Sean mendapatkan hukuman moral dari pihak sekolah. Detensi yang ia terima lumayan unik. Principal Grazer memanggil Nick ke ruangannya keesokan harinya. Nick sempat ingin pura-pura pingsan saja, agar bisa menghindari kejadian yang akan terjadi selanjutnya. Ia sudah kepalang takut ditegur karena selalu terlambat mengumpulkan tugas. Tetapi, ketika Nick melewati ruang guru, beberapa staff tersenyum padanya dengan lembut. Ia tidak membalas sapaan mereka saking kagetnya. Ada apa? Tanyanya dalam hati. Ia sama sekali belum tahu soal aniaya Sean pada Emma, karena berita itu tidak sampai menyebar ke anak kelas 10.
Nick hendak membalikkan badan ketika melihat ada Sean juga di depan meja Principal Grazer.
"Nick!" panggil Principal Grazer. Wajahnya tidak seramah pada Sean sekarang. Nick menoleh dengan takut, jantungnya berdegup keras.
"Ya, Sir?"
"Saya memanggilmu untuk masuk. Bukan malah keluar lagi," kata Principal Grazer. Beliau berdiri, dia mengarahkan tangannya ke kursi kosong di sebelah Sean. "Duduklah. Saya tidak akan menghukummu." Nick akhirnya duduk sambil sesekali melirik Sean yang terdiam kaku seperti patung.
Principal Grazer hanya menyuruh Nick dan Sean untuk duduk bersebelahan, lalu ia bilang mau menyeduh secangkir kopi. Sang kepala sekolah keluar dari ruangannya, meninggalkan kedua anak lelaki itu dengan suasana yang amat canggung. Itulah hukuman bagi Sean. Ia harus mengajak ngobrol Nick, singkatnya meminta maaf padanya dengan tulus. Dan Principal Grazer meminta secara khusus agar Sean bisa memancing Nick untuk menceritakan asal mula kejadian kenapa sebelah matanya bisa buta seperti sekarang.
"Oh, ini. Tidak perlu dipikirkan. Kecelakaan kecil," tunjuk Nick ke mata kirinya yang berwarna abu.
"Kecelakaan apa?" tanya Sean dengan wajah datar, murung, dan tidak bergairah.
"Aku naik sepeda, lalu jatuh dan mataku tertancap paku berkarat."
Sean membuang muka. "Kecil, katamu?"
Nick terkekeh. Dia begitu ceria. "Tidak sebanding jika seluruh wajahku yang rusak, 'kan?" Mendengar itu, Sean semakin tambah bersalah. Nick begitu mudah memaafkan ucapannya kemarin siang. Padahal, Sean sudah memikirkan hal itu semalaman bahwa perkataannya bisa merusak mental seseorang. Tetapi Nick memilih untuk tabah.
"Tapi.. kenapa sih sampai harus dipanggil ke sini?" Nick menatap seisi ruangan kepala sekolah, seakan pajangan di tembok bisa menjawab kepenasarannya.
Sean hanya diam. Dia tidak menjawab. Cukup sudah sekarang ia menjadi lelaki kasar yang beraninya sama perempuan. Sean ingin sekali meminta Nick untuk memukul rahangnya sekencang mungkin, sama seperti luka yang ia torehkan pada wajah Emma.
"Sean?" panggil Nick.
"Bagaimana rasanya punya pacar sebaik itu?" Pertanyaan Nick membuat hentakan tak nyaman di perut Sean.
Sean menelan ludah. Dia memandang mata kiri Nick yang masih berbinar, yang jauh di dalamnya mengharapkan sosok Emma. Sedangkan Sean, baru saja melukainya secara terang-terangan, padahal ia sudah susah payah mendapatkannya sejak dulu. Bodoh, kau, Sean!
"Menyenangkan, yeah," jawab Sean, menoleh ke arah lain. Ia tidak tega melihat mata Nick terlalu lama. "Kalau saja laki-lakinya juga menyenangkan."
"Maksudnya?" Nick menegakkan tubuh, bingung. Sean hanya menjawabnya dengan gelengan pelan.
🎨🎨🎨
Setelah kejadian itu, Emma tetap memaksakan diri untuk tidak diam di rumah. Setelah perhitungan yang ketat, Emma tidak bisa absen lebih lama lagi. Nilai kehadirannya terancam merah. Fransesca dan Agatha jelas menangis mengetahui cerita Alex ketika pulang sekolah kemarin. Malamnya, Fransesca tidur menemani Emma di kasur penuh boneka teddy bear dan tidak keberatan untuk tidur agak larut, sampai memastikan Emma benar-benar tidur dengan nyenyak. Di samping itu, Alex bahkan diam-diam memukul kaca kamar mandi miliknya, merasa dikhianati sebagai sahabat oleh Sean. Dia tetap mengirimkan pesan bertubi-tubi pada Sean sebelum hatinya puas meluapkan amarah. Sean hanya membaca tapi tidak membalas. Hal itu membuat Alex semakin merasa jengkel.
KAMU SEDANG MEMBACA
MR. ART HIMSELF [COMPLETED]
Roman d'amourWake Me Up When I Sleep 3 is a continuation of the previous Effingham thing. The trilogy is still very much related and there are no separate stories. There will be more POV of Mr. Taylor who's in dilemma about his feelings for Emma. He's not only h...
![MR. ART HIMSELF [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/306505776-64-k485745.jpg)