Murid-murid perwakilan Effingham High School telah sampai di Effingham University. Mereka bersama para guru pembimbing masing-masing berjalan menuju lobi untuk mengisi daftar hadir.
"Biar aku yang mewakili." Mr. Davis berkata pada mereka seraya meninggalkan rombongan.
Emma meneliti sekeliling. Betapa indah dan modernnya gedung kampus yang dipijaknya. Berbeda dengan bangunan-bangunan college di sekitar Surrey yang masih layaknya peninggalan kerajaan zaman dulu, kastil dan terasa kuno.
Tiba-tiba, ia teringat Tom. Sekarang Tom adalah mahasiswa di sini. Aktif berorganisasi dan kemungkinan akan mengurus acara ini. Apakah Tom ada di dekatnya? Semoga saja tidak. Ini bukan waktu yang tepat untuk bertemunya.
"Is this your uni, Sir?" Ms. March bertanya kepada Mr. Taylor di dekat mereka.
"Yes, Miss." jawab Mr. Taylor.
"I thought you study at Surrey University, Mr. Taylor." Emma masuk dalam percakapan, sekaligus membuang pikiran tentang bertemu Tom. Sang guru seni menoleh, tidak menyangka Emma ikut berunding.
Mr. Taylor menggeleng tak berkata apa-apa lagi. Emma melirik Ben di sebelah Mr. Taylor yang sedang mencakar-cakar jari tangannya sendiri.
"Ben?" panggil Emma.
Mr. Taylor ikut menoleh. Ben seperti menahan sesuatu. "You right?"
Ben menggeleng. "Aku mulas sekali. Rasanya ingin pergi dari sini."
"Calm. Relax. Everything will be fine," kata Mr. Taylor. "Kalau ini takdirmu, pasti akan menemukan jalan menujumu. Kalau bukan, kau akan mendapatkan yang lebih baik. Atau... bisa jadi tak menang itu lebih baik untukmu. Bebaskan ok Ben? Biarkan piala itu yang mencarimu."
Ben mengangguk sambil menarik nafas dalam-dalam. "Ini lomba teori seni pertamaku."
"It's ok." ujar sang guru lagi.
Emma menyunggingkan senyuman mendengar dialog yang menenangkan itu. Ben pasti beruntung dibimbing oleh Mr. Taylor. Guru itu membuat nyaman selama belajar—Emma pernah merasakannya saat lomba di pameran seni.
Mr. Taylor tak sengaja menggerling kepada Emma yang baru saja menoleh cepat ke arah lain. Ia yakin tak salah lihat—Emma sedang tersenyum. Sayangnya, tak ada waktu untuk memproses senyuman itu lebih lama. Karena kini, semua peserta dipanggil untuk memasuki ruang olimpiade.
Emma melebarkan mata mendengar speaker itu menggema ke seluruh ruangan. Ms. March langsung memegang kepala Emma dengan lembut.
"I transfer you all of my power. What I've taught you, will always forever in here. Here. Once more. Here."
Emma mengangguk mantap. "Thanks Ms. March."
Ms. March melepaskan tangannya. "Let it flow."
Itulah caranya menyemangati Emma.
🎨🎨🎨
"Apa? Final?" Ben melotot saat tahu bahwa Emma sedang berjuang di aula utama. "Quiz championship?"
Charlotte mengangguk cepat, kacamatanya bergoyang. "Cepat, kalian harus melihatnya. Ini lebih sengit dari pertandingan basket kemarin! Sudah, ya. Aku mau ke toilet! Byee Ben! Bye Mr. Taylor!"
"Sir, ayo kita ke sana!" Ben bersemangat.
Mereka berdua pun berjalan cepat menuju aula. Ramai sekali. Mr. Taylor mencari rombongannya. Mereka berdua langsung menghampiri. Ada Alex, Sean, dan beberapa murid yang sudah dikalungkan medali emas.
KAMU SEDANG MEMBACA
MR. ART HIMSELF [COMPLETED]
RomanceWake Me Up When I Sleep 3 is a continuation of the previous Effingham thing. The trilogy is still very much related and there are no separate stories. There will be more POV of Mr. Taylor who's in dilemma about his feelings for Emma. He's not only h...
![MR. ART HIMSELF [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/306505776-64-k485745.jpg)