the proof? I still remain alone and lonely.

"What's mountain of treasure for if your big house is still empty with love, care, and appreciation?"

"I need someone like you. Why did God take you from me? But Dear, God... I know You're preparing an excellent scenario for me. I trust You."

Kudengar langkah kaki ragu-ragu mendekat. Aku menoleh ke belakang. Seorang lelaki muda tampan tengah mengangkat kedua alisnya, bertanya-tanya.

"Apa aku menganggu lamunanmu?" tanya Sean. Dia bahkan ragu untuk menghampiri dan malah mematung beberapa meter dariku.

MR. ART HIMSELF [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang