Bruce Party

27 5 0
                                        

"Ms. Anderson?" Ms. Jennifer menggoyangkan bahuku. Aku terbangun dan terkesiap. Kulihat seisi kelas sedang memandang ke arahku. Aku mengucek mata, tak sadar tertidur di kelas.

"Maaf, Miss," ucapku merasa bersalah.

Ms. Jennifer menunjuk pintu. Kukira ia akan menyuruhku untuk membasuh wajah. "Diam di luar, ya."

Ternyata benar isu tentang Ms. Jennifer adalah guru yang sering mengusir siswanya yang berbuat kesalahan sekecil apapun. Aku mengangguk tidak memprotes. Sean memandangku dengan iba di bangkunya. Aku berjalan keluar dan bersandar di sebelah pintu kelas. Aku mengerjapkan mataku dengan berat. Kupeluk cardigan cokelat yang sedang kupakai. Koridor yang sepi terasa begitu hening dan dingin. Aku selalu kedinginan sejak tadi malam.

Kemudian koridor tak lagi sesepi itu. Kutengok ke arah kanan. Berbondong para guru berjalan di koridor. Setiap dua guru mendatangi kelas yang berbeda dan memanggil guru yang sedang mengajar. Aku memiringkan kepala. Mereka semua terlihat seperti sedang menghadapi situasi yang gawat.

"Ms. Anderson?" Ms. Jennifer melongok dari dalam kelas.

Aku menegakkan tubuh

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku menegakkan tubuh. "Ya, Miss?"

"Masuk lagi," ujarnya. Aku heran dan bertanya-tanya, tapi tidak berkata apa-apa. Kuturuti perintahnya. Aku duduk lagi di bangkuku. Lega rasanya tidak jadi berdiri selama satu jam ke depan.

Sean tersenyum di sebelahku. Aku membalas senyumannya.

Aku menahan diri untuk tidak terkantuk-kantuk selama sisa jam pelajaran. Kepalaku pusing sekali. Tubuhku sedikit menggigil, tapi tidak ada orang yang menyadarinya. Ms. Jenniferlah yang berulang kali memeriksa keadaanku dari tempatnya mengajar.

Knock! Knock! Knock!

Kami semua menoleh ke pintu. Ada Ms. Florence yang meminta izin untuk memanggil Ms. Jennifer. Sang guru Spanyol tersebut menghentikan pembelajaran dan berjalan keluar. Aku menatap ekspresi wajah Ms. Florence yang menampakkan ada situasi serius yang sedang terjadi.

Aku memicingkan mata. Ternyata, ada Mr. Taylor juga di sana. Ia berdiri tepat satu meter dari pintu. Ia menunggu kedua guru perempuan berbincang. Sedangkan dirinya kini memandang lurus ke arahku. Tajam.

Aku tahu Mr. Taylor memiliki julukan guru bermata elang oleh teman-temanku. Namun, tatapannya kali ini terlihat lebih menyeramkan dibandingkan saat ia mengawas ujian middle tes kami.

Aku tahu, dia sedang mengintimidasiku. Feelingku berkata ada yang tidak beres.

"Emma you alright?" Sean membungkuk, sehingga pandanganku ke pintu terhalang oleh wajahnya.

"I'm fine," jawabku.

"Beruntung Sean berani bicara kepada Ms. Jennifer," Charlotte berkata dari bangku belakang. Aku menoleh bingung. Dia pun menjelaskan, "Sean bilang ini pertama kalinya kau tidak sengaja tertidur di kelas karena kau sakit. Jadi, Ms. Jennifer menyuruhmu masuk lagi."

MR. ART HIMSELF [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang