"Tidak ada yang tertinggal?" Ms. Ronan memanjangkan leher untuk mengecek bawaan kami.
"Sudah semua, Miss." jawab Kim di dekatnya. Dia tampak lebih segar karena masih diizinkan untuk ikut ke Farnham.
"Obat, pakaian, bekal, dan makanan, alright?" Mr. Davis berjalan di tengah-tengah kumpulan peserta lomba.
"Lengkap." jawab Ben. Dia memakai jaket merah marun tebal, membuatnya terlihat lebih tinggi dan besar.
Alex menoleh padaku. "Kau sehat 'kan?"
Aku mengangguk, langsung memikirkan kondisi fisikku sendiri. "Yap. Semua baik-baik saja." Alex terlihat senang mendengar penuturanku.
Tak perlu memakan waktu lama, bus berwarna cokelat tua yang tidak terlalu besar mendekat ke gerbang sekolah. Kami semua bersorak seolah akan pergi bertamasya.
Bus berhenti, pintunya terbuka otomatis. Sopir dengan kacamata hitam dan kumis tebal tersenyum di joknya.
"Let's go!" serunya meminta kami untuk segera masuk. Tampaknya dia pun tak sabar mengantar kami ke Farnham.
Berbondong-bondong anak laki-laki naik lebih dahulu setelah memasukkan koper ke bagian sisi bus. Mereka tak perlu diberi instruksi lagi untuk duduk di bagian belakang. Aku berdiri di belakang Hikaru yang bisa kucium rambut hitam pendeknya wangi permen karet. Di dekat pintu, berdiri Mr. Taylor yang sedang menceklis data presensi setiap anak yang masuk ke bus. Aku memerhatikan penampilannya hari ini; meski tidak sekeren saat kami bertemu di jalan raya tempo lalu, tapi aku merasa melihat sisi lain dari Mr. Taylor. Dia memakai kemeja jeans yang dijadikan sebagai outer, kaos merah, dan celana hitam. Dia selalu tampil santai di luar sekolah. Kecuali wajah judesnya yang sedang menunduk ke kertas di tangan.
Tiba giliranku naik ke tangga bus. Alex terdengar teriak-teriak meminta keripik kentang. Hikaru melirikku, menunjukkan ekspresi 'lihat saudaramu, dia ribut'. Aku hanya tersenyum membalasnya.
"Tidak ada yang ketinggalan, Emma?" Aku menoleh pada Mr. Taylor.
"Aman, Sir." jawabku. Mr. Taylor menunduk lagi menatap kertas. Seperti biasa. Tidak banyak bicara lagi.
Aku sudah masuk ke bus dan mencari kursiku. Hikaru berkata ia tidak ingin dekat jendela. Aku langsung mengiyakan.
"Lebih aman kalau aku melihat ke kaca depan," katanya sambil duduk.
"Mabuk?"
"Begitulah," jawab adik kelasku itu.
"Heyy ada makanan?" tanya Alex. Ia berdiri dengan sebelah tangan bertumpu ke kursi Hikaru.
"Kau 'kan punya," kataku seraya menggeser tirai agar menutupi matahari pagi yang menyilaukan.
"Keripik kentang seperti punya Ben," bela Alex.
Aku mendelik. "Tidak ada."
Alex mendengus. "Hikaru?"
Aku menghalangi tubuh mungil Hikaru dengan lenganku, seolah memagarinya.
"Tidak apa-apa. Aku ada dua." Hikaru berkata ramah.
Aku melebarkan mata. "Jangan!" Tapi Hikaru membungkuk untuk meraih keripik kentang di tas makanannya.
Alex mengangkat-angkat alisnya kepadaku. Menyebalkan!
"Ini." Bungkusan camilan gendut berwarna ungu diberikan Hikaru secara percuma.
"Ay-yeay! Arigatou Gozaimasu," Alex membungkuk. "Tapi kau ikhlas 'kan?"
Hikaru mengangguk. "Kau bukan memalak, 'kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
MR. ART HIMSELF [COMPLETED]
RomantikWake Me Up When I Sleep 3 is a continuation of the previous Effingham thing. The trilogy is still very much related and there are no separate stories. There will be more POV of Mr. Taylor who's in dilemma about his feelings for Emma. He's not only h...
![MR. ART HIMSELF [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/306505776-64-k485745.jpg)