‼️Warning! This chapter contains scenes of violence and harsh words that may trigger some individuals.‼️
Dua minggu sebelum ujian akhir semester, desas-desus Mr. Taylor akan pindah tiba-tiba saja meluas di kelas A. Mereka sempat memancing Ms. March pada saat pelajaran sastra Inggris, tetapi guru itu hanya tertawa dan menggerakkan tangannya tak peduli. "Kalian ada-ada saja," katanya, membuat anak-anak saling bertukar pandang.
"Itu artinya ya atau tidak?" bisik Ben pada Sean. Mereka sudah sangat berbaikan sekarang.
"Aku tidak tahu. Edward juga tidak membahas lagi," jawab Sean sambil mengangkat bahu. Ben pun menerawang jauh dengan cemas. Hadiahnya sudah diberikan pada Mr. Taylor, dan untungnya sang guru senang dengan lukisan Ben. Masterpiece, kata Mr. Taylor. Ben juga penasaran karena Emma belum cerita apa-apa soal hadiah darinya. Tetapi, Ben tidak mau bertanya lebih jauh karena akhir-akhir ini Emma terlihat berwajah masam.
Emma yang sekarang sedang gelisah karena ingat Alex—bukan karena anak itu sakit hari ini—tapi karena Alex berkata bahwa Albert bilang padanya, untuk menyampaikan pada Emma, kalau mereka harus berbicara setelah pulang sekolah.
Ditambah lagi Norah baru saja mengirimkan pesan, bertanya lagi pada Emma dengan kalimat singkat yang tajam. Pesan dari Norah baru saja masuk tepat ketika kelas sastra tadi dimulai.
Norah
Apa kata kakakmu?
Emma belum membalasnya sampai 30 menit pelajaran berjalan. Membukanya saja dia enggan. Dia sama sekali belum menyampaikan apapun pada Albert soal pesan Norah. Dan kegelisahannya menjadi berlipat ganda saat Alex bilang Albert akan mengobrol dengannya. Soal apa? Apa saudaranya yang lain sudah tahu tentang ini sebelum Emma bilang?
"Ya, Ms. Anderson?" Ms. March memberikan spidol hitamnya pada Emma. Meski pikiran Emma sedang bergelut dengan masalah di rumah, tapi sisi kepalanya yang lain tetap memikirkan jawaban kelengkapan grammar di papan tulis. Jadi, ia pun maju ke depan dan selesai diiringi tepuk tangan dari teman-temannya.
🎨🎨🎨
Satu minggu sebelum UAS, Mr. Taylor baru saja menerima surat penting dari kepala sekolah dan sebuah amplop cokelat tebal. Olivia, yang selalu berurusan dengan tugas dari para guru yang tidak izin masuk pada hari itu, berada di ruang guru dan melihat Principal Grazer menyalami tangan Mr. Taylor dan menepuk pundaknya.
Meski Olivia cenderung polos dan lemot, tapi ia tahu ada sesuatu yang memang baru saja terjadi di antara Mr. Taylor dan pihak sekolah. Batinnya terus bertanya-tanya soal dampak dari Google Drive itu. Separah itukah sampai Mr. Taylor harus dikeluarkan.
Dia sempat beradu pandang dengan guru bermata tajam itu. Olivia menelan ludah dan buru-buru keluar dari ruang guru. Padahal jika saja dia bersikap normal, tidak akan masalah.
Pada saat Olivia membuka pintu kelas sejarah untuk membuat heboh teman-temannya dengan apa yang baru saja lihat soal Mr. Taylor, ternyata kelas sudah lebih dulu ribut ketika Olivia tidak ada di sana.
Di bawah papan tulis, Sean sudah tersungkur dengan ujung bibir yang sobek. Di depannya, Alex sedang dipegangi oleh teman-temannya agar tidak mengamuk lagi.
Alex yang biasanya selalu sumringah, kini wajahnya penuh dengan angkara murka. Tangannya sedang mengepal dengan kencang. Nafasnya naik turun, menderu-deru tak karuan. Kulitnya tampak memerah.
"BAJINGAN!!!!" Alex berteriak sekencang yang ia bisa. Dengan gerakan cepat ia berhasil melepaskan pegangan Edward dan Chris, lalu menerjang Sean yang baru saja dibantu berdiri oleh Ben. Alex menjambak rambut laki-laki yang ternyata bingkai kacamatanya sudah patah dan memukulkan kepala itu ke papan tulis sampai lapisan putihnya retak.
KAMU SEDANG MEMBACA
MR. ART HIMSELF [COMPLETED]
RomanceWake Me Up When I Sleep 3 is a continuation of the previous Effingham thing. The trilogy is still very much related and there are no separate stories. There will be more POV of Mr. Taylor who's in dilemma about his feelings for Emma. He's not only h...
![MR. ART HIMSELF [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/306505776-64-k485745.jpg)