Oh, No

32 5 2
                                        

Aku pergi lagi ke sekolah. Berusaha untuk tetap bersikap biasa saja di depan semua orang. Walau ada satu bagian tubuhku yang seolah terasa hilang. Kakiku seakan menapaki angin. Jiwaku sedang mengawang-awang. Yang terlintas di pikiranku bukan materi pelajaran fisika yang akan keluar pada quiz hari ini.

Selama di lorong sampai masuk ke dalam kelas, aku tidak memikirkan hal lain kecuali 3 kata. Albert, cerai, derita. Atau 3 kata lainnya, saudara, dukungan, dan cinta.

Bagaimana bisa aku akan bertahan di rumah itu untuk beberapa hari ke depan? Melihat Albert yang murung. Aku selalu ingin menangis bila melihat kakak paling penyayang itu menjadi diam seribu kata. Bahkan saat sarapan pun dia sampai lupa sedang memanggang daging. Makanannya gosong. Tatapannya kosong. Auranya sedang melompong.

Rumah Anderson seolah tidak pernah baik-baik saja. Hawanya, situasinya, kondisinya, padahal settingnya sudah begitu kerasan dengan segala fasilitas yang ada. Harusnya rumah seperti itu menjadi surga bagi siapapun yang menempatinya. Tentu saja, secara lahiriah sudah sangat enak untuk dijadikan penginapan bintang lima. Tapi mana buktinya? Saudaraku ada banyak. Fransesca bahkan masih menginap di rumah. Namun tetap saja, kami seolah menyewa kamar indekos dari sepasang pemiliknya yang sudah meninggal dunia sejak lama. Kami masih menjalani rutinitas yang ada, di kamar masing-masing, esoknya pergi sekolah atau kerja, lalu pulang, karena lelah, maka langsung tidur.

Home sweet home...

Maksudku, setelah Miller bercerai dengan segala pertengkaran hebat yang aku saksikan... sekarang haruskah aku mendengar juga kabar ini dari Albert? Yeah, walau tidak melihat bagaimana parahnya pertengkaran Albert dan Noah, namun aku tahu dampak psikologisnya bisa juga terserap olehku.

"Ms. Anderson?" Sebuah suara ada di telingaku. Tapi aku tak kunjung tersadar.

Tap.. tap.. tap..

Aku bisa mendengar langkah kaki tegap mendekat ke arah bangkuku. Aku masih saja sibuk melihat taman di luar jendela kelas.

Sebuah tangan menyentuh tanganku. Aku terlonjak dan melihat Mr. Davis sudah berdiri, mencondongkan tubuhnya ke arahku. "Are you okay?" tanyanya.

Mengerikan. Itu satu kata yang langsung terbayang di benakku. Aku buru-buru melepaskan tanganku. Takut.

"Oh, sudah bubar?" tanyaku sambil celingukan ke seisi kelas fisika yang sudah kosong. Tak ada satupun siswa yang tersisa, kecuali aku dan Mr. Davis. Sean tidak sekolah. Biasanya dia selalu menungguku . Teman-teman perempuanku yang lain? Duh, aku sampai tidak ngeuh mereka semua kemana. Mungkin aku sudah dipanggil berulang kali, tapi tidak menyahut. Aku yakin Mr. Davis yang meminta untuk ambil alih.

Aku menyesali lamunanku yang terlalu dalam. Ah, Albert. Tidak biasanya aku begini. Aku harus menemuinya langsung saat pulang ke rumah. Aku tidak mau dia sakit atau kenapa-napa.

"Kau melamun lama sekali," kata Mr. Davis. Dia menegakkan tubuh dan memberikan hasil quizku. 80. Standar, tapi tidak buruk.

"Terima kasih," kataku langsung memasukkan semua barangku yang berserakan di meja. Mr. Davis tidak menjawab apa-apa. Dia masih berdiri di depanku, mengawasi. Jika dia melakukan hal-hal aneh, aku akan langsung teriak dan memukulnya.

"Kau tampak tidak sedang baik-baik saja. Ada apa?" Pertanyaan Mr. Davis adalah bentuk kepedulian. Tapi entah kenapa aku merasa—saat mendengar nada dan melihat ekspresinya— itu seperti pertanyaan yang sok peduli. Apa aku salah?

Aku menggeleng. "No, Sir. Everything's good," jawabku lalu berdiri dan mengucapkan terima kasih sekali lagi. Aku ingin pergi dari sini secepatnya. Sosok Mr. Davis memang tidak mengintimidasi, tapi aku tetap takut.

MR. ART HIMSELF [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang