Wake Me Up When I Sleep 3 is a continuation of the previous Effingham thing. The trilogy is still very much related and there are no separate stories. There will be more POV of Mr. Taylor who's in dilemma about his feelings for Emma. He's not only h...
Ruangan kotak dengan cat abu-ungu terasa lengang. Kursi yang Laura duduki begitu keras, sampai-sampai ia harus membetulkan posisi duduknya berulang kali. Sudah hampir dua jam ia berada di sesi interogasi dengan seorang polisi wanita berusia 35 tahun di depannya. Polisi bernama Eloise itu sedang memeriksa tape recorder apakah tetap menyala dan merekam semuanya atau tidak.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Aku akan masuk penjara, 'kan?" tanya Laura pada Eleoise. Dia sudah muak dengan segala pertanyaan mengenai masa lalunya yang tidak menyenangkan untuk diceritakan, soal keadaan mentalnya yang tidak tahu bagaimana rasanya, dan tentang identitas dirinya sendiri yang menjijikkan untuk didengar. Dia ingin langsung tahu ke intinya saja.
"Ada beberapa tahap lagi yang harus kau lewati sebelum menentukanmu pada posisi terdakwa hingga terpidana," jawab Eleoise. Ia sudah tidak memedulikan alat perekam itu dan fokus pada Laura lagi.
"Aku punya permintaan, sebenarnya, sebelum kau menjebloskanku ke balik jeruji," ucap Laura.
Eleoise mengerutkan dahinya. Bersiap. "Apa itu?"
"Aku butuh ponselku dulu," jawab Laura dengan tatapan sinis dan penuh dendam.
"Apa yang akan kau lakukan?" Eleoise tidak berpikir Laura akan menghubungi keluarganya sebagai kata-kata perpisahan, namun ia takut Laura akan melakukan hal-hal terlarang lainnya yang akan semakin memberatkan hukumannya.
"Mengungkapkan rahasia masa lalu," jawab Laura siap menghancurkan kehidupan baik orang lain, yang telah disusun dengan susah payah selama bertahun-tahun.