Sean Talks About Emma. To Me?

25 4 1
                                        

Aku menghabiskan hari dengan kesibukan yang luar biasa padat. Seperti gunung meletus, jadwalku bagai lava yang merayapi waktu luang. Seumur hidup kegiatanku tidak pernah sepenuh ini. Waktu istirahat yang kupunya hanya saat malam hari. Itu pun baru dimulai jam 11 malam atau bahkan esok harinya lagi—jam 1 pagi. Setiap hari ada saja tugas yang harus dikerjakan. Teman-teman nongkrongku mulai jengkel karena sulitnya aku untuk bertemu dengan mereka. Beberapa murid yang menanyakan soal tugas bahkan sering tak kubalas. Mereka mulai uring-uringan dengan slow respon dariku. Namun di samping semua dampak itu, dari hati yang paling dalam aku sangat menikmati produktivitas ini.

Aku sedang berada di meja makan rumah mum. Makan siangku, roti panggang yang tadinya hangat sudah mendingin.

"Sentuh makananmu, Taylor," kata Mum sambil lewat di belakangku.

"Ya, Mum," sahutku tanpa menoleh padanya.

Kulirik denting ponsel yang terus berbunyi. Beberapa pesan muncul di notifikasi; dari kepala sekolah untuk aku segera mengumpulkan administrasi mengajar, dosen yang memberikan tenggat proposal, dan Paulina yang terus mengirimkan contoh foto design kue untuk akan kukerjakan besok sore. Aku tidak berdecak melihat itu semua. Aku mulai terbiasa.

Saat aku membuka aplikasi WhatsApp, ada pesan terbaru yang muncul beberapa menit yang lalu.

EMMA : Thanks in advance, Sir 🙏🏻

Aku langsung terpaku. Baru enam menit gadis itu mengirimkan pesannya. Aku langsung saja memencet namanya dan tidak memedulikan pesan lain yang sudah lama terkirim dan jauh lebih penting.

Alam bawah sadarku pun tidak peduli.

EMMA
Good afternoon, Mr. Taylor.
Sorry to disturb your time🙏🏻
I just want to ask for instructions on last week's assignments. Is there anything I have to do to catch up the unfinished task? And if I may now, when is the deadline?
I'm afraid I won't be able to attend art class again next week, Sir🙏🏻 I'm still in recovery processes.
I'm very sorry🙏🏻
Thanks in advance, Sir🙏🏻

Entah kenapa kedua ujung bibirku terasa terangkat bersenti-senti. Aku mengulang kembali pesan yang dia kirimkan. Dua kali aku membacanya. Aku tidak bisa menahan sensasi aneh di dalam perutku saat melihat emoji "🙏🏻" yang tidak sedikit. Padahal itu hanya pesan meminta tugas dengan tutur kata yang sangat sopan. Namun, untukku ini terasa seperti... ah, aku tak tahu. Terasa beda saja.

Emma lucu sekali. Aku jadi membayangkan wajah lugunya.

Aku menegakkan tubuh dengan punggung tak lagi bersandar di kursi. Tanganku mulai mengetik dengan perlahan dan hati-hati.

MR. TAYLOR
Afternoon, Ms. Anderson.
How's your feeling?
Sorry for hear the news few days ago.
Hope you get well soon😊

There are several tasks that
you have to do :
- Make a chapter summary about social and political issues and art. You have to collect it tomorrow at 12 a.m.
- Presentation about controversial work in art history. With your group. Sweepstakes will be announced next week.
- Create one sketch idea based on your favourite artist. Collected before the end of semester exams.

That's all. Any question?


Emma langsung membacanya tapi cukup lama untuk membalas. Aku melipat bibirku ke dalam. Menatap lekat-lekat foto profil kontaknya yang... kosong. Dia benar-benar tidak seperti gadis yang lain. Sama sekali tidak menunjukkan kehidupannya di dalam internet. Aku yakin saat pertama kali mengikuti Instagramnya, ada banyak foto dan sorotan-sorotan yang berjajar. Belum sempat aku melihat-lihat lebih jauh, semua kehadirannya menghilang seperti ditelan bumi. Bagaimana aku harus mengetahui kepribadian aslinya bila kehidupan terluarnya saja tidak bisa ditebak? Apa dia punya akun lain yang aku tak tahu? Sebenarnya... 'wajah asli' gadis ini seperti apa?

MR. ART HIMSELF [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang