Emma berjalan dengan girang di tengah suasana sepi gedung sekolah pada sore hari. Ia melongokan kepala ke ruang guru. Beberapa guru sudah bersiap untuk pulang.
"Cari siapa, Emma?" tanya Ms. March dari mejanya, ia baru mendongak dari laptop dengan kacamata kotak bertengger di hidung lancipnya.
"Mr. Taylor, Miss." Emma menjawab.
"Oh, beliau sudah keluar tadi. Baru saja keluar ruangan. Coba kejar, siapa tahu belum pulang," ujar Ms. March. Emma berterima kasih dan dengan secepat kilat ia setengah berlari di koridor lantai satu.
Disitulah ia. Mr. Taylor baru saja memasuki ruang tata usaha. Emma pun memutuskan untuk menunggu di luar ruangan itu sambil memeluk hadiah yang akan ia berikan untuknya. Bagaimana reaksi Mr. Taylor nanti, ya? Semoga saja beliau suka! Emma bersikeras untuk memberi gurunya hadiah, sebab Emma sudah menganggap Mr. Taylor sebagai guru favoritnya. Emma senang memberi hadiah istimewa bagi orang yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya.
Krieeet...
Pintu terbuka. Emma menegakkan tubuh dari dinding. Mr. Taylor baru saja memasukkan beberapa surat ke dalam tasnya dengan cepat. Dia tampak repot.
"Mr. Taylor," panggil Emma ceria.
Mr. Taylor mendongak sambil meresleting tasnya dengan buru-buru. Tatapannya dingin. "Maaf jangan sekarang Ms. Anderson." Di luar dugaan, Mr. Taylor malah meneruskan untuk berjalan sambil menyampirkan tasnya di bahu.
Emma tidak mau kehilangan kesempatan lagi, jadi ia mengekor dengan cepat. "Sebentar saja Mr," Emma memohon sambil terus menyusul.
Mr. Taylor menghentikan langkahnya, menoleh pada Emma yang kini ikut berhenti mendadak.
"Saya sedang sibuk!" ucap Mr. Taylor dengan penekanan yang kasar.
Kaki Emma langsung lemas. Telinganya merekam bagaimana tingginya nada suara beliau.
Lelaki itu kemudian menyesali cara ia berbicara. Dipandangnya sejenak mata Emma yang perlahan meredup. Alisnya yang semula terangkat penuh semangat tiba-tiba turun tanpa gairah. Mr. Taylor yang sudah tidak tahu harus mengatakan apa-apa lagi, kemudian menggeleng pelan dan pergi ke arah depan, tidak memedulikan Emma lagi.
Emma memandang punggung Mr. Taylor yang terus melangkah dengan cepat seakan dikejar waktu, lalu beliau berbelok ke arah lobi sekolah dan menghilang dari pandangan.
Hadiah di tangan Emma merosot, hampir jatuh, tapi ia tetap peluk meski genggamannya melemah. Ia pun pergi dari sana untuk kembali ke kelas dan mengambil tasnya dengan hati yang hampa. Selama di lorong, ia berjalan tertunduk, hanya menatap sepatunya yang bergantian menapaki ubin yang bersih.
Mr. Taylor seperti beda orang. Dia menjadi kejam dan bukan pria yang Emma kenal sebelumnya. Apa yang telah terjadi? Padahal belum lama Mr. Taylor menjadi tempat curhatnya, membawa Emma ke rumah orang tuanya, sampai rela menggotong Emma ke klinik sekolah.
Apakah... seperti inilah normalnya Mr. Taylor yang dilihat oleh teman-teman sekelasnya? Itulah sebabnya tidak pernah ada teman perempuan yang mau berlama-lama berbincang dengannya? Inilah sifat Mr. Taylor sesungguhnya? Judes? Dingin?
Padahal Emma mengira Mr. Taylor hanya bersikap profesional ketika di depan banyak orang, dan ketika mereka berdua Mr. Taylor berubah menjadi jauh lebih ramah. Namun kini, di depan dan di belakang khalayak jadi sama saja. Sama-sama menjaga jarak. Seolah-olah mereka berdua tidak pernah seminar bersama, berbincang di restoran kakaknya, dan Mr. Taylor tidak pernah mengantar Emma pulang ke rumahnya.
Terlalu banyak momen yang sudah dilalui mereka berdua. Lebih-lebih dari hanya sekadar hubungan guru-murid di sekolah. Mr. Taylor sudah Emma anggap sebagai teman terbaiknya. Tetapi, teman tidak marah tanpa sebab, 'kan?
KAMU SEDANG MEMBACA
MR. ART HIMSELF [COMPLETED]
DragosteWake Me Up When I Sleep 3 is a continuation of the previous Effingham thing. The trilogy is still very much related and there are no separate stories. There will be more POV of Mr. Taylor who's in dilemma about his feelings for Emma. He's not only h...
![MR. ART HIMSELF [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/306505776-64-k485745.jpg)