Penginapan Farnham yang berantakan berubah menjadi kamar-kamar kosong dalam semalam. Ruangan demi ruangan kembali seperti pertama kali kami datang, hanya saja seprainya tidak serapih sebelum disentuh. Koper dan tas-tas besar sudah berkumpul di satu titik dekat gerbang depan.
Aku menyingkirkan helaian rambut ke belakang telinga kanan. Kunyalakan ponsel untuk memeriksa notifikasi Dr. Brennet, yang sampai sekarang belum juga memberi tahu hasil lab uterusku. Ini baru pukul setengah 7 pagi. Mungkin akan lebih siangan, batinku menerka.
Aku menggerling ke arah teman-temanku yang sedang sibuk menata tas mereka. Termasuk para guru yang sudah siap dengan baju santai masing-masing. Kutolehkan kepalaku ke bangunan penginapan elegan ini. Baru saja kemarin aku datang, sekarang sudah mau pulang lagi. Pengalaman ini sungguh berharga. Terlebih ini untuk pertama kalinya aku merasa diterima. Semenjak hubungan pertemananku dengan Edward and The Gang luluh lantak, sudah sejak lama aku bersugesti bahwa tidak ada yang mau berteman denganku. Mereka berkata aku terlalu kutu buku dan serius dalam belajar. Diriku diajak bercanda saja nampaknya mereka segan. Para gadis menjauhiku karena sebagian lelaki kesukaan mereka menyatakan perasaannya padaku. Hubunganku dengan teman lelaki jarang bertahan lama. Lagi-lagi masalahnya selalu sama. Aku sering merasa bersalah, tetapi sesungguhnya Tuhan pun tahu aku tidak salah. Ah, aku pusing sendiri memikirkannya.
Aku melirik Hikaru yang tersenyum lebar padaku. Anak Jepang yang cantik dan selalu menertawakan apa yang kukatakan. Sudah lama sekali aku tidak merasakan sensasi humor yang meluncur dari lidahku. Aku merasa dihargai dengan itu—leluconku bekerja dengan baik. Alex pun pernah berkata aku termasuk seseorang yang senang melontarkan humor yang lumayan bagus. Syukurlah.
"Melamun saja?" Mr. Taylor tahu-tahu sudah berada di sebelahku. Dia memakai jaket hitam dengan logo segitiga terbalik di bagian sakunya—Prada.
"Kayaknya akan kangen dengan suasana di Farnham, Sir," ujarku tanpa berusaha mengingat sikap dingin Mr. Taylor sejak kemarin-kemarin.
"Iya. Suasananya enak sekali untuk menggambar," Mr. Taylor ikut menatap atap penginapan.
"Pasti sudah banyak karya yang kau buat," kataku.
Mr. Taylor mengangguk. "Kinda. By the way, I made this one." Seolah telah sengaja menyiapkan sejak awal, beliau mengeluarkan satu lipatan kertas dari saku celana jins hitamnya. Dia menyerahkannya padaku.
Aku meraihnya dan membuka kertas tersebut.

"Sir?" Aku meliriknya dengan tatapan lebar. "Ini..."
"Your mom and you," jawabnya. Aku terenyuh, mendapati Mr. Taylor memang memandang cukup teliti fotoku dan Mum yang jatuh tempo hari.
"This is stunning," pujiku, tak hentinya menatap gambar di tanganku. "Rambutnya sama persis. Ini bagus banget. Aku akan menyimpannya di belakang foto itu. Terima kasih, Mr. Taylor." Aku ingin sekali menangis, tapi kutahan agar tidak terlihat lemah. As always...
Mr. Taylor tersenyum senang. Binar di matanya menunjukkan gobar hati yang mendalam. Ya, aku bisa merabanya. "Sama-sama, Emma." ucapnya begitu lembut dan tulus. Sudah lama aku tidak mendengar nada bicara seperti itu dari Mr. Taylor. Ah, benar dugaanku. Dia sempat berubah menjadi dingin beberapa hari terakhir ini. Untuk alasan sebenarnya aku masih sedikit tak paham.
"Want ice cream as breakfast?!" Teriakan Ms. Florence mengalihkan perhatianku. Sang guru dengan rambut diikat kuda tersebut menunjuk satu dus Häagen-Dazs di sebelah pintu penginapan. Teman-temanku bersorak, tidak peduli bagaimana dinginnya udara hari ini—mereka tetap menginginkan es krim gratis. Termasuk aku.
Mr. Taylor mengedikkan kepala agar aku ikut menghampiri Ms. Florence. Aku pun menurut dan langsung tertubruk tubuh Ben yang baru berbalik sambil menggenggam semangkuk rum raisin. "Watch out!" seru Ben. Beruntung Alex menahan bahuku.
KAMU SEDANG MEMBACA
MR. ART HIMSELF [COMPLETED]
RomansWake Me Up When I Sleep 3 is a continuation of the previous Effingham thing. The trilogy is still very much related and there are no separate stories. There will be more POV of Mr. Taylor who's in dilemma about his feelings for Emma. He's not only h...
![MR. ART HIMSELF [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/306505776-64-k485745.jpg)