"Emma! Ngapain kamu di siniii?"
Suara kencang Alex membuat kelopakku terbuka cepat. Aku menegakkan tubuh dan mendapati lorong sudah hampir penuh. Kepalaku mendongak pada Alex yang melotot, kaget karena aku tidur di atas kursi dengan tubuh duduk di lantai yang dingin. Sudah tidak ada Ben di sekitarku. Oh iya, anak itu tadi sudah diminta Mr. Taylor untuk kembali ke dalam kelas karena tugasnya memang terselip di buku catatan lain. Sementara aku tidak dipanggil lagi.
Aku berdiri dan membetulkan rokku. Kulit kakiku sudah dingin karena kelamaan menyentuh ubin. "Aku ketiduran. Dihukum Mr. Taylor karena lupa membawa buku catatan."
Alex membuka mulutnya, membeku. Tangannya mengangkat sebuah buku dengan sampul clay art. "Ada di tasku," gumamnya merasa bersalah.
"Kok bisa?" tanyaku.
"Tadi pagi aku masuk ke kamarmu, ambil pulpenku yang ketinggalan. Ya sudah aku bawa bukumu sekalian. Lupa, deh," jelasnya, menggaruk-garuk kepala yang tak gatal.
Aku menghela nafas pelan, mengutuk kejadian ini. "Sini," kataku tapi sambil tertawa melihat wajah planga-plongo Alex.
Aku mengambil bukuku dan kembali masuk ke dalam kelas seni. Teman-temanku sudah bubar. Beberapa dari mereka berkata mataku merah.
Sean baru saja berdiri dengan menenteng tasku tapi kembali duduk. Ia nyengir lebar saat aku mengangkat bukuku sambil berkata, "Alex." Tanpa suara.
Mr. Taylor ada di sana, di bangku gurunya, mencatat seperti biasa. Aku memperlambat langkahku, merasa cemas ketika melihat sosoknya.
"Sir," panggilku. Dia melirikku sekilas lalu lanjut mencatat.
"Apa?" tanyanya.
Aku menyodorkan bukuku. "Maaf, ternyata terbawa Alex."
Mr. Taylor melirik bukuku lalu mengambilnya. Ia membuka satu persatu halaman. Aku menoleh pada Sean. Ternyata dari tadi ia sedang memandangiku. Kami berdua saling tersenyum manis.
He's cute, batinku.
"Oke, bagus. Bersyukurlah nilaimu tak jadi dikosongkan," kata Mr. Taylor dan menuliskan nilaiku.
Aku tersenyum super lega ketika menerima bukuku kembali. "Terima kasih banyak, Sir." Aku sedikit membungkuk.
Mr. Taylor hanya bergumam tanpa memandangku. Aku sempat hampir berpikiran macam-macam-kenapa ia tampak jutek (karena ada Sean atau sikapku kemarin), tapi aku memilih kembali pada Sean dan meminta tasku. "Udah aku aja yang bawain," sanggah Sean.
"Gak mau," tolakku. Dan selama kami berjalan keluar kelas, aku dan Sean berebut tas milikku. Kami tertawa kencang dan ia kabur selama di lorong.
"Tunggu!" seruku.
"Ya ampun, pasangan baru romantis banget," ejek George yang masih ada di sana. Aku melotot, suara George cukup keras untuk terdengar oleh siapapun di sekitar kami.
Aku tidak memedulikan bagaimana reaksi Mr. Taylor di belakangku, sebab sekarang aku harus ikut mengejar Sean dengan cepat. Sempat aku mendengar sebuah buku yang ditaruh di atas meja guru dengan sangat kencang. Aku tak yakin Mr. Taylor akan se-emosional itu karena keributan ini.
Pasti bagi guru keberadaanku dan Sean gak terlalu penting, 'kan?
🎨🎨🎨
KAMU SEDANG MEMBACA
MR. ART HIMSELF [COMPLETED]
RomanceWake Me Up When I Sleep 3 is a continuation of the previous Effingham thing. The trilogy is still very much related and there are no separate stories. There will be more POV of Mr. Taylor who's in dilemma about his feelings for Emma. He's not only h...
![MR. ART HIMSELF [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/306505776-64-k485745.jpg)