Wake Me Up When I Sleep 3 is a continuation of the previous Effingham thing. The trilogy is still very much related and there are no separate stories. There will be more POV of Mr. Taylor who's in dilemma about his feelings for Emma. He's not only h...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Untungnya, baju yang Sean pakai jauh lebih muda daripada yang difoto, dan gaun milik Emma warnanya jauh lebih tua. Jadi, ketika mereka bertemu di depan hotel, semua teman-temannya mengagumi kecocokan baju mereka yang ternyata tidak jauh-jauh amat.
"Kalian serasi sekali," komen Grace sambil mengapit lengan Emma. Gadis itu memakai anting permata abu muda dan hiasan kepala sederhana namun tetap indah.
Sean tak kalah tampan. Ia tidak memakai kacamatanya. Lensa matanya berwarna cokelat tua, seperti Emma. Rambutnya didandani styling pomade. Sepatu hitamnya mengkilap.
Sean menggenggam tangan Emma, membuat gadis itu kaget—dia sudah lama tidak diperlakukan seperti itu. "Kamu cantik sekali," pujinya. Mata Sean selalu berbinar, lembut, dan menunjukkan sifat lelaki yang baik hati. Siapapun yang ditatap oleh Sean seperti itu, pasti akan langsung menjadi es batu yang meleleh.
Emma tersipu mendengarnya. "Kamu juga tampan," balas Emma dengan jujur. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia melihat Sean setampan itu!
"HEYYY DON'T KISSING HERE!!!" Alex berkacak pinggang. Ia menatap tajam keduanya.
Emma lupa masih ada kakaknya di sekitar mereka. "Siapa juga yang mau melakukan itu?!" serunya merasa tertuduh. Alex masih kebiasaan, sejak Emma berpacaran dengan Tom juga, Alex seringkali menunjukkan kejengkelannya melihat mereka beromantis ria. Beberapa kali sampai puasa bicara pada Emma.